Sunday, April 28, 2019

Pemilu, Siapa Yang Menang?

Pemilu; Siapa Yang Menang? Pemilu serentak baru saja digelar, ajang demokrasi yang merupakan salah satu terbesar di dunia ini menyisakan banyak permasalahan, mulai dari klaim kemenangan kedua belah pihak, dugaan kecurangan yang dilakukan kedua belah pihak, dugaan kecurangan KPU (komisi pemilihan umum), gugurnya anggota KPU di “medan penghitungan suara”, sampai pada konflik tak berkesudahan antar warga negara.

Adanya batas minimum tentang pencalonan presiden membuat kemungkinan lahirnya alternatif pemimpin baru tidak muncul kepermukaan, yang pada akhirnya hanya meloloskan dua kandidat calon presiden dan wakil presiden, yaitu pasangan 01 jokowi-ma’ruf amin, dan Prabowo-sandiaga uno. Hasil Quick Count dari berbagai lembaga survey mengumumkan bahwa pemeneng pemilu 2019 adalah pasangan 01 jokowi-ma’ruf amin, dan pasangan 02 dua juga dinyatakan menang dalam Quick count yang mereka lakukan secara internal.

Hasil-hasil survey dan QC tersebut seolah mengabsahkan calon presiden dan calon wakil presiden untuk melakukan klaim kemenangan, yang dirasa mamsih premature karena pada kenyataannya pengumuman resmi dari KPU masih menunggu sampai pada tanggal 22 mei 2019 mendatang.

Baca Juga: Kegagalan Demokrasi Indonesia

Pemilu; Siapa Yang Menang?
Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019
Klaim kemengan dari kedua belah pihak menunjukkan adanya problem metodologi yang digunakan oleh para peneliti/surveyor, yang kadang tidak begitu dipersoalkan oleh masyarakat yang kebanyakan berasal dari pendidikan menengah ke bawah.

Masyarakat menelan mentah begitu saja atas klaim kemenangan kedua belah pihak dan mendukungnya dengan sangat fanatik, khususnya oleh pendukung di dunia maya. Perdebatan keras didunia maya tersebut tidak jarang juga terbawah sampai dunia nyata, sehingga baku hantam antar pendukung juga sering kali terjadi.

Sampai saat ini adanya niat untuk melakkan proses rekonsiliasi antar pihak yang sedang “bertempur” pasca pemilu masih belum memberikan dampak signifikan pada peredaman nuansa yang semakin menghangat tersebut.

Perkawinan Media dengan Penguasa/Elit Politik/Elit Ekonomi

Media memberikan peran besar atas kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat, bagaimana konten yang ditampilkan oleh media akan mengisi pikiran masyarakat yang notabene mayoritas masyarakat kita memiliki budaya liteasi yang kurang baik.

Baca Juga: Meneguk Pil Pahit Demokrasi

Kenyataan tersebut harusnya membuat media bersifat netral, dan memberikan informasi yang jernih bebas dari pengaruh politik maupun pengaruh dari pemodal besar. Namun pada kenyataannya sekarang, para elit yang sedang bertarung adalah pemilik media besar di indonnesia.

Hal ini membuat berita yang dimuat oleh media-media yang “berafiliasi” dengan para elit sarat akan kepentingan, opini yang dibangun oleh media sering kali membuat masyarakat semakin terjerembab dalam lembah kebencian terhadap salah satu pihak. Hal ini tentu sangat merugikan masyarakat selaku konsumen, “berniat mencari obat justru racunlah yang ditelan”, kira-kira kalimat inlah ungkapan yang mewakili keadaan saat ini.

Perkawinan antara elit dan media sukses mencuci otak masyarakat, bahkan kita hari ini lebih hafal lagu partai dari pada sila-sila dalam pancasila. Hal ini tentu saja harus menjadi evaluasi bagi dewan pers, Lembaga penyiaran, masyarakat, dan para media khusunya.

Setali tiga uang, media sosial yang seharusnya menjadi media alternatif dari arus media mainstream justru larut dalam narasi yang dibuat oleh media-media mainstream. Hal ini selain karena memang budaya literasi masyarakat yang masih terbilang rendah, juga karena media social hari ini dipenuhi oleh buzzer, dan robot yang berafiliasi dengan para elit.

Patut disayangkan memang, karena susungguhnya terdapat media alternatif yang memberikan pencerahan-pencerahan, namun masih kurang popular dikalangan masyarakat.

Oligarki Adalah Pemenang Sesungguhnya

Watchdoc Image beberapa minggu lalu merilis sebuah video dokumenter pada platform media berbagi video, youtube, yang bertajuk “Sexy Killer”. Dalam video tersebut memperlihatkan betapa orang-orang yang sedang pertempur dalam pemilu bukanlah masyarakat kecil sebagai mayoritas masyarakat indonesia, namun sebaliknya mereka adalah elit, dan para konglomerat lainnya.

Baca Juga: Problematika Pendidikan di Indonesia

Film tersebut baru mengupas para pengusaha batu bara, belum lagi para konglomerat dalam bidang media, tambang, properti dan lain-lain.

Pertarungan pilpres dan pemilu pada umumnya justru hanya menjadi ajang elit untuk memenangkan hati rakyat, yang jumlahnya sangat kecil dibanding dengan masyoritas masyarakat indonesia yang merupakan rakyat kecil. Hal ini membuat siapapun yang memenangkan pemilu, rakyat kecil tetap akan kalah, karena kekuasaan hanya berpindah dari satu oligarki kepada oligarki yang lain, tidak sesuai dengan janji demokrasi yang menyebutkan kekuasaan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:48 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..