Sunday, September 23, 2018

Sipil Pakai Seragam Loreng, Untuk Apa?!

Akhir-akhir ini Banyak sekali kasus yang melibatkan kelompok berbaju mirip militer, mulai dari kasus persekusi, pencegatan, dan berbagai kasus penolakan-penolakan lainnya. kasus tersebut tentu membuat kita bertanya-tanya, siapakah mereka sebenarnya. Apakah militer sungguhan atau hanya kelompok yang memakai baju mirip militer?.

Dimata masyarakat Indonesia pada umumnya, militer memang memiliki image yang cukup baik, gagah, pemberani, rela berkorban, ya seperti sesosok kesatria dalam film-film legenda, atau kolosal lainnya. memang tidak berlebihan jika militer memiliki image seperti itu, mengingat seambrek prestasi internasional dalam dunia kemiliteran para prajurit Indonesia ini. Dibalik pencapaian dalam dunia militer, pasukan militer di Indonesia digembleng dengan latihan yang sangat berat, ditambah dengan disiplin dan moralitas yang tinggi membuat pasukan militer Indonesia diakui kemampuannya oleh Negara-negara besar di dunia.
Sebagaimana penegak hukum lainnya, anggota militer di Indonesia dapat diidentifikasi dari pakaian yang dikenakannya, yang biasanya bercorak loreng, dengan kobinasi warna hijau dan warna hitam. Pakaian kebanggaan satuan pasukan militer ini seolah sudah menyatu dengan image tentara. Seragam kebanggaan satuan anggota TNI ini sebenarnya sangat eksklusif, sehingga hanya boleh dikenakan oleh anggota TNI saja. Hal ini juga pernah ditegaskan oleh panglima TNI dengan Surat Telegram Panglima TNI No STR/509/2006 tanggal 1 Agustus 2006[1] yang berisikan tentang penertiban atribut TNI agar tidak disalah gunakan oleh individu maupun kelompok, hal ini dikarenakan citra loreng sebagai baju militer jika disalah gunakan oleh individu ataupun kelompok maka dikhawatirkan akan mencoreng nama baik satuan militer. Dalam surat tersebut juga menyebutkan untuk menindak tegas dan menertibkan logo TNI ataupun logo yang menyerupai logo TNI.

Seragam yang sudah menyatu dengan image seorang anggota militer yang gagah dan pemberani juga membuat corak dan model baju ini memiliki citra yang sama kerennya dengan militer itu sendiri. Hal ini juga membuat beberapa individu maupun kelompok terinspirasi untuk memakainnya. Namun, sudah tepatkah pemakaian baju militer oleh sipil?

Di Indonesia marak sekali sipil menggunakan baju ala militer ini, baik Cuma berbentuk kaos, celana atau bahkan secara kesuluruhan, baju, celana dan sepatu beserta baretnya. Cara memakainya pun mirip sekali atau boleh jadi persis dengan gaya berbakaian militer. Dari kejauhan mungkin kita akan berfikir bahwa pemakai baju tersebut adalah sekelompok anggota militer, namun jika dilihat lebih jelas ternyata mereka adalah kelompok sipil. Saya juga masih belum tahu, apakah sipil yang memakai baju militer tersebut sudah mendapatkan izin atau tidak. Namun demikian, pemakaian seragam militer (Loreng) oleh sipil sudah barang tentu tidak bijak, dan akan menimbulkan masalah-masalah.
Seperti halnya, banyak sekali video yang beredar di youtube yang memperlihatkan arogansi “anggota”, atau oknum kelompok berseragam loreng (sipil yang berpakaian ala militer) yang melakukan penertibkan atribut-atribut yang dianggap tidak pro terhadap NKRI. Tindakan-tindakan yang seolah memposisikan diri sebagai anggota keamanan Negara (tentara/polisi) tentu membuat kita miris. Dalam beberapa video memperlihatkan dengan jelas bagaimana arogansi itu dipertontonkan dimuka publik. Dengan baju “mirip” militer ini seolah memberikan legitimasi atas semua tindakan yang sebenarnya tidak sepatutnya dilakukan oleh sipil.

Berharap ORMAS Berganti Seragam

Memakai baju militer (Seragam Loreng) bagi seorang/kelompok sipil bukanlah perbuatan yang bijak, karena pada dasarnya baju, atribut dan identitas militer lainnya adalah digunakan sebagai pembeda antara sipil dan militer. Hal ini penting mengingat dalam kondisi-kondisi tertentu atribut militer dapat membahayakan pemakainya. Misalkan dalam kondisi perang, siapapun yang memakai atribut militer secara legal dapat dijadikan sasaran tembak musuh, dan hal itu sah dalam kondisi perang. Militer memang disiapkan untuk berperang, mereka memiliki kompeten untuk membunuh, dan paham betul resiko akan terbunuh dalam kondisi perang.
Sementara sipil tidak pernah mendapat pelatihan memegang senjata, berperang dimedan tempur, dan pembinaan ala militer lainnya. dilain pihak, membunuh dan dibunuh adalah merupakan resiko seorang anggota satuan militer (TNI) dalam kondisi perang, sementara sipil memiliki hak untuk tidak dijadikan sasaran perang, jika sipil dijadikan sasaran perang maka itu merupakan perbuatan yang melanggar HAM internasional, oleh karena itu menjadi sipil yang bijak, dan mengganti seragam tentu juga menjadi pilihan yang tepat bagi para ormas, karena bagi sipil, “memakai baju militer sama dengan bunuh diri”.

Memakai Baju Militer Untuk Apa?

Selain persoalan perang, memakai baju militer bagi sipil di lingkungan publik memang sangat tidak bijak dikarenakan hal itu dapat menyebabkan orang lain merasa terintimidasi, apalagi para satuan keamanan dari ormas-ormas yang sering kita lihat, menyamakan diri, atau semacam dengan sadar berusaha semirip mungkin dengan satuan militer, mulai dengan seragam nyaris sama dengan militer, cara memakai seragam yang sama persis, dan bahkan potongan rambut sepak ala militer. Sipil yang memakai seragam militer rawan dijadikan alat untuk gagah-gagahan saja, berpotensi untuk diselewengkan, walaupun pada kenyataannya ada juga ormas yang anggota satuan keamanannya tidak memakai seragam loreng, namun juga terlihat melakukan hal yang sama dilingkungan publik.




Gambar hanya sebagai Ilustrasi. Sumber: Google.com
[1] https://www.tni.mil.id/view-3371-penertiban-seragam-dan-atribut-tni.html

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:44 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..