Wednesday, March 6, 2019

Problematika Pendidikan Di Indonesia

Problematika Pendidikan Di Indonesia. Pendidikan menjadi persoalan paling pokok dalam pembangunan peradaban suatu bangsa, karena bangsa yang besar selalu memiliki system pendidikan yang kompleks. Menyadari pentingnya pendidikan bagi pembangunan peradaban suatu negara, membuat setiap negara berlomba-lomba untuk memperbaiki kualitas pendidikannya, oleh sebab itu pendidikan selalu membawa problematika, tidak terkecuali juga di indonesia. Selain pada produk hokum, problematika pendidikan di indonesia setidaknya bertumpu pada persoalan kualitas guru, peran guru, problem siswa, problem orang tua, dan problem ekonomi.

Kualitas Guru

Guru menjadi fondasi penting bagi terselenggaranya proses pendidikan. Dengan guru yang berintegritas tinggi terhadap profesinya tersebut akan melahirkan kekuatan, tekat dan loyalitas yang besar terhadap proses panjang pendidikan.

Baca Juga: Mengembalikan Citra dan Martabat Guru di Sekolah

Belajar pada suku-suku yang masih asli, seperti suku Samin misalnya, mereka sama sekali memisahkan diri dengan system pendidikan formal yang ada di Indonesia, walaupun demikian mereka tetap melihat pendidikan sebagai suatu proses penting yang harus dilalui anak-anak mereka. Oleh sebab itu mereka membangun pendidikannya sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri, dengan memperhatikan tradisi, fungsi dan filosofi yang mereka anut sebagai tujuan hidup.

Perkembangan zaman saperti saat ini, pendidikan formal menuntut berbagai kopetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kopetensi tersebut adalah kompetensi pedagogig, professional, sosial, dan kompetensi kepribadian. Keempat kompetensi dasar tersebut merupakan patokan standart bagi seorang pendidik, namun sayangnya sering kali kompetensi tersebut sering kali hanya dipenuhi di atas kertas semata, dan melupakan dari makna keempat kompetensi tersebut. Hal ini membuat kualitas seorang guru sering kali dipertanyakan.

Problematika Pendidikan Di Indonesia
Sumber: https://pixabay.com/en/book-asia-children-boys-education-1822474/
Dalam sistem pendidikan formal tersebut di atas, terkesan melupakan satu faktor penting bagi terpenuhinya standart seorang pendidik, yaitu integritas, sebagaimana para guru di masa lalu yang memiliki prinsip, etika dan moral sebagai seorang pendidik, yang slalu dijunjung dalam “alam bawah sadar mereka”.

Problem Siswa

Output suatu system pendidikan dilihat dari bagimana siswa terbentuk setelah melakukan proses pendidikan. penilaian-penilaian tersebut merupakan penilaian kedalam banyak aspek, seperti sejauh mana siswa memiliki pengetahuan, pemahaman dst., bagaimana siswa bersikap terhadap teman, guru dan lingkungan, serta pada aspek kemampuan fisik dan kerja otot.

Dalam banyak evaluasi, terdapat banyak problem siswa dalam proses pendidikan diantaranya adalah meliputi masalah motivasi, sikap, moral. Pertama, siswa sering kali tidak memiliki motivasi yang cukup kuat untuk menempuh proses pendidikan di sekolah, hal ini mengakibatkan siswa tidak bergairah, tidak memperhatikan, dan bahkan bolos, tidak mengikuti jam pelajaran.

Baca Juga: Peran Masayarakat dalam Mencegah Korupsi Dana Desa

Kedua, menciptakan iklim pendidikan sekolah merupakan tanggung jawab semua pihak, baik dari pihak guru, pengelola, maupun siswa sebagai pemakai “jasa”. Oleh sebab itu, pihak-pihak yang terkait harus memiliki sikap yang linier terhadap tujuan pendidikan. namun sering kali siswa memiiliki sikap yang kontra-produktif dengan yang seharusnya, hal ini dapat kita lihat hari ini dengan banyaknya siswa yang melakukan sikap tidak terpuji baik kepada guru, maupun kepada sesama siswa.

Ketiga, moral merupakan salah satu hal pokok yang mutlak dimiliki seorang siswa. Moralitas rendah akan membuat siswa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan dalam proses pendidikan, misalnya mencontek, yang merupakan broblem moral yang sampai saat ini masih menjadi persoalan yang pelik, sulit untuk dihilangkan.

Problem Ekonomi Keluarga

Ekonomi keluarga merupakan salah satu indikator bagi problematika pendidikan di indonesia, pasalnya negara belum benar-benar menjamin ketersediaan akses pendidikan bagi golongan masyarakat miskin. pendidikan geratis sejauh ini masih menjadi cita-cita, atau bahkan hanya komoditas politik belaka, yang pada akhirnya membuat keluarga di bawah garis kemiskinan kesulitan untuk mengakses pendidikan bagi anak-anaknya.

Kemampuan finansial keluarga secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh bagi anak. Hal ini dikarenakan siswa tidak bisa fokus untuk belajar, mereka akan dibebani setidaknya pada taraf psikologis untuk membayar spp, buku paket, seragam, dan kegiatan lainnya.
Problematika Pendidikan Di Indonesia

Menurut laporan PISA (2015) kualitas pendidikan indonesia menepati urutan 62 dari 72 negara, hal ini mengalami peningkatan pada laporan 2 (dua) tahun sebelumnya indonesia menduduki urutan kedua terbawah, pada urutan 71. Indonesia terus melakukan pembenahan dalam dunia pendidikan, hal ini dapat dilihat dari komitmen 20% anggaran pendidikan dari APBD dan APBN. Namun demikian, persoalan pencairan dan alokasi dana masih terjadi masalah di sana sini. Oleh sebab itu dirasa perlu terus melakuakan evaluasi baik dari hulu dampai ke hilir.

Baca Juga: Model Pendidikan di Masa Depan

Sebagai ujung tombak dari sistem pendidikan, guru harus diberdayakan agar dapat berkarya dengan lebih baik. Terlebih dari itu, pentingnya posisi guru sebagai instrumen pendidikan harus disadari oleh semua pihak, dan utamanya pada individu guru sendiri. Seorang guru harus menjadi tauladan, yang senantiasa memberikan contoh dalam bersikap, berkarya, dan bertindak.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 10:05 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..