Wednesday, August 28, 2019

Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda

Sebelum masa kemerdekaan, Indonesia masih terjerat oleh imperialisme barat dengan jarak waktu yang relatif sangat lama. Hal ini banyak mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan bangsa Indonesia pada saat itu. kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan sangat terpuruk akibat adanya kerja paksa, pengekangan, pengintimidasian, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap masyarakat Indonesia, hal ini berakibat pada buruknya kondisi masyarakat yang selanjutnya dapat memicu kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit dari penindasan pada masa penjajahan Belanda.

Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda

Indonesia melakukan perlawanan dengan berbagai cara baik gerilya, perang terbuka, dan berbagai siasat perjuangan. Berikut ini akan dijelaskan bagaimana kondisi bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Sebagai berikut;

1. Pengaruh Monopoli dalam Perdagangan

Pada mulanya bangsa belanda datang di Indonesia dengan niat berdagang, namun semakin hari perkumpulan pedagang dari belanda atau VOC terus mencekram kekuasaan dari raja-raja pada saat itu. VOC dengan berbagai muslihatnya mendapatkan keistimewaan dari raja-raja saat itu, bahkan mereka memonopoli perdagangan dari komoditas yang ditanam oleh bangsa Indonesia. Tidak berhenti sampai persoalan perdagangan saja, VOC juga terus berusaha mendapatkan power diwilayah politik dan pemerintahan, hingga terjadilah apa yang kita sebut sebagai Penjajahan.

Baca Juga: Peranan Pers Dalam Masyarakat Demokrasi

Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC terhadap bangsa Indonesia membuat masyarakat hidup semakin menderita, karena monopoli perdagangan membuat masyarakat hanya dibolehkan untuk menjual barang-barang hasil panennya kepada VOC, hal ini membuat harga barang semakin rendah, karena tidak terjadi persaingan perdagangan.

Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda
Ilustrasi Indonesia di Bawah Imperialisme Belanda. Sumber Gambar Wikipedia
Dengan harga hasil panen yang semakin mencekik para petani, maka kehidupan petani semakin sulit, dan hidup dibawah standar kehidupan saat itu. Hal ini memicu kebncian, dan perlawanan rakyat Indonesia untuk lepas dari jeratan para penjajah.

2. Pengaruh Kebijakan Kerja Paksa

Setelah mendapatkan kekuasaan pemerintahan, Belanda terus memperkuat sistem pemerintahannya dengan membangun kekuatan militer. Militer digunakan untuk memperpanjang kekuasaan belanda pada saat itu, sehingga dapat meminimalisir perlawanan dari bangsa pribumi.

Pada masa Rodi, atau kerja paksa bangsa Indonesia dipekerjakan diberbagai bidang baik untuk membangun jalan, pertambangan, perkebunan dan lain-lain. Masyarakat dipekerjakan dengan tidak memberi upah yang sepadan, bahkan tidak diberikan makan. Kebijakan kerja rodi ini membuat masyarakat hidup melarat, bahkan kelaparan, dan banyak diantara mereka tewas mengenaskan, baik karena terserang penyakit maupun karena kelaparan.

Bentuk kerja paksa yang sampai saat ini masih dapat kita saksikan jejaknya adalah kerja paksa untuk pembangunan jalan raya deandles, dari Anyer sampai Panarukan yang kurang lebih berkisar panjangnya 1000 kilo meter. Jalur ini dibangun untuk kebutuhan pertahanan militer, dan efisiensi jalur angkut barang/komoditas untuk diekspor keluar negeri.

3. Sistem Sewa Tanah

Sistem sewa tanah diberlakukan pada masa gubernur Thomas Stamford Raffles. Dalam kebijakan tersebut, semua petani diharuskan untuk membayar sewa tanah, walaupun tanah adalah milik para petani sendiri, namun mereka diharuskan untuk tetap membayar pajak. Dan bagi rakyat yang tidak memiliki tanah, mereka akan dikenakan pajak kepala.

Baca Juga: Faktor Proses Dan Syarat Terbentuknya Integrasi Sosial

Pembayaran pajak tanah diatur harus menggunakan uang tunai, sementara besaran pajak yang harus dibayar bergantung pada kualitas tanah dan luas yang dimiliki para petani.

Setelah peraturan tersebut dijalankan, akhirnya kebijakan tersebut menuai kegagalan, karena di wilayah pedesaan, masyarakat masih belum mengenal sistem uang. Selain itu, kegagalan system sewah tanah juga dipengaruhi oleh sulitnya menentukan luas dan kualitas tanah yang dimiliki oleh para petani, dan dilain sisi, pada saat itu juga kekurangan pegawai.

4. Pengaruh Sistem Tanam Paksa

Kebijakan tanam paksa diambil karena pada saat itu belanda mengalami banyak pertempuran, di jawa belanda mendapat perlawanan, yang banyak dikenal sebagai perang Diponegoro. Selain di Indonesia, belanda juga mengalami perang Eropa, yang membuat Belanda membutuhkan banyak biaya.

Keadaan belanda tersebut akhirnya belanda memberlakukan system tanam paksa, dimana pada saat itu banyak petani yang diwajibkan untuk menanam komoditas ekspor untu kepentingan Belanda kerugian perang dapatdi tutupi.

Tanam paksa sangat membebani bagi bangsa Indonesia pada masa itu, selain karena memang dalam situasi penjajahan, sistem tanam paksa juga banyak diselewengkan oleh para pegawai, dimana mereka tidak melaksanakan kesepakatan yang ada sehingga banyak hasil pertanian masyarakat yang tidak dibayarkan.

Kebijakan ini banyak menerima perlawanan baik dari bangsa Indonesia maupun oleh warga belanda sendiri. Adanya desakan dari berbagai pihak ahirnya kebijakan tanam paksa dihentikan.

5. Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme

Belanda melancarkan politik adu domba untuk mendapatkan simpati dari kerajaan yang dibela, selanjutnya belanda meminta perjanjian sebagai imbalan atas bantuannya. Perjanjian tersebut biasanya berupa permintaan untuk mendirikan benteng pertahanan, dan penguasaan terhadap perdagangan suatu komoditi –monopoli perdagangan-.

Intrik yang dilakukan belanda akhirnya mendapat perlawanan dari masyarakat pribumi. Diantara perang yang paling terkenal yang dilakukan bangsa pribumi dengan belanda adalah perang mataram. Dimana sultan agung memerintahkan untuk perang melawan belanda di Batavia, namun dalam perang tersebut mataram mengalami kekalahan yang cukup besar. Selain perlawanan mataram, perlawanan juga banyak dilakukan oleh kerajaan-kerajaan lain seperti Tidore, Aceh, Goa, dan lain-lain. Pada periode selanjutnya penyerangan terhadap belanda juga banyak terjadi diberbagai wilayah seperti ambon, sumatera barat, sumatera utara, dan lain-lain.

Baca Juga: Peran Dan Fungsi Keragaman Budaya di Indonesia

Setelah masa kerajaan, hampir tidak ada lagi perlawanan terhadap pemerintahan belanda, sampai ahirnya terjadi perlawanan dagang dari serikat dagang islam yang menjadi gerakan besar, selanjutnya menjadi Sarikat Islam yang terus melakukan perlawanan terhadap belanda. Berdirinya Sarikat Islam sukses dibidani seorang tokoh besar bernama H.O.S Cokro Aminoto yang memiliki tiga pengikut yang besar kita kenal sebagai pendiri PKI, Pendiri Negara Islam Indonesia, dan tentu sang proklamator Republik Indonesia.

Demikian artikel tentang kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan bangsa belanda. Dari uraian singkat tersebut di atas dapat kita pahami, betapa penjajahan sangat menyengsarakan bangsa Indonesia, yang akhirnya mereka dapat bangkit dari penjajahan, karena adanya perasaan senasib dan seperjuangan, dan akhirnya kita mampu melawan penjajahan dan merdeka sebagai bangsa.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 2:40 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..