Thursday, February 20, 2020

Perjalanan Takterlupakan Menikmati Keindahan Kawah Gunung Ijen

Verbal.id - Perjalanan Takterlupakan Menikmati Keindahan Kawah Gunung Ijen. Pernah dengar istilh "blue fire"?. Ya rasanya sudah tak asing lagi ditelinga kita, apa lagi kita yang rajin di dapur, kita langsung akan teringat api biru yang dihasilkan kompor gas saat memasak mie instan, atau tatkala ingin menyeduh kopi hitam yang selalu dirindukan aroma khasnya.

Didunia traveler, jika kita mendengar blue fire, kita akan langsung mengasumsikan api biru di kawah gunung ijen, yang kondang di banyuwangi. Walaupun sebenarnya itu bukan api sungguhan, namun jika diamati secara kasat mata maupun menggunakan kamera memang nampak seperti blue fire yang berkobar-kobar didasar kawah gunung ijen.

Kawah gunung ijen merupakan salah satu destinasi wisata yang ditawarkan kota banyuwangi, yang tidak hanya dikunjungi oleh turis lokal, banyak turis mancanegara yang juga tertarik untuk mendaki gunung ijen dan menikmati keindahannya, dan jika beruntung kita akan dapat menyaksikan secara langsung blue fire yang kabarnya sangat indah jika disaksikan secara langsung.

Kabar itulah yang membuat kami ingin merasakan sensasi keindahan kawah gunung ijen. Kami adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan tugas Kuliah Kerja Nyata sebagai seorang pendidik di MTsN Wonorejo pasuruan, kota yang saat itu terasa sangat panas, beruntung ada minimarket, dan ruang mesin atm yang AC-nya mampu mendinginkan gerah selepas mengajar anak-anak yang penuh semangat di sekolah.

Dalam tugas ini, kami diberikan kelompok antar jurusan, sehingga banyak dari mereka yang belum pernah aku kenal sebelumnya, untungnya mereka semua adalah orang yang mudah bergaul dan menyesuaikan dir, sehingga tidak banyak masalah internal kelompok yang dapat menggangu aktifitas kami sebagai seorang guru magang.

Baca juga: Budaya Gotong Royong di Lamongan

Selama KKN di sana, kami selalu makan dari masakan seorang chef yang sangat terkenal diseantero tim KKN, (Wkwk). Sebut saja windi, seorang gadis tangguh yang sering berbau minyak angin diselah-selah istirahat dari rutinitas mengajar.

Parkiran ijen, setelah mendaki
Selain itu ada juga Imam, Fahrin, Mila, Aisyah, Ulyah, Septi, Umiati, dan aku sendiri yang saat itu terpilih secara aklamasi sebagai ketua kelompok yang anggotanya super banyak keceriaanya ini. kami mengisi waktu luang disela kesibukan sebagai guru, menyusun laporan, merencanakan pembelajaran dan seterusnya, kami sering bermain kartu, bermain tantangan, bersenda gurau dan banyak lagi hal yang lainnya. Salah satu hal yang tidak bisa aku lupakan sampai hari ini adalah ketika kami hendak makan dikontrakan dimana cewe-cewe solehah itu tinggal, dan saat kami datang, mereka langsung berhamburan disertai dengan jeritan yang super gaduh, yang hanya untuk mengambil kerudung, (anak sholehah, rambutnya g boleh kelihatan sama yang bukan murim).

Maklum saja, Aku dan Imam memang selalu datang tak dijemput, pulang juga tak diantar.

Perjalanan Menuju Kaki Gunung Ijen

Setelah 2 (dua) bulan melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata, Aisyah dan teman-teman yang lain memiliki rencana untuk berlibur kebeberapa tempat di banyuwangi, dan salah satunya adalah gunung ijen. Dan sialnya, sebagai ketua kelompok yang kalah suara, aku harus menyetujui ide tersebut. Dalam perjalanan ini, dua teman kami dari kelompok lain akhirnya bergabung, yaitu Ani', serta Rojiq seorang baik hati yang rela menjadi tour guide dan supir pribadi kami.

Perjalanan ini dimulai dari Desa Wonorejo-Pasutuan, kami bergegas mengemasi perlengkapan berlibur ala kadarnya, yang segera masuk dalam mobil sewaan dari Malang, kota dimana kami sedang menyelesaikan studi S1.

Tepat pukul 18.17 pedal gas mulai diinjak oleh pak ojiq, panggilan akrab dari Rojiq, berhasil melesatkan rombongan menuju banyuwangi. Sepanjang perjalanan tampak beberapa teman tertidur pulas, perjalanan malam memang terasa melelahkan, beruntung stamina sopir kami sudah teruji, saat waktu menunjukkan pukul 02:30 kamipun sampai dengan selamat di parkiran kawah gunung ijen, selanjutnya tim harus berjalan kaki untuk sampai di pemandangan yang telah didambahkan.

Jalan Setapak Kawah Gunung

Perjalanak setapak kami mulai dengan ditemani guyuran gerimis yang membuat suasana semakin dingin, akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan jas hujan yang terbuat dari plastik, walaupun harganya tidak mahal, jas hujan tersebut berhasil mengangatkan badan yang sempat menggigil.

Baca Juga: Bunga Sakura UIN Malang Mekar Kembali

Memulai pendakian
Bagi seorang pendaki, kawah gunung ijen bukanlah persoalan besar untuk dilalui, namun bagi mahasiswa sepertiku yang belum pernah naik gunung sebelumnya, medan pendakian menuju kawah ijen sudah sangat merepotkan, ditambah dengan kabut belerang yang membuat pernafasan terasa kesulitan.

Kawah gunung ijen terkenal memiliki belerang yang melimpah, hal ini membuat setiap orang yang mendaki terlihat memakai masker, ada yang hanya menggunakan masker standar, seutas kain, dan bahkan ada yang terlihat menggunakan masker safety yang biasa digunakan para petugas pemadam kebakaran.

Medan pendakian gunung ijen memang menanjak, sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk melaluinya, ya setidaknya bagiku yang tidak pernah mendaki gunung sebelumnya. Beruntung teman-teman yang selalu memberikan suport membuat aku tetap memiliki tekat untuk menyelesaikan pendakian yang hanya berjarak sekitar 3 Km ini.

Ditengah kelelahan menyusuri jalur pendakian yang terus diguyur gerimis, keberuntungan lagi-lagi menghampiri, terdapat satu gubuk untuk peristirahatan. Menurut para penambang belerang, jika sudah sampai gubuk tersebut, kita telah sampai ditengah perjalanan, berarti tinggal setengah pendakian lagi kita akan sampai di kawah gunung ijen yang kondang dengan blue firenya.

Prjalanan takterlupakan menikmati keindahan kawah gunung ijen
Momen ketika beristirahat
Kamipun memutuskan untuk beristirahat, menghela nafas dan tentu mengabadikan momen pendakian bersama yang mungkin tak akan pernah aku lupakan. Sedikit selfi dan grufi mengusir kedinginan sejenak.

Pemandangan yang sangat menarik berhasil kami abadikan menggunakan kamera polsel seadanya. Nampak pemandangan seperti pohon-pohon yang sudah tak berdaun, diselimuti kabut tebal berwarna putih, layaknya sebuah pemandangan yang has disebuah wilayah bersalju. Yaa, Semoga itu bukan hanya hayalanku saja.

Ditempat ini aku banyak menyaksikan para penambang tradisional yang menimbang belerang yang didapatkan dari dasar kawah. Jarum timbangan menunjukkan angka 70 kg, angka yang cukup besar yang harus mereka pikul menuruni gunung yang terbilang cukup curam, sungguh mereka adalah para pejuang yang tangguh.

Kami melanjutkan perjalanan, masih ditemani gerimis yang membuat suasana semakin dingin, bahkan airnya terasa seperti air es. Akupun kembali memakai jas hujan plastik, badan terasa sedikit lebih hangat kembali.

Akibat gerimis yang tak kunjung selesai membuat asap belerang tidak mampu naik ke atas, hal ini membuat jarak pandang semakin buruk, hanya sekitar kurang dari 2 meter saja.

Fisikku sudah terasa srmakin lemah, aroma belerang yang sangat menyengat dan kadar oksigen yang semakin menipis membuat aku sedikit kusilitan dalam bernafas. Sejenak aku berhenti untuk menghela nafas, dan selanjutnya berjuang melalui jalan setapak mengimbangi tenaga teman-teman yang terlihat masih sangat kuat. Aku sebenarnya memang tidak suka naik gunung, karena hal semacam ini. Bahkan di gunung paralayang kota batu yang dapat dijangkau oleh kendaraan bermotor sekalipun, aku sudah menggigil karena kedinginan.

Dijalan setapak ini, kami harus benar-benar hati-hati, karena jika salah melangkah, kita akan terjerumus kedalam jurang yang tak terlihat dasarnya akibat asap belerang yang amat pekat. Walaupun demikian, para pengunjung terlihat sangat antusias, hilir mudik melewati jalan setapak. Sesekali kami harus memiringkan badan, bergantian lewat ketika berpapasan dengan pendaki yang hendak turun.

Tak lama kemudian kami telah sampai di puncak gunung ijen, selangkah lagi akan sampai di kawah gunung. Namun kabut pekat, jarak pandang yang terbatas ditambah aroma belerang yang amat menyengat, sehingga tidak memungkinkan menuruni kawah gunung.

Badanku yang sudah semakin lemah akhirnya memutuskan untuk tidak turun ke dasar kawah, namun beberapa teman yang masih memiliki tenaga "bagai kuda" memaksakan diri untuk turun berharap melihat blue fire, sayangnya alam sedang tidak berkehendak, mereka hanya melihat hamparan kabut dan asap tebal disertai bau belerang yang sangat menyengat semata.

Dalam suasana kabut pekat dan asap belerang yang cukup menyengat tersebut, para penambang belerang bahkan tidak memakai masker, mereka hanya mengandalkan baju yang mereka pakai untuk melindungi pernafasan, dan saat mengambil bongkahan belerang, mereka terlihat menggit kain/baju tersebut. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh sembarang orang.

Turun Gunung

Gagal melihat blue fire, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu sebentar sambil beristirahat melihat danau cantik yang terbentuk dikawah ijen. Pemandangan yang sedikit mengecewakan bagi mereka yang mendaki hanya untuk melihat kejadian alam api biru di kawah gunung ijen.

Jarum menunjukkan pukul 07:00, kami memutuskan untuk turun gunung, menyusuri jalan setapak yang memiliki kemiringan cukup menyulitkan. Perjalanan turun tak lebih mudah dari perjalanan naik, bagiku.

Kami mungkin gagal melihat penampakan api biru yang sangat kondang diseantero pencinta gunung, namun kami telah berhasil saling memotivasi, saling mendorong untuk maju, dan serta membawa pulang rasa persahabatan yang semakin dekat.

Pendaki gunung banyak bercerita, bahwa karakter asli seseorang dapat dilihat saat mendaki gunung. Jika itu benar, maka aku telah melihat bagaimana Rojiq, Imam, Aisyah, Fahrin, Windi, Ani', dan mila adalah teman-teman yang setia kawan, dan selalu memberikan dorongan untuk sahabatnya agar lebih kuat, dan mampu menghadapi aral kehidupan yang mungkin menanti didalam perjalanan panjang kehidupan.

Baca Juga: Ditengah Himpitan Agama Impor

Setelah sampai di kaki gunung, kami akhirnya berganti pakaian yang telah basah diguyur gerimis selama perjalanan. Selanjutnya kami meneruskan perjalan ke pulau merah (red island) yang masih berada di kota banyuwangi.

Tulisan perjalanan takterlupakan menikmati keindahan kawah ijen banyuwangi ini hanya untuk mengabadikan kenangan semasa kuliah. Aku minta maaf kepada teman-teman yang telah nyasar dan terpaksa harus membaca tulisan ini. Semoga kalian mendapati tulisan lain yang lebih berfaedah..hehe

Sumber Gambar: @hamid baskoro rezpect

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:20 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..