Saturday, November 24, 2018

Model Pendidikan di Masa Depan

Pendidikan adalah daya dan upaya nyata untuk mempersiapkan anak menjadi generasi penerus suatu komunitas/bangsa. Oleh karena itu, pendidikan harus dapat membaca kebutuhan-kebutuhan yang dimungkinkan akan muncul di masa mendatang. Jika tidak, maka pendidikan akan gagal dalam memenuhi “bahan bakar” suatu bangsa, lalu kemudian lokomotif penggerak bangsa tersebut akan terjadi kemogokan (kemandegkan). pengertian pendidikan masa depan/ pendidikan masa depan pdf/ makalah pendidikan masa depan? model pendidikan masa depan/ kebutuhan pendidikan masa depan/ harapan pendidikan di masa depan/ opini pendidikan masa depan/ artikel pendidikan masa depan/ kebutuhan pendidikan masa depan/ harapan pendidikan di masa depan/ pendidikan masa depan pdf/ konsep pendidikan masa depan/ makalah pendidikan masa depan/ opini pendidikan masa depan/ sekolah masa depan/

Untuk membangun bangsa yang kuat, diperlukan pendidikan yang hebat pula. Kita tidak bisa menafikan sejarah bangsa Jepang yang mampu bangkit dari keterpurukan akibat perang dunia ke dua. Setelah serangan bom sekutu di Hirosima, dan Nagasaki, Jepang menjadi negara yang terpuruk, dan akhirnya memutuskan untuk mundur dari perang dunia ke dua, dan fokus memperbaiki negaranya dengan mengambil langkah untuk memperbaiki dunia pendidikannya. Dalam kasus ini dapat kita ambil pelajaran, bahwa begitu powerfullnya dunia pendidikan dapat mengangkat negara yang berantakan oleh bom menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan dipercaturan dunia. Setidaknya semangat itulah yang harus kita ambil untuk membangun Indonesia.

Dari uraian singkat diatas kita dapat melihat, betapa pentingnya pendidikan yang berorientasi masa depan terhadap kemajuan suatu bangsa/Negara. Selain sebagai media untuk melakukan pembaruan, pada prakteknya pendidikan juga digunakan sebagai media untuk menurunkan, dan mewariskan nilai-nilai atau norma yang dimiliki generasi pendahulu kepada generasi selanjutnya.

Pentingnya Pendidikan Di Masa Depan

Dimasa depan persaingan akan semakin sulit, persaingan akan semakin ketat, bahkan ada persaingan yang belum sempat kita bayangkan namun benar-benar akan terjadi. Persaingan ini tidak hanya terjadi dalam satu negara, karena di era digital ini, persaingan telah benar-benar terbuka untuk seluruh dunia. Jika pendidikan kita tidak bisa menyiapkan individu yang siap bertarung dalam persaingan maka kita akan menjadi banga penonton, tidak mempu menjadi pemain. Bahkan akan lebih mengerikan lagi, jika kita tidak mampu menjadi tuan di tanah sendiri. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi pendorong, dan pembakar bagi lokomotif bangsa.

Di Indonesia, pendidikan dimengerti bukan hanya pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah formal, atau perguruan tinggi, pendidikan dalam arti seluas-luasnya termasuk pendidikan di jalur no-formal, dan in-formal, harus diperhatikan sebagai satu kesatuan pendidikan untuk membangun bangsa.

Kritik Pendidikan Hari Ini

Prof. Ng Aik Wang adalah merupakan seorang ahli pendidikan yang berasal dari Australia, yang berusaha mengungkap praktek pendidikan di Asia. Menurutnya pendidikan di Asia terlalu mementingkan pada penguasaan materialistik. Anak terlalu dipaksa untuk mampu menguasai materi seputar membaca, menulis, dan menghitung sejak terlalu dini. Lebih lanjut beliau mengungkapkan jika pemaksaan tersebut dapat menjadi beban bagi anak, dan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan, hal itu akan menjadi kontra-produktif dengan tujuan pendidikan.[1]

Disinyalir pendidikan di Asia (Indonesia. Red.) tidak begitu mementingkan proses, pendidikan hanya melihat nilai akhir, sehingga melupakan proses. Karena terlalu fokus pada hasil, hal itu menyebabkan adanya keterkungkungan dan menyebabkan seseorang kehilangan kreativitas, imajinasi, dan passion. Hal itu membuat orang asia jarang menjadi manajer, atau bahkan pemimpin, mereka lebih banyak mengisi tempat-tempat sebagai tenaga kerja.  Oleh sebab itu  diperlukan setidaknya perubahan-perubahan yang mendasar pada dunia pendidikan.[2]

Model Pendidikan Masa Depan

pendidikan di masa depan
Diolah dari republika.co.id
Untuk menyiapkan generasi di masa depan, setidaknya paradigma dalam mendidik harus kita rubah, seperti paradigma “hasil” harus diganti dengan paradigma “proses”, para pendidik tidak lagi terlalu menitik beratkan pada hasilakhir, namun harus melihat bagaimana melihat pendidikan sebagai suatu proses. Dan yang ke dua, paradigma formalitas harus dirubah menjadi paradigma subtansi. Kita tidak lagi hanya melihat proses pendidikan sebagai hal-hal yang Nampak dipermukaan saja, misalnya kenapa sekolah harus memakai sepatu hitam, memakai seragam dari kain yang sama, dan standar-standart lain yang justru hanya menambah biaya pendidikan, dan tidak relevan dengan peningkatan kapasitas siswa.

Di masa depan akan banyak perubahan-perubahan dalam hal hubungan siswa dengan guru, yang sebelumnya proses pembelajaran didominasi oleh sistem tatap muka, kedepan akan berubah menjadi sistem digital yang lebih mandiri. siswa akan dapat belajar menyesuaikan dengan keinginan, kapanpun dimanapun tanpa terbatas ruang dan waktu. oleh karena itu, pola-pola keteladanan dan penanaman karakter pasti akan mengalami pergeseran.

walaupun peran guru akan bergeser, namun guru tetap harus memastikan siswa dibekali dengan kemampuan yang penting bagi persaingan di masa depan, seperti Kemampuan Berpikir Kritis, Kemampuan Penyelesaian Masalah, Kemampuan Komunikasi, Kemampuan Berpikir Kreatif, dan Kemampuan Bekerja Sama. Sebagai berikut;

Kemampuan Berpikir Kritis

Selama ini dunia pendidikan banyak dijejali dengan metode-metode menghafal, siswa dinilai dari kemampuannya mengingat materi-materi yang disampaikan oleh para guru, sehingga ketika menghadapi persoalan di dunia nyata mereka akan mengalami kesulitan, karena pada prakteknya dunia nyata sering kali berbeda sama sekali dengan dunia akademik. 

Oleh sebab itu, maka pendidikan harus menyajikan materi sedemikian rupa sehingga mampu membangkitkan kemampuan para pelajar dalam berfikir kritis, mampu menganalisa dan menyusun argumentasi berdasarkan penalaran yang logis. Agar para pelajar mampu menganalisa persoalan-persoalan yang dihadapinya di dunia nyata. 

Kemampuan Penyelesaian Masalah

Kemampuan yang selanjutnya yang harus dimiliki oleh generasi penerus adalah kemampuan dalam menyelesaikan masalah (problem solving), hal ini penting mengingat tantangan di luar dunia akademik akan lebih berat. Oleh karena itu, kemampuan menyelesaikan masalah akan sangat dibutuhkan oleh para siswa kelak.

Kemampuan Komunikasi

Kemampuan komunikasi kedepan akan sangat dibutuhkan oleh kita semua, sebagaimana kutipan yang sangat terkenal dari HOS Tjokroaminoto yang berbunyi “jika kalian ingin menjadi pemimpin besar menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator", dalam hal ini, komunikasi bukan hanya komunikasi lisan, namun juga termasuk komunikasi lewat tulisan, gambar, dan lain-lain. Selain itu, pergaulan dunia yang semakin mengglobal membuat persaingan akan ikut mengglobal juga, hal itu akan membuat kemampuan dalam berkomunikasi akan sangat penting. 

Kemampuan Kreatif 

Para penguasa teknologi hari ini adalah orang-orang yang kreatif, mereka mampu berpikir sesuatu yang bahkan tidak pernah sanggup “diimpikan “orang ain. Kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, atau menginovasi sesuatu yang lama agar bernilai lebih, membutuhkan kemampuan kreatif ini, kedepan dunia akan lebih banyak membutuhkan orang-orang yang kreatif ini,  oleh sebab itu penumbuhan kemampuan kreatif para pelajar adalah sangat penting.

Kemampuan Bekerja Sama

Hari ini kita sadari, tidak semua hal dapat diselesaikan sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan persoalan yang multidisipliner. Sebagai contoh, kenapa dalam perusahaan mereka membayar kariawan? Apakah bos mereka benar-benar tidak bisa melakukannya sendiri? Tentu tidak selalu, karena bekerja sama memungkinkan suatu organisasi/perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan pekerjaan yang diselesaikan sendiri.

Kesimpulan

Persoalan-persoalan dunia yang semakin banyak, persaingan yang semakin ketat, persaingan yang melibas batas territorial negara membuat kita harus menyiapkan diri. Penyiapan generasi penerus sebagai penerus estafet perjuangan bangsa adalah hal yang mutlak dilakukan, agar lokomotif bangsa dan negara tetap bergerak.

Para pendidik seyogyanya mulai merubah cara pandangnya terhadap para siswa, yang dulu hanya mementingkan persoalan hasil, sekarang harus mulai melihat pendidikan sebagai suatu proses, mengapresiasi usaha siswa dalam melaksanakan proses pendidikan. Pendidikan sebagai tempat dilaksanakannya proses penempaan para generasi penerus harus memberikan sentuhan sebaik mungkin supaya anak dapat memiliki kopetensi-kopetensi untuk bersaing di masa yang akan datang.

_______________
[1] Prof. Ng Aik Wang dalam Prof. Asep Saepudin, pentignya pendidikan (https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/75731/1/Prof.%20Asep%20Saepudin%20%28pentingnya%20pendidikan%29.pdf)
[2] Ibid,,

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:16 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..