Sunday, September 29, 2019

Saat Gerakan Pelajar Dipandang Sebelah Mata

Aksi yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk diantaranya adalah mahasiswa, buruh, petani, berbagai aliansi, dan tidak ketinggalan para pelajar, beberapa hari terahir merupakan aksi untuk menolak beberapa pasal dalam RKUHP, menolak UU KPK, RUU Pertanahan, Pemasyarakatan dan lain-lain. Namun belakangan muncul banyak komentar terkait keikut-sertaan para generasi milenial yang dipandang sebelah mata, karena dianggap tidak kopenten dalam melakukan aksi gerakan menyuarakan aspirasi.

Berbagai demo tersebut merupakan jawaban dari kegilisahan orang tua, pemerhati pendidikan dan berbagai kalangan yang beranggapan bahwa generasi muda saat ini telah dibui oleh kecanggihan gadget, ada juga yang berasumsi bahwa generasi milenial merupakan generasi menunduk, karena lebih banyak melihar layar gawai dari pada belajar, atau melihat realitas, dan berbagai stigma negative lainnya. Stigma negatif tersebut telah dibayar lunas dengan berbagai aksi perjuangan pelajar ikut menyuarakan aspirasi masyarakat.

Saat Gerakan Pelajar Dipandang Sebelah Mata
Ilustrasi Demo Pelajar Menolak RKUHP
Namun berita yang banyak mencuat di media, menyebutkan bahwa gerakan pelajar sengaja dimobilisasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tentu hal ini harus kita pertanyakan, karena banyak dari berbagai komentar negatif dari pergerakan pelajar dalam berbagai gelombang demo penolakan tersebut seperti sengaja digulirkan untuk menggembosi gerakan.

Apakah benar gerakan gelombang demo akhir-akhir ini ditunggangi?

Dalam gerakan, pasti akan ada yang diuntungkan, namun hal ini tidak cukup kuat untuk dijadikan dalih bahwa aksi berbagai aliansi tersebut telah ditunggangi oleh kepentingan politik, bahkan ada yang menyebut bahwa gerakan tersebut mengarah pada penggagalan pelantikan presiden.
Baca Juga: Peran Masayarakat Dalam Mencegah Korupsi Dana Desa
Tuduhan-tuduhan seperti itu, patut kita duga hanya dilontarkan oleh oknum yang kurang minum air putih, sehingga omongannya agak ngelantur.

Saya ingin berasumsi, bahwa mahasiswa adalah kelompok yang kritis dan mampu menganalisa suatu persoalan, dimana mahasiswa dituntut untuk membuat karya ilmiah sebagai prasarat lulus dari perguruan tinggi. Dalam suatu kasus, ternyata terdapat seorang rektor yang terlibat kasus plagiasi dalam karya ilmiahnya. Hal ini tentu mengusik para mahasiswa untuk melakukan demo menuntut mundurnya sang rektor.

Pertanyaannya adalah apakah ada yang diuntungkan dari aksi tersebut? Apakah aksi tersebut ditunggangi penumpang gelap?

Pertanyaan yang pertama dapat kita jawab “ya”, karena dengan lengsernya rektor berarti ada kesempatan bagi dosen lain untuk naik sebagai rektor. dan bagaimana dengan pertanyaan kedua?

Aksi tersebut hanya persoalan kegelisahan mahasiswa karena ada ketidak adilan, dimana mahasiswa tidak diperbolehkan plagiasi, sementara terdapat rektor yang melakukan plagiasi didiamkan saja. Adapun adanya kelompok yang diuntungkan tersebut adalah dampak tidak langsung, yang tidak terdapat dalam agenda perjuangan.

Hal semacam ini juga terjadi dalam aksi gelombang demo beberapa hari ini. Adanya kelompok yang diuntungkan atas aksi tidak langsung dapat menjustifikasi bahwa aksi tersebut diagendakan untuk mendukung golongan tertentu.

Gerakan pelajar dimobilisasi?

Ada banyak hal yang kita lupakan soal pelajar, diantaranya adalah mereka merupakan “golongan terdidik” yang setidaknya mampu merasakan gejolak sosial yang terjadi dilingkungan sekitarnya, selain itu dalam kurikulum mereka juga diajarkan seputar kewarganegaraan, dan ilmu sosial yang disajikan dalam pembelajaran IPS, PKN, Ekonomi, dan lain-lain.
Baca Juga: Membentuk Karakter Cinta Tanah Air di Sekolah
Oleh sebab itu, wajar saja jika pelajar memiliki kegelisahan tersendiri seputar persoalan kebangsaan dan kewarganegaraan. Justru gerakan pelajar saat ini perlu kita apresiasi karena ternyata mereka tidak hanya sibuk dengan dunianya sendiri, dan ditenggelamkan oleh gadget serta internet. Bahkan sebagaimana yang dilansir tirto.id, bahwa terdapat lulusan STM yang meretas situs mendagri. Sebagai persoalan hokum memang mungkin terdapat masalah, namun jika kita lihat dari sudut pandang yang lain, maka dapat kita maknai sebagai bukti kemampuan anak STM tidak dapat dipandang sebelah mata.

Namun demikian, kita patut memberikan pemahaman yang komprehensif atas kepedulian sosial yang mereka miliki, sehingga tidak mudah dimobilisasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dikemudian hari.

Ketika Gerakan Pelajar Direndahkan!

Hak berbicara, dijamin oleh undang-undang sehingga siapapun boleh berbicara, bahkan demo sebagaimana yang dilakukan oleh para pelajar.

berbagai kalangan yang menanyakan kopetensi para pelajar dalam melakukan aksi saya kira kurang belajar sejarah. Gerakan pelajar telah ada sejak zaman dulu, seperti yang dilakukan oleh Bung Hatta yang telah melakukan perjuangan bahkan ketika baru berusia 6 tahun.
Baca Juga: Gerakan Sosial Baru
Dimasa melenial ini, gerakan pelajar juga dapat kita lihat ketika sekelompok anak SMA membongkar kasus korupsi yang melibatkan guru dan kepala sekolahnya, demo karena pungli, dan siswa yang berani melaporkan kepala sekolah karena korupsi, dan lain-lain.

Hal-hal semacam ini telah luput dari pandangan kita, sehingga memandang sebelah mata gerakan pelajar, bahkan aksi pelajar tersebut banyak dikerdilkan dengan frasa “ditungganggi”. Tuduhan semacam ini hanyalah bentuk penghianatan terhadap kecerdasan, dan kemampuan para pelajar.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 9:32 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..