Wednesday, March 25, 2020

8 Sikap Warga Negara Berflowers +62 Tanggapi Corona (Covid19)

8 Sikap Warga Negara Berflowers +62 Tanggapi Corona Covid19
Ilustrasi masker sebagai pencegahan. Sumber pixabay.com

Covid19 atau Virus Corona merupakan pandemi yang menyebar dari kota wuhan tiongkok keberbagai belahan dunia lain. Persoalan ini menjadi masalah bersama untuk segera diatasi, karena virus ini telah menyebabkan ribuan orang meregang nyawa akibat mudahnya penularan virus tersebut.

Covid19 ditularkan dari manusia kepada manusia yang dapat melalui sentuhan tangan, terkena cairan yang berasal dari bersin, atau batuk penderita, dan lain-lain. Hal ini mengapa penyebaran virus corona menjadi sangat masiv diberbagai belahan bumi.

Baca Juga: Dilahirkan Manusia Diasuh Social Media

Negara yang tanggap terhadap ancaman serangan virus tersebut akan membuat kebijakan untuk segera mengamankan teritorial kekuasaanya agar meminimalisir penularan wabah tersebut. Namun demikian ada juga negara yang menyepelekan persoalan teraebut, hingga wabah menjadi benar-benar serius.

Berbagai sikap menanggapi dampak corona tersebut juga dialami oleh warga negara berflowers +62 yang terlihat gagap dalam menangani wabah global corona.

8 Sikap Warga Negara Berflowers +62 Tanggapi Corona (Covid19)

Berikut kami rekam 8 Sikap Warga Negara Berflowers +62 Tanggapi Corona (Covid19), cekidot lah;

1 Meremehkan Saat Wabah Telah Meluas

Corona pertama kali muncul di kota wuhan china, otoritas setempat saat mengetahui kasus tersebut akhirnya melakukan langka pencegahan dan penindakan agar wabah tersebut tidak meluas (Lock Down). Walaupun demikian, corona telah membunuh ribuan orang di kota tersebut. Sampai hari ini penyebaran corona di wuhan dapat ditekan hingga tidak lagi ada kasus infeksi baru, tapi sayangnya Corona telah terlanjur menjadi pandemi dan menginfeksi banyak manusia di negara-negara lain.

Banyak negara bereaksi keras dengan melakukan lock down, membatasi kerumunan, bahkan sampai melarang warganya keluar rumah. Tapi tidak demikian yang dilakukan warga berflowers +62, saat wabah mulai meluas, justru warga berflowers +62 membuat kebijakan discount penerbangan keluar negeri, membuka lebar pintu pariwisata dari negara lain, dan sampai menggelontorkan dana besar untuk membayar influenser.

2 Menaikkan Harga Saat Krisis

Warga mulai panik, menyusul banyaknya orang yang positif terinfeksi Covid19, selain itu juga terdapat potensi besar orang yang rentan tertular corona virus. Hal ini membuat banyak orang mencari masker, hand sanitizer, jahe, sereh dan berbagai bahan herbal lainnya untuk tindakan pecegahan.

Kondisi ini justru digunakan para pedagang tidak bertanggung jawab untuk menaikkan harga, serta menimbun barang agar mendapat keuntungan besar. Situasi ini juga membuat para pekerja medis mengeluh karena stok sarung tangan, masker, dan adp langkah dipasaran. Selain itu, disaat dalam negeri membutuhkan masker dan hand sanitizer, justru banyak yang mengekspornya keluar negeri.

3 Warga Berflowers +62 Tidak Takut Covid19

Minimya jaminan sosial untuk warga negara, membuat warga berflowers +62 yang bekerja disektor harian lepas harus tetap bekerja untuk dapat menghidupi keluarganya, hal ini menunjukkan betapa kelompok ekonomi menengah kebawah adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi covid19 karena mereka tidak mampu menyimpan cadangan makanan, akses edukasi, bahkan tidak sempat membeli sebuah masker karena terdesak kebutuhan harian.

Diperon media sosial warga berflowers memberikan pernyataan terkait "kenapa tidak takut Covid 19?", warga memberikan pernyataan sebagai berikut;

  • a Warga yang tidak takut dengan dengan wabah Corona, mengaku karena mereka lebih takut tidak bisa menghidupi keluarga karena kebijakan social distancing (memberi jarak sosial) yang dikeluarkan pemerintah.
  • b Kejaran Dept Colector lebih menakutkan
  • c "Cicilan siapa yang mau bayar?"
  • d Jika tidak karena corona, mungkin karena kelaparan
Tentu pernyataan tersebut tidak elek kita lihat dari sudut pandang salah atau benar, karena "kondisi domestik rumah tangga" merupakan salah satu pendorong untuk mereka melakukan hal-hal tersebut.

5 Warga Berflowers +62 Bersikap Fatalistik

Saat fakta menunjukkan banyak warga yang terinfeksi virus, bahkan sampai ada korban jiwa, justru warga berflowers +62 tidak menghiraukan kebijakan pemerintah untuk menjaga jarak sosial, mereka beranggapan jika kematian sudah ditetapkan oleh Tuhan sehingga manusia tidak mungkin mampu menghindar.

Baca Juga: Menjaga Lingkungan Sebagian dari Iman

Pemikiran ini memang kontrap roduktif dengan kebijakan yang diambil pemerintah, dimana ketika pemerintah memilih untuk mengurangi kerumunan agar meminimalkan penularan virus, mereka justru ingin tetap berkumpul untuk "memakmurkan" masjid.

Warga berflowers +62 bersikukuh bahwa Corona adalah mahluk Allah, sehingga mereka tidak perlu takut. Perilaku ini menuai banyak kritik, bahkan datang dari luar negeri, yang bernada "jangan gunakan agama untuk menutupi kebodohanmu".

6 Berbicara Agama Tanpa Dasar Ilmu Yang Cukup

Belakangan banyak pemuka agama yang muncul tanpa latar belakang keilmuan yang cukup, hanya dibekali dengan kemampuan berorasi, atau ceramah. Hal ini membuat fatwa-fatwanya sering kali justru menyesatkan karena tidak didasari dengan ilmu-ilmu pendukung. Ushul Fiqh, misalnya.

Hal ini membuat umat dibuat kebingungan menyikapi Covid19, karena ikut kebijakan pemerintah takut dosa, ikut "pemuka agama" takut terinfeksi virus. Namun demikian, tidak sedikit pula umat yang tergiur mengikuti para pemuka karena memang telah memiliki pengikut.

7 Terbawa Polarisasi Politik/Pemilu

Pasca PILPRES 2019 lalu, polarisasi politik masih saja terasa begitu kuat, hal ini dapat kita lihat diberbagai laman media sosial yang menunjukkan betapa segala isu strategis selalu diperdebatkan dengan sudut pandang "seakan-akan" masih dalam suasana kemelut pilpres 2019. Selain karena tingkat pendidikan dan kesadaran politik yang masih rendah, persoalan ini juga ditengarai ada pihak yang sengaja memainkan isu SARA sebagai alat untuk meninabobokan pikiran kritis rakyat.

Baca Juga: Problematika Pendidikan di Indonesia

Hal ini juga terjadi saat Covid19 mulai masuk, tidak membuat warga berflowers +62 bersatu untuk menghadapi ancaman virus, justru banyak dari warga saling menghujat dan melemparkan isu kontraproduktif di media sosial.

8 Warga Berflowers +62 Super Ngeyel

Walaupun telah banyak anjuran, bahkan larangan untuk tidak mudik dari wilayah terdampak virus, hal sebaliknya malah terjadi. Banyak dari warga justru mudik dari zona merah/melalui zona merah ke kampung halaman. Bahkan kelompok mahasiswa yang notabene terdidikpun ikut mudik.

Saat sampai dikampung halaman, tidak jarang para pemudik yang diingatkan untuk memeriksakan diri, atau sekedar mengisolasi/ karantina mandiri, justru mereka berkata dengan nada tidak sopan, dan bahkan cenderung meledek.

Hal yang ditakutkan adalah, jika warga yang mudik tidak sengaja terinfeksi selama perjalanan, mereka beresiko untuk menularkan virus kepada masyarakat di kampung halaman masing-masing. Padahal masyarakat desa merupakan masyarakat yang komunal, yang rentan tertular apabila para pemudik ternyata pulang "membawa virus".

Dari delapan sikap warga negara berflowers +62 tersebut dapat kita katakan, betapa pendidikan harus mengambil peran sentral untuk menjernihkan pikiran warga berflowers +62 agar dapat berfikir secara kritis terhadap segala isu terkait harkat hidup bersama.

Demikianlah artikel yang membahas tentang 8 Sikap Warga Negara Berflowers +62 Tanggapi Corona (Covid19) yang baru-baru ini menyerang dunia. Diperlukan kerjasa antar warga negara, dan warga dunia untuk saling membahu mengatasi pandemi yang telah mewabah, dan mengancam seluruh dunia tersebut.

Bagaimana menurutmu, apakah penangan Covid19 sudah memuaskan diwilayahmu?

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 10:53 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..