Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Milenial Kebelet Nikah - Verbal

Sunday, September 9, 2018

Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Milenial Kebelet Nikah

Saat kita mulai berselancar di dunia maya, kita akan menemukan banyak konten-konten tentang hubungan laki-laki dengan perempuan, entah asmara, pertengkaran atau tentang pernikahan. Konten-konten itu akan banyak kita temukan di facebook, dan lebih banyak berada di media berbagi gambar instagram (IG). Klo kita lihat lagi memang konten ini memiliki banyak peminat, terlihat dari banyaknya akun yang membagikan ulang konten-konten tentang mempercepat pernikahan tersebut.

Sesungguhnya hal ini adalah lumrah, mengingat rata-rata akun yang saya ikuti sudah berkepala 2, ya sekitar umur dua puluhan. itu artinya hormone testosterone dan progesterone dari memilik akun tersebut memang sudah “matang”, dan memang sudah waktunya untuk membicarakan persoalan lawan jenis. Namun sebagai netizen yang memiliki rasa keingin tahuan yang besar, saya mulai risau dan memikirkannya berulang-ulang, bahkan saat buang hajat di kamar mandipun saya selalu terngiang, kenapa fenomena pernikahan muda “kawin muda” kembali menguat ditengah-tengah kehidupan masyarakat?.


Dan benar saja, fenomena nikah muda memang mulai ngetren lagi. Sebenarnya dahulu nikah muda bukanlah persoalan yang serumit sekarang. Dulu orang menikah pada usia yang masih sangat belia, bahkan sebelum usia 17 tahun, laki-laki zaman dulu sudah menikah, dan perempuan sudah menikah bahkan pada umur 13 tahun. Cerita-cerita pernikahan muda ini dapat saya temui dengan bertanya kepada orang-orang yang sudah “sepuh” di daerah saya tinggal.

Baru-baru ini laman okezone.com juga melaporkan peristiwa nikah muda yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan  (KALSEL), seorang anak laki-laki berumur 13 tahun menikah dengan anak perempuan berumur 14 tahun[1]. Pernikahan ini juga banyak diperbincangkan netizen di instagram dan media social lainnya. selain kasus ini, juga masih ada banyak kasus “nikah muda” lainnya yang dapat kita jumpai dengan mudah di laman-laman berita. Banyaknya fenomena pernikahan muda ini tentu akan membuat kita bertanya-tanya susungguhnya apa yang menyebabkan fenomena yang terjadi di masa lalu, yang sempat hampir ditinggalkan dan sekarang kembali menguat, dan saat saya perhatikan ternyata banyak juga remaja atau orang dewasa awal (20 tahun-an) mulai inten membicarakan persoalan pernikahan.

Milenial Kebelet Nikah

Angka perkawinan muda di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni urutan 37 di dunia dan menepati tangga ke dua di ASEAN, setelah kamboja.[2] Penelitian yang dilakukan BKKBN menunjukkan usia kawin pertama perempuan di perkotaan sekitar 16-19 tahun, sedangkan di perdesaan sekitar 13-18 tahun.[3] Pernikahan muda ini disebabkan oleh beberapa factor yang meliputi persoalan seputar latar belakang social, ekonomi dan pendidikan. Selain factor-faktor di atas, terjadinya fenomena nikah muda di kalangan milenial adalah sebagai berikut;


Teman Menikah Lebih Dulu

Nikah muda tentu bukanlah suatu cita-cita yang diimpikan sejak sekolah dasar, namun entah kenapa nikah muda tiba-tiba menjadi semacam wabah yang menyerang milenial. Walaupun jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu juga akan mempengaruhi teman atau lingkungan di mana pasangan nikah muda tinggal. Apa lagi itu adalah teman kita, praktis kita juga akan merasa tersudut, atau setidaknya disudutkan teman-teman, atau keluarga kita dengan perkataan-perkataan semacam “itu teman SD mu udah nikah, kamu kapan?”, “masak kalah sama si A, udah nikah”, dan lain-lain.

Konsumsi Lagu-Lagu

Lagu-lagu yang beredar di pasaran yang didominasi oleh lagu yang berlirik romantis, yang berisi seputar cinta, nikah, asmara, dan lain-lain tentu akan mempengaruhi pola fikir para pendengarnya. Dan sialnya, rata-rata music yang didengarkan oleh milenial adalah music-musik yang bertajuk cinta, bahkan ada juga yang sampai mendekati “porno”, kualitas sastra yang minim membuat lirik lagu zaman now yang relative ceplas-ceplos tanpa memakai kiasan, majas dan sebagainya sehingga membuat lagu-lagu zaman sekarang terlalu fulgar.

Konsumsi lagu-lagu melankolis, yang bertajuk cinta ini dapat kita buktikan dengan coba melihat list lagu di hpteman-teman kita, atau melihat list lagu kita sendiri, sudah dapat saya pastikan kebanyakan adalah lagu-lagu seputar cinta. Hanya sedikit sekali milenial yang mendengarkan lagu-lagu bertajuk perlawanan, kemanusiaan, dan lagu-lagu pergerakan, atau mitivasi lainnya.

Tabel Usia Pernikahan Dalam Sudut Pandang Ekonomi Dan Masa Depan

Beredarnya sebuah tabel semacam table periodic kimia yang berjudul “Tabel Usia Pernikahan Dalam Sudut Pandang Ekonomi Dan Masa Depan” sontak membuat saya langsung berfikir untuk menikah pada taraf ideal, jangan sampai ada pada taraf waspada, atau bahkan siaga. Table periodik tersebut memaparkan pada usia berapa harus menikah, dan bahkan juga menjelaskan pada usia berapa kita dapat menjadikan anak kita sebagai sarjana.

Tabel periodik pernikahan itu begitu banyak diperbincangkan di grup-grup percakapan seperti watsapp, dan lain-lain, dan tidak sedikit juga yang membicarakannya di media social berbagi gambar.  

IG (Media Sosial)

Sindrom nikah muda ini juga ditambah dengan popularnya konten-konten seputar nikah muda di media social, khususnya instagram. Berbagai konten tentang nikah muda ini seperti konten ceramah, konten video kreatif, konten video pacaran, dan bahkan ada juga yang mengoficiali tagar atau hastag Nikah Muda. Dan sialnya anak-anak muda, dan remaja terlihat gandrung sekali dengan konten-konten seputar hal-hal tersebut.


Nikah muda tentu akan menjadi semacam ancaman bagi kita yang berumur mendekati atau melebihi batas ideal tabel “Tabel Usia Pernikahan Dalam Sudut Pandang Ekonomi Dan Masa Depan” yang sempat viral tempo hari, ya walaupun itu bukanlah kebenaran yang paling benar, tp entah kenapa seolah-olah orang-orang tibah-tiba menggunakan tabel itu untuk mengukur apakah pernikahan seseorang berada pada tingkat ideal, tingkat waspada atau bahkan siaga.

Karena nikah bukanlah hanya persoalan ijab-qobul semata, oleh karena itu pernikahan haruslah dipikirkan matang-matang, tapi juga bukan untuk menghindari sebuah pernikahan, karena orang biasa seperti kita akan sulit sekali mecapai titik ideal untuk menikah. Punya rumah sendiri, pekerjaan yang mantap, gaji sesuai ekspektasi, kendaraan pribadi, dan lain-lain akan membutuhkan waktu yang panjang, dan rasanya jika mengikuti persepsi itu maka butuh perjuangan yang sangat keras, dan mungkin dirasa tidak mungkin untuk dapat nikah muda dengan kondisi-kondisi yang ideal tersebut.

Lalu bagaimana, kita pilih nikah muda? Atau nikah pada waktunya? Pilihan ada di tangan kita




Gambar hanya Ilustrasi
Sumber Gambar: Google.com
[1] https://news.okezone.com/read/2018/07/15/337/1922546/sepasang-abg-di-kalsel-nikah-muda-kpai-beberkan-bahayanya
[2] Mariyatul Qibtiyah, Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan. Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
[3] ibid

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:05 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP