Wednesday, May 15, 2019

Konsumerisme Bulan Ramadhan

Apakah benar di bulan ramadhan terjadi konsumsi yang meningkat?_ Bulan ramadhan disambut sedemikian rupa oleh umat islam, suka cita mengiringi bulan yang penuh dengan ampunan dan pelipat gandaan pahala tersebut, namun jangan sampai puasa kita kehilangan maknanya.  Dengan puasa seharus dapat kita gunakan untuk mencegah diri dari perbuatan yang tidak dianjurkan atau bahkan dilarang dalam agama, salah satunya adalah perilaku berlebih-lebihan, yang menjadi ciri dari perilaku konsumerisme.

Ibada puasa merupakan ibadah yang tergolong kedalam ibada yang intim antara hambah kepada tuhannya, karena ibadah ini hanya diketahui oleh orang yang berpuasa dan Tuhan, orang lain tidak dapat melihat apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak, karena puasa tidak memiliki indikator pasti yang hanya dilakukan oleh seseorang yang sedang berpuasa. Hal ini berbeda dengan ibadah lain seperti zakat, haji dan sholat.

Baca Juga: Konsep Pewarisan Budaya Pada Masyarakat

Puasa menurut bahasa berarti menahan atau mencegah, yakni menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa merupakan suatu bentuk pengendalian diri baik secara biologis, seperti menahan makan dan minum, dan secara spiritual yang berupa menahan pandangan, perkataan perbuatan/perilaku yang dapat membatalkan atau sekedar mengurangi pahala puasa.

Sumber Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay
Setidaknya dengan berpuasa kita diajarkan pada hikmah untuk;

  1. Meningkatkan rasa taqwa, yaitu perasaan takut kepada alloh, hal ini mendorong kita untuk selalu melaksanakan segala perintah dan menjahui larangan dan senantiasa ikhlas kepada alloh.
  2. Mengendalikan Nafsu
  3. Tidak berlebihan, 
  4. Kesalehan sosial 
  5. dan lain-lain. 

Oleh sebab itu, maka sesungguhnya puasa adalah upaya untuk menahan diri dari segala bentuk kejelekan dan mendorong pada sesuatu yang lebih baik.

Tapi sadarkah kita, ada puasa yang tidak mendapat pahala, melainkan hanya mendapat lapar dan dahaga?

Fenomena Konsumerisme Dibulan Ramadhan

Fenomena yang tidak boleh lepas dari bulan puasa adalah, maraknya iklan-iklan makanan, minuman dan barang pelengkap lainnya yang bejibun di layar kaca, bahkan sebelum memasuki bulan ramadhan, sebulan atau dua bulan sebelumnya iklan ini sudah mulai nongol dihadapan kita. Bahkan iklan-iklan tersebut dapat kita jadikan sebagai tanda-tanda datangnya bulan ramadhan.

Iklan yang banyak kita saksikan (Sebut saja iklan sirup, sabun cuci piring/buah/sayur, kecap, minuman berkarbonasi, pewangi pakaian, pasta gigi/obat kumur, dan lain-lain) akan masuk kedalam alam bawah sadar kita dan akan menciptakan “kebutuhan palsu”, selanjutnya kita akan tertarik membeli ini dan membeli itu yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi. Sikap dalam memenuhi keinginan secara berlebihan dalam mengonsumsi barang dan jasa adalah bentuk dari konsumerisme.

Baca Juga: Islam dan Demokrasi

Konsumerisme adalah suatu paham yang menjadikan seseorang/kelompok mengonsumsi barang hasil produksi secara berlebihan. Menurut KBBI konsumerisme adalah paham/gaya hidup yang menganggap barang-barang sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat.

Perilaku konsumerisme ini dikarenakan oleh rendahnya kesadaran kita sehingga belum bisa membedakan mana kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi dan mana kebutuhan skunder yang sebenar tidak harus dipenuhi, serta keinginan yang seolah mirip dengan kebutuhan namun sebenarnya hanyalah dorongan nafsu kita untuk menikmati, atau memiliki suatu barang/jasa. Dan lagi, kadang sifat rakus kita yang mengkonsumsi melampaui yang seharusnya kita konsumsi.

Fenomena menarik lainnya adalah ketika bulan ramdhan, ternyata banyak sekali pedagang yang bermunculan, bahkan terdapat pedagang dadakan spesialis dibulan ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat banyak permintaan, sebagaimana hukum permintaan “semakin banyak permintaan maka barang yang akan ditawarkan juga akan semakin besar pula”. Ini merupakan ciri-ciri adanya konsumerisme dibulan ramadhan, dimana konsumsi barang akan meningkat dari awal ramadhan sampai ketika menjelang lebaran.

Perilaku konsumerisme melonjak drastis ketika menjelang lebaran, dimana kita akan belanja makanan, dan pakaian untuk memenuhi hasrat kita untuk pamer kepada orang lain, sehingga hari lebaran bukan hanya menjadi ajang untuk saling memaafkan, namun justru kita gunakan sebagai ajang pamer, meneliti pakaian dan kekayaan orang lain. Perilaku ini menunjukkan betapa kita telah gagal dalam memaknai ibadah puasa, yang seharusnya dapat menurunkan tingkat konsumsi dan kesombongan kita.

Baca Juga: Paradoks Perpeloncoan Mempelai Pengantin

Sebagai penutup. Bulan ramadhan yang seharusnya membuat kita mampu menahan atau mencegah ternyata justru membuat kita semakin tamak, hal ini tentu tidak sesuai dengan semangat bulan puasa yang mengajarkan tentang hidup sederhana, dan kemampuan dalam menahan atau mencegah/mengurangi diri dari dorongan hawa nafsu.

Oleh karena itu, jangan sampai kita tergolong orang-orang yang berpuasa namun tidak mendapat pahala selain rasa lapar dan dahaga.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:59 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..