Sunday, September 22, 2019

Dibalik Tradisi Nyumbang Di Pesta Pernikahan

Pesta pernikahan adalah gelaran hajat yang jamak dilakukan manusia diberbagai belahan dunia, mulai dari yang masih hidup dengan gaya primitif maupun yang telah hidup dengan gaya modern mereka semua melakukan suatu tradisi pesta untuk merayakan ataupun mensyukuri telah mendapat kesempatan untuk melaksanakan pernikahan. Ketika hajatan pernikahan itu diselenggarakan umumnya para tamu undangan akan memberikan buah tangan dalam berbagai bentuk, dalam tradisi masyarakat Indonesia, atau khususnya masyarakat jawa tradisi memberikan buah tangan pada mempelai/keluarganya disebut sebagai “Nyumbang” atau dalam Bahasa yang lain disebut dengan kata “BUWO”.

Nyumbang atau buwo tidak hanya berupa uang, namun sering ditemukan juga berupa beras, gula, dan berbagai barang lain yang dianggap berharga dalam tradisi masyarakat setempat dimana hajatan itu dilaksanakan. khusus untuk para penyumbang yang menggunakan uang, disediakan kotak khusus yang umumnya diletakkan di depan pintu masuk, lengkap dengan daftar para tamu yang datang. Meski demikian, banyak dari kita yang memilih untuk menyerahkan sumbangan pada mempelai langsung untuk memastikan sumbangan kita tidak nyasar kepada orang tua mempelai.

Sebagai suatu yang normal dilaksanakan tiap ada hajatan pernikahan, nyumbang menyisahkan banyak persoalan, karena meskipun dilabeli dengan sebutan “nyumbang” dengar arti sesuangguhnya sebagai sesuatu yang dilakukan tampa pamrih, namun pada prakteknya para penyumbang, maupun orang yang menerima sumbangan dalam pesta pernikahan tidak benar-benar menganggapnya sebagai pemberian yang tidak diminta balasannya.
Baca Juga: Faktor Yang Menyebabkan Milenial Kebelet Nikah
Oleh sebab itu, percaya atau tidak, setiap keluarga yang telah melaksanakan hajatan pesta pernikahan akan memiliki sebuah catatan khusus, dimana di sana akan tertulis siapa saja yang telah “beramal baik” pada hajatan mereka. Catatan amal baik tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk membalas “amal baik” yang mereka terima.

Hal ini akhirnya digunakan sebagai alasan pentingnya menuliskan nama pada amplop –baca: berisi uang- setiap sumbangan yang diberikan, selain untuk menghindari miskomunikasi, juga sebagai tanda bahwa kita telah hadir dalam resepsi tersebut.

Dibalik Tradisi Nyumbang Di Pesta Pernikahan
Ilustrasi Pesta Pernikahan. Sumber Gambar: Pixabay.com
Dalam suatu pertanyaan yang saya lemparkan kepada seorang yang baru saja menikah, mana yang lebih penting?, “Orang datang diresepsi tanpa amplop”, atau “orangnya tidak datang dirsesepsi namun amplopnya datang?”. Banyak dari mereka menganggap bahwa datangnya amplop lebih penting dari pada orangnya. Mereka menganggap jika orang datang tanpa amplop maka mereka akan merugi, dan sebaliknya jika amplop datang maka mereka akan untung, atau setidaknya tidak merasa merugi.

Dari sini, walaupun survey tersebut jauh dari kata akademis, yang tidak mempertimbangkan keabsahan data, dapat kita pahami suasana kebatinan mereka, bahwa dibalik nyumbang di pesta pernikahan, terdapat hitungan matematisnya. Tapi sebagai catatan!, Artikel ini tidak berusaha untuk menjustifikasi setiap orang.

Ada Apa Dibalik Tradisi Nyumbang Di Pesta Pernikahan?

Dibalik tradisi nyumbang dalam pesta pernikahan tidak hanya persoalan matematis belaka, masih ada alasan lain kenapa seseorang menyumbang dalam pesta pernikahan yang mereka hadiri, setidaknya dapat diuraikan sebagai berikut;

1. Membatu Shohibul Hajat –Penghajat-

Sebelum akhirnya mengalami pembelokan arti dan maknanya, menyumbang dalam pesta pernikahan merupakan sesuatu yang ikhlas dilakukan orang untuk membantu keluarga yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan, hal ini dilakukan karna pesta pernikahan umumnya membutuhkan dana yang cukup besar, sedangkan tidak semua keluarga memiliki kekuatan ekonomi yang cukup.
Baca Juga: Pengertian Budaya, Lokal Fungsi dan Contohnya
Bahkan beberapa dari mereka memilih untuk beruhutang agar dapat melaksankan resepsi/pesta pernikahan.

2. Investasi Dimasa Depan

Bagi mereka yang belum pernah melaksanakan pesta pernikahan, nyumbang dijadikan sebagai wahana untuk berinvestasi –nabung- untuk masa depan, hal ini karena mereka tahu betul bahwa sumbangan yang mereka berikan kepada mempelai akan dikembalikan ketika mereka melaksanakan pesta serupa.

3. Timbal Balik

Untuk mereka yang telah melaksanakan pesta pernikahan, maka menyumbang merupakan konsekuensi, atau timbal balik dari kebaikan yang telah mereka terima sebelumnya pada pesta mereka, sehingga harus mengembalikan “amal baik” tersebut kepada mereka yang akan melaksanakan pesta pernikahan.

4. Moral

Walaupun terdapat masyarakat yang menganggap nyumbang dalam pesta pernikahan merupakan sesuatu yang terdapat hitungan matematis didalamnya, maka orang ini tidak berpandangan serupa dengan mereka, karena orang ini lebih melihat nyumbang sebagai suatu yang berkaitan dengan moral, sehingga jika mereka tidak menyumbang akan ada perasaan bersalah, dan atau sebagainya.

5. Inntrnalisasi Nilai

Sebagai sebuah nilai yang dianut oleh masyarakat, maka nilai tersebut akan berusaha disosialisasikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya, hal ini berarti kegiatan menyumbang pada hajatan pesta pernikahan akan berusaha diwariskan oleh generasi tua, kepada generasi muda.

Sedangkan generasi muda sebagai anggota kelompok masyarakat akan berusaha menginternalisasikan nilai tersebut agar dapat diterima dalam kelompok sosialnya. Sekema ini akan terus dilanjutkan hingga akan tetap bertahan sebagai suatu tatanan nilai, atau akan hilang ketika masyarakat menganggapnya sudah tidak penting lagi.

Apa Yang Salah Dibalik Nyumbang Pada Pesta Pernikahan?

Tidak ada yang salah dalam perbuatan baik tersebut, sebagaimana kita tahu bahwa dalam ajaran islam kita mengenal suatu konsep, dimana pada tataran niat, niat baik akan mendapatkan 1 pahala dari Tuahan, sedangkan mereka yang dapat melaksanakan niat baik tersebut akan mendapatkan 2 pahala.

Namun demikian, nyumbang dalam resepsi pernikahan kadang masih menyisahkan permasalahan, karena kadang hajatan dilaksanakan pada waktu yang kurang tepat, maupun adanya standart yang ditetapkan.

  1. Standart Nominal. Walaupun tidak tertulis dengan jelas, nominal yang harus disumbangkan seseorang seolah ada standartnya, dimana itu mengatur seseorang untuk menyumbang dengan nominal tertentu. Hal ini jelas akan menyulitkan bagi mereka yang berkocek dangkal, niat mau berbuat baik tapi justru akan menjadi bahan bully-an ketika tidak dilakuakan dengan standart nominal tertentu.
  2. Dianggap Sebagai Hutang. Sumbangan yang diterima merupakan hutang yang harus dibayar dimasa depan. Hal ini berarti sumbangan tersebut bukanlah pemberian suka-rela, oleh karena itu, jika seseorang tidak bisa membayar “sumbangan tersebut”, maka itu dianggap sebagai dosa sosial.
  3. Kesejahteraan Tidak Merata. Kesejahteraan merupakan persoalan pokok dalam hubungan sosial ini, karena orang yang diundang kadang tidak memiliki kesejahteraan yang cukup untuk dapat memberikan sumbangan, yang berarti walaupun seseorang tersebut hadir dalam pesta pernikahan, jika tidak memberika sumbangan, maka sama nilainya dengan tidak hadir. Yang selanjutnya orang-orang dengan topangan ekonomi di bawah rata-rata akan tersingkir dari komunitas tersebut.

Dari urian tersebut, maka seyognyanya kita sebagai tuan rumah dalam pesta pernikahan tersebut seyogyanya dapat memberikan maklum pada mereka yang tidak nyumbang dalam acara kita, dan tetap menjamunya sebagaimana tamu yang lain, karena kita harus menghargai perjuangan, dan pengorbanan setiap orang untuk dapat menghadiri pesta yang kita selenggarakan.
Baca Juga: Tradisi Unik di Lamongan Wanitahlah Yang Melamar Laki-Laki
Demikianlah sekelumit persoalan dibalik tradisi nyumbang di pesta pernikahan. Bagaimana menurut sodara, adakah jalan keluar lain dari persoalan sumbangan tersebut?

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 8:33 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..