Sunday, May 26, 2019

Pola Asuh Anak, Hindari perilaku ini

Bagai mana cara pola mengasuh anak yang baik? Cara mengasuh anak adalah pekerjaan orang tua, karena mereka memiliki banyak pengalaman, asam manis dalam mengasuh anak sudah mereka rasakan, ditambah dengan berbagai pengalaman yang diturunkan secara turun-temurun membuat para orang tua merasa bahwa pola asuhnya adalah yang paling benar. Setidaknya inilah perasaan yang dirasakan para orang tua/mertua dalam mengasuh anak, yang tidak disadari justru pola ini adalah polah asuh yang salah.

Zaman sudah berubah. Dahulu satu-satunya informasi tentang cara mengasuh anak adalah dari orang tua, bagaimana orang tua dulu mengasuh diturunkan begitu saja tanpa ada referensi tambahan, kalaupun ada hanya sebatas pengamatan lingkungan, dan cerita-cerita dari lingkungan.

Walaupun sekarang sudah banyak sumber informasi yang dapat digunakan orang tua (muda) sebagai referensi dalam mengasuh anak, tidak jarang mereka justru mewarisi apa yang telah diajarkan pendahulu mereka dengan turun-temurun, karna dianggap sebagai suatu ajaran yang sudah teruji, berlangsung dengan tempo waktu yang sangat lama.

Baca Juga: Kosumerisme di Bulan Ramadhan

Permasalahan timbul bukan saja karena tingkat literasi orang tua (muda) yang kurang, namun juga disebabkan oleh kolotnya orang tua (kakek/nenek) dalam mewariskan polah asuh.

Pola Asuh Anak Hindari perilaku ini
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Berikut adalah pola asuh turun-temurun yang tidak disadari akan menyebabkan anak tertekan dan perkembangan emosinya terganggu;

1. Membentak

Membentak adalah salah satu cara para orang tua untuk mengendalikan atau mengarahkan perilaku anak. Biasanya para orang tua akan melakukan hal ini pada saat anak melakukan hal-hal yang dilakukan anak tidak sesuai dengan harapan orang tua. Seperti ketika tidak mau belajar, tidak melaksanakan perintah orang tua, dan perilakunya tidak sesuai dengan selera orang tua.

Sekali, dua kali, polah asuh ini akan menjadi kebiasaan dan akan terus diulang tanpa menyadari dampak negatifnya sang buah hati.

Pada kenyataannya, anak yang dibentak-bentak, tidak hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya, mereka justru akan membalas dengan cara yang sama pula. Dan cara mengasuh seperti ini akan membuat anak lebih sensitif, dan mudah marah. Dan selanjutnya akan diluapkan kepada teman dan lingkungan sekelilingnya.

Karena pada dasarnya, anak memiliki kecenderungan untuk menirukan (mengimitasi) hal-hal apa saja yang mereka lihat, dan mereka alami.

2. Memukul

Memukul memang dapat menghentikan perilaku anak yang tidak diinginkan orang tuanya, dengan singkat. Namun perilaku ini disadari atau tidak akan meninggalkan dampak negatif bagi anak. Tentu kedisiplinan penting bagi anak, tapi bukan berarti kedisiplinan harus dijalankan dengan bentuk kekeras^n seperti m^mukul anak.

Baca Juga: Banjir Lembaga Bimbel, Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan?

Setiap perilaku orang tua memuliki kecenderungan untuk diduplikasi oleh anak, oleh sebab itu tidak jarang anak yang mengalami kekeras^n di rumah akan melakukan hal yang sama pada teman-temannya, karena anak akan berfikir bahwa kekeras^n adalah solusi bagi setiap masalah.

3. Membandingkan

Beberapa orang tua suka membandingkan apa yang diraih anaknya dengan prestasi yang diraih orang lain, mereka beranggapan jika hal ini dilakukan akan membuat anak mereka lebih kompetitif dan dapat meniru prestasi orang lain. Namun pada kenyataannya tindakan ini hanya akan membuat anak meresa apa yang dicapainya tidak akan pernah cukup untuk membahagiakan orang lain, dan selanjutnya anak akan berperilaku acuh tak acuh.

Terlalu sering membandingkan apa yang diraih anak dengan prestasi orang lain (teman sebaya, atau saudara) juga akan membuat potensi anak kian terkubur, karena mengikuti apa yang dikatakan orang tuannya. Hal ini membuat prestasi yang dicapainya tidak maksimal, karena tidak sesuai dengan minat dan bakat anak.

4. Meremehkan

Memang ada beberapa orang sukses yang dahulunya sering diremehkan. Sering diremehkan membuat mereka berfikir untuk membuktikan kemampuannya kepada orang lain. Namun jangan sekali-kali melakukan itu pada anak kita, karena mereka yang sukses akibat diremehkan hanyalah orang yang beruntung, lebih banyak mereka yang terpuruk karena terlalu sering diremehkan.

Walaupun seandainya anak kita adalah anak terburuk di dunia, maka jangan katakana mereka buruk, tapi selalu katakana mereka baik dan berikan arahan dan dorongan agar mereka dapat memilih jalan yang tepat untuk kehidupannya dimasa yang akan datang.

5. Mengekang

Ketika anak beranjak remaja, ada kencenderungan orang tua untuk bersikap posesif, dan membatasi beberpa kegiatan yang dilakukan oleh sang anak, Namun jangan sampai terlalu mengekang anak sehingga mereka kesulitan untuk mengembangkan diri.

Cara Mengatasi Perbedaan Pola Asuh Anak dengan Orangtua

Perbedaan pola asuh antara anak dan orang tua, atau mertua memang sering terjadi,mereka sering berselisih pendapat soal bagaimana cara mengasuh anak dengan baik.

Baca Juga: Problematika Pendidikan di Indonesia

Memang zaman sudah berubah, namun tidak ada salahnya mengadobsi polah asuh orang tua zaman dulu untuk kita terapkan kepada sang buah hati. Pilah dan pilah mana yang baik untuk anak kita.

Perbedaan pendapat tentang mengasuh anak memang sering terjadi, oleh sebab itu lakukan komunikasi yang baik dengan orang tua (mertua) agar mereka memahami pola asuh yang sedang kita pilih, selain itu membuat satu perjanjian yang disepakati bersama dalam pola asuh anak juga diperlukan, agar tidak terjadi perlakukan yang kontra produktif dengan usaha mendidik anak.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 8:11 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..