Wednesday, November 14, 2018

Catatan Hitam Dunia Pendidikan

catatan hitam dunia pendidikan
Gambar Hanya Ilustrasi/ Sumber Gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ1-ydNzWNGcmJmlCeqvSZRovYeprZFEes0NjgkIZ_IBKWjKjLo
Pendidikan merupakan hal pokok bagi manusia, semua hal yang dilakukan manusia selalu diawali dengan proses pendidikan, mungkin oleh sebab itu juga muncul istilah pendidikan sepanjang hayat, pentingnya pendidikan juga termaktub dalam agama islam yang menyebutnya sebagai pendidikan dari buaian sampai liang lahat. Dalam pengertian ini pendidikan berlangsung sepanjang hayat, dari mulai lahir sampai dengan ajal menjemput. definisi pendidikan/ fungsi pendidikan/ pengertian pendidikan secara umum/ makalah pengertian pendidikan/ pendidikan menurut para ahli/ pendidikan pdf/ tujuan pendidikan/ pendidikan di Indonesia/ pendidikan menurut ki hajar dewantara/

Barang kali hal yang tidak diajarkan kepada manusia namun kita tetap bisa melakukannya hanyalah hal-hal yang bersifat insting, sesuatu yang secara alami akan kita lakukan tanpa adanya suatu pengenalan. Misalnya ketika bayi baru dilahirkan mereka akan segera dapat mengenali putting ibunya, dan segera mereka akan menyusu. Dan hal-hal yang bersifat insting lainnya. Selain itu, maka pendidikan memberikan peran penting bagi manusia.

Dari uraian singkat di atas, menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi manusia. Tanpa pendidikan tentu manusia akan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Tanpa pendidikan yang benar, manusia mungkin juga akan kehilangan rasa kemanusiaanya, mungkin hal itu juga yang membuat manusia kadang lebih kejam dari binatang terkejam di muka bumi ini.

Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah merupakan daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya.[1] Gambaran besar dari pendidikan yang diusung oleh ki hajar dewantara adalah tiga hal di atas, yakni pertama budi pekerti, yaitu ekspresi-ekspresi manusia yang berupa tindakan, perkataan, dan sikap. Pendidikan seharusnya dapat membentuk manusia menjadikan manusia yang berkarakter, dan bertanggung jawab.

Kedua, pikiran. Dilain penguatan karakter dan sikap, pendidikan harus mengantarkan anak untuk meningkatkan kognisi, atau pengetahuannya. Tidak sekedar hanya menghafalkan materi-materi, pendidikan harus memberikan kemampuan siswa untuk menalar, mengkritisi, menganalisis, cara berfikir dan seterusnya.

Ketiga, tubuh. Sebagaimana dalam kutipan yang sangat terkenal “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”, pendidikan harus memfasilitasi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan psikomotornya. Selain itu, pengetahuan akan tubuh, fungsi-fungsi tubuh dan hakikat tubuh juga menjadi sangat penting untuk disampaikan, agar siswa mampu mengendalikan dorongan dari ID, Ego, dan Superego.

Dari sini dapat kita katakana bahwa pendidikan adalah upaya manusiawi dalam meningkatkan kognisi, sikap dan psikomotor anak. Dalam banyak kasus pendidikan kadang hanya sesuatu yang bersifat formalitas, sibuk dengan hal-hal yang tidak memberikan dampak bagi perkembangaan anak, dan melupakan tujuan sebenarnya dari proses pendidikan.

Raport Merah Dunia Pendidikan

Membangun dunia pendidikan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak hal yang harus dikonsolidasikan, dan dikompromikan. Apa lagi Indonesia yang notabene adalah merupakan negara yang memiliki banyak suku dan kebudayaan yang berbeda-beda, hal ini juga membuat adanya banyak hal yang harus dikompromikan dengan nilai dan norma-norma yang ada.

Selain hal-hal tersebut di atas, dunia pendidikan juga sering kali tersandung dengan kepentingan-kepentingan para petinggi, sehingga pendidikan tidak memiliki program jangka panjang. Target ketersampaian sebuah pendidikan terus berubah seiring sejalan dengan menteri yang diangkat, dan seterusnya. Hal ini juga membuat pendidikan tidak memilli tujuan jangka panjang, misalnya “20 tahun kedepan pendidikan harus seperti apa dan bagaimana?” Inidonesia belum memiliki hal itu.

Beberapa Catatan Hitam Dunia Pendidikan Antara Lain;

Mata Pelajaran Sebagai Tolak Ukur

Setiap anak memiliki kemampuan yang unik dan berbeda dengan anak yang lain, boleh jadi anak memiliki kemampuan yang baik diluar mata pelajaran yang diajarkan disekolah, pendidikan tidak melihat hal ini sebagai hal yang serius dan fundamental. Pendidikan hendak menyamakan bakat yang dimiliki setiap anak, tentu hal ini tidak mungkin. Ibarat kata dalam satu kelas terdapat “monyet, ikan, gajah, sapi, kuda, dan lain-lain” lalu kita mengajari mereka memanjat, dan menilai mereka dengan kemampuan memanjatnya.

Tentu hal itu tidak bijak, karena jika hanya dinilai dengan indicator memanjat, monyetlah yang akan lebih lihay dalam persoalan tersebut. Termasuk misalnya ada anggapan yang jamak dimiliki orang, bahwa anak IPA dianggap lebih pintar dari anak IPS, dan lain-lain.

Pelajaran Terlalu Banyak

Mata pelajaran dalam jenjang pendidikan formal memang tidak sedikit, dan anehnya siswa diharuskan untuk menguasai itu semua, mulai dari ilmu seni, ilmu sosial dan ilmu alam, dan satu lagi, olah raga. Ada nilai minimal yang harus dituntaskan oleh setiap siswa, jika tidak maka siswa harus mengulang sampai tuntas.

Kita terlalu banyak memberikan beban kepada siswa yang sebenarnya bahkan tidak mungkin dikuasai gurunya yang notabene telah melampai semua jenjang pendidikan. Saya teringat dengan guru fisika saya dulu saat masih duduk di sekolah menengah. Saat itu terjadi peleburan mata pelajaran rumpun ipa. Oleh karena itu guru fisika harus juga mengajar biologi, dan tidak lama setelah kebijakan itu di implementasikan di sekolah, di dalam kelas guru saya mengatakan hal yang menyadarkan nalar sehat, “saya orang fisika, tidak bisa mengajar biologi”.

Dari sini kita dapat setidaknya mengambil hikmah bahwa, sesuatu yang bahkan tidak mungkin dikuasai guru, kenapa terlalu kita paksakan kepada siswa.

Fokus Pada Sistem Hafalan

Inilah yang diajarkan dibanyak sekolah, guru hanya mengajarkan pengetahuan, tidak mengajarkan cara mencari tahu. Pendidikan kita saat ini hanya mengajarkan tentang menghafal materi[2], sehingga saat keluar dari jenjang pendidikan anak akan gagap menghadapi dunia nyata yang kebanyakan sangat berbeda dengan dunia akademik.

Seharusnya pendidikan mengajarkan bagaimana cara berfikir, sistematika berfikir, pendidikan kritis, yang banyak mempertanya tentang banyak hal, sehingga siswa akan terbiasa mencari pengertiannya sendiri seputar persoalan-persoalan yang akan dihadapinya kelak.

Minim Keterampilan

Di dunia nyata, keterampilanlah yang lebih besar akan dibutuhkan untuk survive. Teori-teori Dalam dunia pendidikan akan sedikit sekali yang dapat digunakan untuk bertahan hidup, akar kuadrat misalnya tidak akan digunakan dalam dunia perdagangan, rumus energy potensial tidak akan berguna bagi masyarakat pada umumnya, dan lain-lain.

Pendidikan di Indonesia seolah selalu dibenturkan dengan “sekolah ya mencari ilmu”, dan melupkan dunia praktis, praktek-praktek dalam bermasyarakat, dan praktek-praktek bertahan hidup. Oleh sebab itu life skill sangat diperlukan untuk menghadapi dunia nyata.

Bagaimana setiap keluar dari jenjang pendidikan menengah dan perguruan tinggi setiap individu sudah harus memiliki bekal untuk menghadapi dunia nyata, siap bekerja, baik menciptakan kerja sendiri atau bekerja kepada orang.

Dialog

Jika kita mengamati penddidikan yang digagas oleh ki hajar dewantara tentu kita akan menemukan sebenarnya kita telah jauh melenceng dari pemikiran para peletak batu pertama dunia pendidikan tersebut. Pendidikan seharunya mampu menjadikan siswa sebagai subyek realitas yang memiliki otonomi intelektual, eksistensial, dan otonomi dalam aspek batiniahnya.[3]

Otonomi intelektual dimaksudkan agar individu terbebas dari belenggu kebodohan kognisi, yang selanjutnya mendorong otonomi eksistensial. Otonomi eksistensial dimaksudkan agar individu mampu membangun kesadaran akan hak asasi kemanusiaan yang bermartabat dan luhur, berfikir kritis terhadap realitas yang membelenggu dirinya. Selanjutnya otonomi eksistensial membuat individu tidak teralienasi dari masyarakat, memiliki kejelasan orientasi dan keperpihakan.


Otonomi dalam aspek bathiniah menandaskan setiap produk pendidikan “individu” harus memiliki kesadaran akan posisinya dalam masyarakat, memiliki kesadaran tentang kondisi masyarakat, dan Saling menghormati nilai-nilai kemanusiaan.



Dari uraian di atas, setidaknya dapat kita simpulkan bahwa pendidikan tidak hanya semata-mata formalitas untuk mendapatkan selembar kertas ijazah. Pendidikan adalah upaya sadar untuk memberikan, dan memfasilitasi individu untuk dapat mengembangkan dirinya yangpaling otentik. Pendidikan diberikan tanggung jawab untuk membantu setiap individu menemukan “dirinya”, dan selanjutnya menjadikan versi terbaik dari setiap individu tersebut.

Dunia pendidikan saat ini yang terlalu banyak beban pelajaran yang harus diselesaikan siswa tidak membuat siswa semakin jenius, sebaliknya justru para siswa tidak akan mampu menyerap setiap pelajaran yang diberikan. Kedepan pendidikan seharusnya tidak perlu lagi terlalu banyak mata pelajaran, seperti halnya di perguruan tinggi. Selain mata pelajaran bahasa, matematika dan agama, siswa sehaarusnya juga diberikan kebebasan dalam memilih mata pelajaran yang hendak mereka tekuni sebagai basis keilmuan.

Selain ilmu-ilmu yang diajarkan kedepan, metode dalam mengajar juga akan sangat mempengaruhi kemampuan siswa. Guru yang terlalu menitik beratkan pembelajaran pada system belajar menghafal, tentu saja sudah harus beralih kepada pembelajaran yang bertipe saintifik, bagaimana siswa memiliki kecakapan dalam berfikir, bagaimana siswa mampu menganalisis, dan bagaimana siswa memiliki kemampuan berfikir sistematis merupakan proyeksi pendidikan dimasa depan. Kemampuan individu dalam mengkritisi segala hal diharapkan mampu mendoorong mereka untuk memiliki otonomi baik intelektual, eksistensial, dan otonomi dalam aspek bathiniahnya.





[1] Dewantara, Ki Hadjar. 1962. Karja I (Pendidikan). Pertjetakan Taman Siswa, Jogjakarta, hal. 14-15.
[2] https://news.okezone.com/read/2016/05/04/65/1380305/siswa-indonesia-hanya-fokus-menghafal dan https://kumparan.com/bob-bimantara/problematika-pendidikan-kebanyakan-menghafal-sampai-apbn-yang-tak-optimal
[3] Bartolomeus Samho, dan Oscar Yasunari, Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangantantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini, (Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan Bandung 2010)

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:01 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..