Wednesday, December 19, 2018

Pluralitas dan Multikultural Masyarakat Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah merupakan kawasan perairan. Dengan fakta bahwa Indonesia terbentuk atas pulau-pulau, maka hal itu membuat Indonesia memiliki budaya yang kaya, karena setiap wilayah dapat mengembangkan kebudayaannya masing-masing. Masyarakat yang telah memiliki peradaban yang besar bahkan sejak Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan, membuat Indonesia memiliki ragam bangsa, ragam ras, dan ragam kebudayaan yang luar biasa besar. Pluralitas masyarakat Indonesia tidak mungkin lagi diragukan.

Di Indonesia lebih sering memakai kata plural/pluralitas disbanding dengan kata multikultural untuk mengungkapkan suatu keberagaman. Plural berarti jamak, sementara pluralitas berarti “keberjmaa’an” atau keberagaman. Sementara itu, multikultural juga memiliki makna yang serupa yakni untuk menjelaskan dimana adanya perbedaan-perbedaan baik suku, ras, agama, budaya, dan lain-lain, dimana setiap anggota masyarakat telah menerima, dan menganggap perbedaan tersebut sebagai suatu kesetaraan, atau derajat yang sama tinggi.

Dalam masyarakat multicultural, perbedaan-perbedaan dalam masyarakat sudah tidak lagi menjadi suatu masalah, karena mereka telah sanggup mengkompromikan masalah-masalah tersebut, oleh sebab itu stabilitas dalam masyarakat multikultural lebih terjaga dan relatif tidak terguncang.

Baca Juga: Memahami Politik Identitas Yang Takterhindarkan

Perbedaan

Kenapa Indonesia layak kita sebut sebagai negara pluralism/multikulturalisme? Realitas sosial dan geografis menunjukkan bahwa Indonesia tersusun atas pulau-pulau, dan memiliki suku bangsa, ras, agama, dan budaya yang disetiap daerahnya telah mengalami peradaban panjang, dan pada umumnya tidak pernah terjadi masalah besar yang terjadi akibat perbedaan-perbedaan tersebut.

Walaupun sebenarnya pernah kita mengalami goncangan besar dalam hidup saling berdampingan dengan perbedaan ini, sebut saja kasus Poso, sampit, kasus ahmadiyah, dan lain-lain. namun demikian kasus-kasus tersebut telah mampu dikonsolidasikan, dan tidak merembet dalam skala yang lebih besar.

Pluralitas negara Indonesia meliputi perbedaan ras, suku, agama, pekerjaan, budaya, dan lai-lain. Sebagai berikut;

Perbedaan Agama

Pernahkah kita melihat masyarakat yang berbeda agamanya dengan kita? Pernahkah kita melihat cara beribadah yang berbeda dengan kita? Kebanyakan dari kita pasti pernah menyaksikan perbedaan-perbedaan itu, baik di social media/internet, televise, maupun dalam kehidupan nyata.
Kenapa kita harus memahami perbedaan-perbedaan tersebut? Dalam masyarakat yang telah memiliki peradaban panjang saling berdampingan dengan perbedaan, tentu kita harus sadar, dan memahami bagaimana kehidupan masyarakat yang secara agama berbeda dengan kita. Misalnya ketika masyarakat yang beragama islam melaksanakan ibadah, biasanya mereka akan melakukan kegiatan adzan dengan menggunakan TOA yang sering kali terdengan dirumah kita yang memiliki keyakinan yang berbeda. Kita harus memahami itu sebagai suatu toleransi dalam beragama, begitu juga ketia umat Kristen, katolik, hindu, budha, dll melaksanakan peribadatan.

Toleransi beragama adalah sikap saling menghormati dan menghargai masyarakat yang berbeda dengan kita. Adanya sikap toleransi dapat menghindarkan terjadinya diskriminasi,[1] dan konflik lainnya. sebagai masyarakat yang memiliki toleransi beragama, kita harus saling memastikan kegiatan ibadah agama lain tidak terganggu oleh kegiatan kita. saling mempersilahkan, menghormati, dan menghargai sesame umat beragama adalah kunci dari terjaganya toleransi antar umat di Indonesia.

Di Indonesia dikenal agama-agama besar yang hidup saling berdampingan, sebagai berikut;

Agama Islam

Agama islam merupakan agama yang memiliki umat masyoritas di Indonesia, sekitar 87% masyarakat Indonesia memeluk agama islam, oleh sebab Indonesia disebut juga sebagai “negara islam”. Indonesia juga termasuk negara dengan pemeluk agama islam terbesar di dunia.

Sebagai umat yang berbeda, kita harus memahami tradisi umat islam, agar supaya tidak terjadi kesalah pahaman, dan konflik agama. Umat islam biasa melaksanakan ibada sholat 5 (lima) waktu, sholat jum’at, dan dua sholat ied. Kenapa kita harus mengetahui ini? Hal ini karena ibada tersebut akan berhadapan dengan keseharian kita, oleh sebab itu, sikap bertoleransi perlu kita tumbuhkan bersama.

Agama Kristen

Masyarakat Kristen di Indonesia juga memiliki jumlah yang besar di Indonesia. Persebarannya juga dapat dikatakan merata di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, keberadaan umat Kristen juga berdampingan dengan umat lain, seperti islam, hindu, budha, dan lain-lain. Umat Kristen biasanya melaksanakan ibadah besar di hari minggu, selain itu hari besar yang diperingati adalah hari paskah, kenaikan isa almasih, dan hari natal pada 25 desember.

Agama Hindu

Agama hindu terasuk kedalam agama formal tertua di Indonesia, sebelum itu masyarakat Indonesia diyakini telah menganut keyakinan-keyakinan. Hari besar bagi umat Hindu adalah hari raya Galungan, hari raya Nyepi, dan hari Saraswati. Agama hindu di Indonesia memiliki tradisi yang kuat hidup dalam masyarakat jawa, sampai saat ini tradisi-tradisi tersebut juga masih hidup dan berkembang bersama masyarakat islam di indonesia.

Agama Budha

Beradapan agama budha pernah mencapai puncaknya pada era sriwijaya. Sriwijaya dikenal sebagai tempat, atau pusat studi agama budha di kawasan Asia Tenggara. Hari-hari besar masyarakat Budha adalah Hari Raya Waisak dan Ulambana.

Agama Konghucu

Agama konghucu juga berkembang di Indonesia, masyarakat konghucu memiliki hari penting, namun yang biasa diperingati dan menjadi hari besar di Indonesia sebagai hari libur adalah hari imlek.

Aliran Kepercayaan

Aliran kepercayaan diyakini sebagai “agama” tertua yang dianut oleh bangsa Indonesia, sampai saat ini kita masih dapat menyaksikan masyarakat yang menganut aliran kepercayaan. Patut juga disayangkan jika aliran kepercayaan di Indonesia saat ini kurang familiar di Indonesia, bahkan dalam form KTP juga sering dipermasalahkan, karena terdapat kolom agama, yang tidak mengakomodir aliran kepercayaan tersebut.

Perbedaan Budaya

Wilayah negara indonesia yang tersusun atas wilayah kepulauan membuat Indonesia memiliki berbagai kebudayaan yang berkembang disetiap daratan. Setiap budaya memiliki karakteristik yang berbeda. Beradaban bangsa indonesia yang telah lama berkembang, mulai sejak zaman kerajaan hingga sekarang, zaman republik membuat indonesia memiliki peradaban yang sedemikian rupa, menjadi peradaban tinggi.

Baca Juga: Memotret Dusun Lengor di Lamongan

Perbedaan Budaya

Bangsa Indonesia tersusun dari 300 kelompok etnik dan suku bangsa. suku jawa menjadi suku mayoritas yang mencapai angka 41% dari total populasi. selain suku-suku  yang mendiami pulau jawa, terdapat juga suku bangsa lain yang berasal dari papua, sumatra, sulawesi dan lain-lain.

Perbedaan Pekerjaan

Selain perbedaan-perbedaan yang bersifat melekat sejak lahir, bangsa indonesia juga memiliki keragaman dalam hal pekerjaan, mulai dari pekerjaan yang berpenghasilan rendah, sampai pekerjaan yang berpenghasilan tinggi.

Masalah Pluralitas Di Indonesia

Pluralitas bangsa Indonesia adalah pencapaian yang besar bagi peradaban. Namun demikian, dewasa ini banyaknya perbedaan ras, suku, dan agama tidak lagi dipahami dengan jiwa besar. Kecurigaan antar ras, ketidak percayaan terhadap suku lain, dan pemahaman yang keliru tentang agama, membuat pengkerdilan pluralitas masyarakat Indonesia.

Banyaknya perbedaan-perbedadan yang diakomodir, dan sah secara konstitusi Indonesia juga melahirkan permasalahan-permasalahan. Permasalahan agama di Indonesia terdiri atas dua hal;
a.       Perbedaan tafsir dalam satu agama,
b.      Masalah antar agama.

Permasalahan tafsir dalam satu agama dapat kita lihat dari perbedaan-perbedaan menentukan hari besar, sampai pada perbedaan kepentingan politik yang diperjuangkan yang tidak jarang memicu konflik kepermukaan.

Sementara itu, konflik antar agama juga mewarnai konflik perbedaan di Indonesia. Konflik antar agama dapat kita lihat pada konflik poso, konflik ambon, konflik tolikara, konflik aceh, konflik di lampung selatan, konflik situbondo, dan konflik sampan.[2]

Konflik-konflik tersebut di atas, disinyalir terjadi bukan karena faktor agama, konflik-konflik tersebut lahir akibat ketimpangan ekonomi dan hak yang dipinggirkan.[3]

Selain konflik agama, di Indonesia juga banyak konflik perbedaan lain, seperti rasial, konflik ketimpangan ekonomi, konflik etnis, konflik terorisme, konflik perda syari’ah, dan konflik sosial lainnya.

Potensi konflik tersebut di atas harus diatasi dengan baik, jika tidak maka konflik akan merembet keberbagai kehidupan bernegara. Kita sebagai masyarakat yang memiliki toleransi, harus saling mengerti, dan menghargai perbedaan-perbedaan tersebut.





[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Toleransi
[2] https://hukamnas.com/contoh-konflik-antar-agama
[3] https://www.antaranews.com/berita/684047/mui-konflik-antaragama-akibat-faktor-non-agama

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:31 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..