Sunday, December 16, 2018

Saluran-saluran Mobilitas Sosial

Sebagaimana diuraikan dalam materi sebelumnya, bahwa mobilas sosial adalah gerakan, atau perpindahan status sosial, sebagai contoh, seorang karyawan/guru bekerja pada suatu instansi, maka dia dapat melakukan mobilitas sosial dengan berupaya untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Dari gambaran tersebut, maka mobilitas sosial harus memiliki jalur-jalur, atau saluran-saluran mobilitas sosial.


Di bawah ini adalah merupakan contoh dari saluran-saluran mobilitas sosial, sebagai berikut;

Saluran-Saluran Mobilitas Sosial

Pendidikan

Pendidikan merupakan saluran bagi mobilitas sosial. Dengan pendidikan biasanya seseorang dapat melompati beberapa step (langkah) yang standartnya dilalui seseorang tanpa pendidikan yang baik, oleh karena itu pendidikan menjadi saluran mobilitas sosial vertikal (ke atas) yang paling menarik perhatian orang banyak, bahkan sampai saat ini.

Contoh, berbagai tingkat jabatan sosial mengharuskan seseorang memiliki minimal pendidikan, atau setidaknya pengalaman selama waktu tertentu. Dengan kualifikasi pendidikan yang baik seseorang dapat mencoba untuk bersaing dan mendapatkan kedudukan tersebut.

Berwirausaha

Berwiraswasta menjadi tren akhir-akhir ini, walaupun angka untuk menduduki jabatan/menjadi aparatur sipil negara (PNS) masih sangat tinggi, sebagaimana kita lihat di tahun 2018 ini.[1] Seseorang memilih untuk berwirausaha dikarenakan ingin bekerja sesuai dengan passion dan tanpa tekanan dari orang lain, usaha-usaha ini meliputi usaha konvensional seperti menjadi pedagang, pemasok barang, dan pembuat barang, sampai pada usaha digital seperti para pembuat konten youtube, instagram, dan lain-laian.

Jikau saha yang mereka geluti dapat mencapai kesuksesan, hal itu akan membuat mereka akan merangkak pada status sosial yang lebih tinggi.

Perkumpulan Berbasis Ekonomi

Perkumpulan, sarikat, atau bentuk organisasasi lain yang bergerak dalam bidang ekonomi, seperti cv, PT, atau koperasi membuka kesempatan yang sangat luas bagi setiap orang untuk sukses dan dapat melakukan mobilitas vertikal.

Koperasi misalnya didirikan dengan tujuan untuk mengangkat kemampuan ekonomi para anggotanya , setiap keuntungan yang diperoleh dari koperasi berarti juga kesejahteraan bagi para anggotanya. Organisasi macam ini dapat dijadikan sebagai saluran-saluran mobilitas sosial.

Angkatan Bersenjata (TNI/POLRI)

Angkatan bersenjata adalah “lembaga” yang dibentuk negara untuk mengamankan dan mempertahankan kedaulatan. Di Indonesia angkatan bersenjata memiliki prestise yang sangat besar, oleh karena itu orang yang dapat memasuki, dan menjadi anggota angkatan bersenjata agaknya akan mengalami peningkatan status sosial, oleh karena itu angkatan bersenjata dapat dikategorikan sebagai saluran-saluran mobilitas sosial.


Apa lagi jika seseorang tersebut mendapatkan pangkat yang tinggi dalam kesatuannya, tentu hal itu juga akan berpotensi mobilitas sosial, baik di instansi dimana dia bekerja dan di masyarakat.

Lembaga keagamaan

Lembaga keagamaan didirikan oleh umat yang memiliki kesamaan prinsip dan norma, lembaga keagamaan biasanya mengatur dan mengikat anggotanya untuk melakukan hak dan kewajibannya. Dalam kehidupan sehari-hari lembaga keagamaan  juga mengatur perilaku dan cara bersikap.

Lembaga keagamaan dapat dijadikan saluran-saluran mobilitas sosial, hal ini dikarenakan lembaga keagaam memiliki status sosial yang tinggi, oleh karenanya orang yang terlibat aktif dan berpengaruh dalam organisasi itu akan mendapat status sosial yang sama tingginya dalam kehidupan bermasyarakat.

Organisasi Profesi

Sama halnya dengan koperasi, oraganisasi profesi biasanya bertujuan untuk memperjuangkan nilai-nilai serta kesejahteraaan para anggotanya. Organisasi profesi diisi oleh orang-orang yang memiliki profesi yang sama, hal ini membuat orang-orang yang tergabung dalam organisasi profesi dapat berjuang dengan lebih kompak karena didorong oleh kesamaan prinsip dan perjuangan.

Bagaimana organisasi profesi dapat menjadi saluran mobilitas sosial? Organisasi profesi merupakan organisasi yang memperjuangkan hak dan martabat profesi, oleh karena itu organisasi ini akan terus memperjuangkan kepentingan bersama.

Sebagaimana organisasi guru misalnya, mereka akan terus mengupayakan bagaimana agar profesi guru tidak dipandang sebelah mata, dan lebih lanjut kesejahteraan guru menjadi hal yang pokok untuk disuarakan. Setelah mendapatkan kesejahteraan, disitulah guru akan naik kelas (terjadi mobilitas vertikal).

Dan lain-lain

Dampak Mobilitas Sosial

Selain mobillitas sosial vertikal (ke atas) sebagaimana dalam contoh-contoh di atas, mobilitas sosial juga memiliki kemungkinanan mengarah ke bawah, dan kesamping. Oleh sebab itu kita perlu memahami dampak-dampak mobilitas sosial, baik dampak positif maupun dampak negatif.

Adanya mobilitas sosial memiliki kemungkinan dampak negatif bagi individu yang terkena dampak diantaranya adalah;
1.       Terjadi kecemasan akan penurunan status (mobilitas ke bawah)
2.       Ketegangan untuk mempelajari peran baru, bila terjadi mobilitas ke atas
3.       Keretakan hubungan antaar keluarga primer karena terjadi mobilitas menurun

Dampak Positif Mobilitas Sosial

Terbukanya kesempatan

Dampak positif dari adanya Mobilitas sosial adalah terbukanya kesempatan  dan harapan untuk setiap orang dapat memperoleh status sosial yang lebih baik. Hal ini berbeda dengan masyarakat yang memiliki struktur tertutup yang anggotanya tidak memiliki kemungkinan untuk dapat peningkatan status sosial. Sebagaimana juga kita saksikan masyarakat kita saat ini, banyak orang kecil yang dapat naik derajat sosialnya dikarenakan kerja keras, dan kerja cerdas yang tekun dilaksanakan.

Mempercepat Perubahan Sosial

Mobilitas sosial memungkinkan ketersediaan “bahan bakar” untuk menggerakkan perubahan, adanya kemungkinan untuk hidup lebih baik membuat orang terus berusaha belajar terhadap sesuatu yang baru, hal ini memungkinkan terjadinya percepatan dalam perubahan sosial.

Sebagai contoh, untuk menghadapi revolusi industry 4.0 saat ini, setiap orang akan berpacu untuk mengisi hal-hal yang mungkin dibutuhkan dimasa depan, hal ini biasa dilakukan dengan belajar, dan menganalisa. Karena semakin banyak orang yang belajar, maka akan semakin banyak pula orang-orang cerdas, pandai, kritis dan kreatif. Hal ini secara tidak langsung juga akan mendorong adanya percepatan perubahan sosial.

Penciptaan Lapangan Kerja Baru

Sejalan dan serah dengan semakin banyaknya orang yang terdidik, yang memiliki karakteristik cerdas, kritis, dan kreatif membuat individu akan berusaha menciptakan sesuatu yang baru untuk menjawab persoalan-persoalan yang bahkan belum pernah dihadapi, hal ini memungkinkan terjadinya pekerjaan baru.

Sebagai contoh, pekerjaan yang dulu belum ada, dan sekarang menjamur dimana-mana adalah usaha dibidang digital. Banyak orang beramai-ramai menjadi youtuber, dan usaha digital lainnya. hal ini berarti ada lapangan kerja baru, dan kesempatan baru tentunya.

Dampak Negatif Mobilitas Sosial

Selain dampak positif yang akan terjadi mengikuti mobilitas sosial, juga dipastikan akan menimbulkan kemungkinan dampak negatif pula. Sebagai berikut;

Gangguan Psikologis

Mobilitas sosial memungkinkan suatu pekerjaan akan digantikan oleh orang lain. Banyak orang yang setelah kehilangan pekerjaannya menjadi stess, baik hilang karena sudah saatnya diganti maupun diganti karena alasan lain berpotensi untuk membuat seseorang merasa gelisah, itu berarti juga adalah bentuk dari gangguan psikologis.

Hal ini dapat kita amati dengan melihat para pensiunan, jika tidak memiliki garapan, atau pekerjaan/kesibukan lain, mereka akan terlihat stress, gampang lelah dan pada akhirnya akan sakit-sakitan, dan seterusnya.

Berkurangnya Solidaritas Antar Kelompok

Persaingan antar anggota kelompok yang bahkan kadang-kadang dilalui dengan cara tidak sehat membuat mereka berebut untuk menjadi yang terbaik, nomor satu. Hal ini membuat renggangnya solidaritas antar anggota yang sedang berkontestasi.

Timbul konflik

Konflik adalah hal yang kadang memang harus ditempuh oleh suatu kelompok untuk menjadi yang terbaik. Seperti halnya ketika bangsa Indonesia yang ingin merdeka, menjadi bangsa yang bebas, maka kita harus berhadapan dengan para penjajah, berkonfrontir untuk bebas, dan menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bermartabat.
Walaupun demikian, kadang suatu persaingan tidak harus berahir dengan konflik, karena kedewasaan setiap pihak yang sedang berkontestasi. Hal ini dapat kita lihat dengan persaingan para politikus yang sama sekali tidak menimbulkan konflik yang berlebihan diantara mereka, hanya kadang justru pendukungnya (yang tidak sedang berkontestasi) yang berkonflik.

Rasa Takut Karena Mobilitas Ke Bawah

Selain memberikan harapan untuk setiap orang mendapatkan peluang, mobilitas sosial juga memberikan kemungkinan, ancaman bagi mereka yang sedang berada dalam status quo untuk digantikan sewaktu-waktu. Selain ancaman dari luar, mobilitas sosial berpotensi mengancam dari dalam, hal ini dikarenakan memang sudah waktunya untuk pension (mobilitas menurun).





[1] https://nasional.kompas.com/read/2018/10/17/06194671/bkn-jumlah-pelamar-cpns-2018-di-bawah-target

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 5:46 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..