Monday, March 11, 2019

Cara Mendisiplinkan Siswa Tanpa Tekanan

Cara Mendisiplinkan Siswa Tanpa Tekanan. Sekolah adalah lembaga pendidikan dimana siswa/murid melakukan proses pendidikan. Sayangnya banyak dari para siswa tidak bisa mengikuti proses pembelajaran dengan dengan serius, hal ini disebabkan oleh berbagai hal termasuk diantaranya adalah kondisi keluarga, kondisi pergaulan di sekoah, dan tentu Susana di sekolah, termasuk di dalamnya adalah cara dan strategi belajar yang digunakan guru di kelas.

Terlepas dari penyebabnya, guru akan melakukan penindakan terhadap murid yang dirasa dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran bagi murid yang lain. Penindakan yang umum dilakukan oleh seorang guru adalah memberikan hukuman, baik hukuman fisik maupun hukuman moral. Dan permasalahannya adalah tidak semua murid bisa ditaklukan dengan dua metode hukuman tersebut, oleh sebab itu, harus ada metode lain untuk mendisiplinkan siswa.

Isi Aktifitas Sekolah Dengan Menyenangkan

Banyak dari siswa merasa tidak senang didalam sauna sekoah, ada yang merasa “sumpek”, tertekan, bosan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, diperlukan strategi untuk mengatur atau memanage sedemikian rupa kegiatan dan suasana disekolah.

Baca Juga: Perbedaan Budaya di Indonesia
Cara Mendisiplinkan Siswa Tanpa Kekerasan
Sumber: pixabay.com
Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan mengondisikan suasana sekolah yang nyaman bagi setiap anak termasuk di dalamnya adalah metode pembelajarannya. Selain itu, aktifitas dalam sekolah juga harus menyenangkan. Misalnya dengan memberikan hari pengembangan, bebas dari materi sekolah, namun harus memilih satu fokus pengembangan yang harus dilakukan. Setiap pengembangan diberikan fasilitator yang siap melayani kebutuhan siswa tersebut.

Tunjukkan Setiap Perilaku Ada Konsekuensi Yang Adil

Sekolah harus memastikan akan setiap anak tersosialisasikan dengan baik seputar setiap perilaku memiliki konsekuensi yang adil. Hal ini penting akan setiap anak memiliki kesadaran pada setiap perilakunya. Hal ini juga akan mengedukasi anak, bahwa setiap sesuatu itu memiliki sebab dan akan membawa akibatnya, dan selanjutnya anak akan menjadi lebih kritis dalam berfikir.

Jika setiap anak semakin kritis, maka yang tidak boleh terjadi adalah adanya ketidak adilan penindakan suatu pelanggaran. Karena mereka akan berfikir tidak ada gunanya mematuhi peraturan, toh yang akan disalahkan tetap mereka, misalnya. oleh sebab itu, menjadi penting untuk setiap stakeholder bersikap adil pada setiap keadaan di sekolah.

Dekati Dengan Personal

Tidak setiap anak memiliki persoalan yang sama, kadang ada anak yang sumber masalahnya di rumah, ada juga yang sumber masalahnya di sekolah, dan tidak menutup kemungkinan sumber masalah anak berada ditempat lain.

Baca Juga: Model Pendidikan di Masa Depan

Anak yang memiliki sumber masalah di rumah, akan membawa permasalahan tersebut kesekolah. Misalnya, ketika anak mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan, dibentak-bentak, dan seterusnya, maka anak akan membawa perasaan itu kesekolah, dan akibatnya adalah anak kurang bergairah dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, setiap permasalahan-permasalahan tadi harus didekati dengan cara personal langsung pada pusat permasalahan, dan melibatkan pihak yang terkait.

Buat Aturan Bersama/Negosiasi

Aturan bersama biasanya akan lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh siswa, karena siswa sudah mengetahui dan menyadari ketika aturan tersebut dibuat, sehingga tidak perlu lagi melakukan sosialisasi peraturan. Selain itu, bernegosiasi dalam menetapkan hukuman juga dirasa sangat penting, karena setiap anak akan merasa dihargai, karena ada pemikiran-pemikiran mereka yang mungkin akan diakomodir.

Bernegosiasi dalam menetapkan hukuman, atau aturan bukan berarti siswa boleh memilih hukuman paling ringan, atau bahkan memillih untuk tidak dihukum ketika melanggar. Negosiasi ini dimaksudkan untuk memberikan “pilihan”, serta meminta komitmen dari setiap anak yang melanggar tersebut, agar tidak mengulangi perbuatannya dilain waktu.

Hukum Dengan Tugas “Mendidik”

Hukuman fisik dirasa sudah tidak relefan lagi untuk anak milenial zaman sekarang, karena hukuman fisik oleh beberapa siswa dianggap dapat dilalui dengan cepat dan mudah, dan beberapa yang lain akan melakukan perlawanan terhadap hukuman tersebut. Hal ini juga dapat memicu berbagai konflik, termasuk diantaranya adalah beberapa kasus yang mencuat kemedia masa saat ini.

Berbanding lurus dengan hal itu, hukuman moral juga kurang efektif dilakukan saat ini, karena banyak dari siswa akan merasa baik-baik saja ketika disuruh berdiri dilorong kelas, misalnya. oleh sebab itu hukuman hukuman semacam itu dianggap kurang efektif, dan dibutuhkan alternative hukuman yang lain.

Alternative hukuman yang dapat kita pilih adalah, misalnya meberikan tugas lebih. Menuliskan kalimat tertentu sebanyak sekian kali, meresume suatu materi, atau membuat karya-karya yang lainnya, yang linier dengan tugas pendidikan, namun tetap berefek menjerahkan.

Pada akhirnya setiap solusi tersebut di atas, harus dibacking dengan aturan yang lebih menjerahkan, akan siswa merasa segan ketika melakukan pelanggaran-pelanggara. Persoalan yang timbul kemudian adalah, tidak semua sekolah mampu melakukan hal ini, karena pada sekolah-sekolah “tidak faforit”, yang hanya memiliki sedikit siswa, mereka tidak berani memberikan sanksi tegas seperti “mengembalikan tugas mendidik anak ke orang tuanya”/mengeluarkan, dan sebagainya.

Berikan Apresisi

Memberikan apresiasi sangat penting bagi anak, dalam teori behavioristik pemberian apresisi sangat mutlak dilakuakan untuk membentuk suatu prilaku yang diinginkan, dan setiap perilaku yang mendapatkan apresisi (stimulus) akan cenderung diulang kembali oleh anak.

Baca Juga: Catatan Hitam Dunia Pendidikan

Pada setiap apresisi juga akan mengajarkan pada siswa akan adanya konsekuensi-konsekuensi adil yang akan mereka dapatkan ketika melakukan suatu perilaku.

Sebagai penutup, sebaiknya kita melibatkan orang tua dalam membuat peraturan-peraturan yang kemudian disepakati dan ditandatangani bersama sebagai suatu acuan baik oleh guru, managemen sekolah, dan orang tua dalam melaksanakan kegiatan sekolah. Dan tidak lebih penting dari itu adalah, kita sebagai guru harus bersikap sepenuh hati untuk mendidik anak-anak disekolah, menjalin hubungan dengan siswa, baik sebagai guru maupun “sebagai teman”.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 9:00 AM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..