Mental Bangsa Terjajah, Dibalik Minta Foto Bareng Orang Asing - Verbal

Sunday, August 19, 2018

Mental Bangsa Terjajah, Dibalik Minta Foto Bareng Orang Asing

Pernahkah kita memperhatikan di tempat-tempat yang ramai pengunjung lokal dan mancanegara, seperti pantai kuta, candi Borobudur, dan lain-lain? Di tempat-tempat tersebut sering kali kita jumpai wisatawan lokal sedang meminta foto bersama bule-bule kulit putih, walaupun sebenarnya ada juga wisatawan mancanegara dengan kulit berwarna, tapi sedikit sekali yang meminta foto bareng dengan mereka. Hal-hal semacam ini sudah dapat dipastikan akan kita temui dengan mudah, atau bahkan mungkin kita sendiri yang melakukannya.

Apa yang sebenarnya melatar belakangi mereka meminta foto bersama dengan para bule-bule berkulit putih?

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah para bule yang sedang diajak berfoto adalah seorang artis? Orang berpengaruh? Atau orang yang terkenal lainnya? Jawabannya adalah tidak! Mereka bukan sama sekali seorang artis atau bahkan orang yang berpengaruh lainnya, ya orang sipil biasa seperti kita. lalu mengapa kita begitu berminatnya untuk mengajak mereka berfoto?


Ada semacam persepsi yang jamak dimiliki orang Indonesia terhadap orang berkulit putih, lebih khusus adalah orang asing. Mereka dianggap sebagai mahluk yang “ideal” dibandingkan dengan kulit asli Indonesia, coklat, hitam atau sawo matang. Persepsi tentang ketampanan atau kecantikan sering kali diidentikan dengan orang yang memiliki kulit putih, dan berhidung mancung. Walaupun jika ditanya beberapa dari kita akan menjawab dengan jawaban yang normatif, seperti “kecantikan itu subjektif, tergantung pada siapa yang melihat”, atau jawaban lain yang bernada sama.

Namun kita tidak bisa menafikan fenomena anak kecil yang mengupload video pendeknya, dan menjadi viral karena terlihat “ganteng”, dan memiliki kulit putih. Ternyata belakangan dietahui bahwa kulit sang anak berwarna hitam/coklat, dan sontak memicu terjadinya bullying terhadap anak tersebut. Dan akhirnya anak kecil tidak bersalah itu dihujat habis-habisan oleh warga net (netizen). Cerita pendek ini seolah memberi tahu kita bahwa persepsi publik di Indonesia bahwa orang yang ganteng adalah orang yang memiliki kulit bersih, dan putih. Tentu saya tidak sedang berbicara rasis, namun hanya sedang berusaha menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa anak kecil tersebut.

Selain itu, jika kita lihat pemutaran film yang menontonkan orang eropa yang biasanya memiliki hidung mancung, dan orang korea yang memiliki kulit putih, berbadan kurus, semacam standart kecantikan orang korea dalam persepsi kita. Tiba-tiba juga menjadi standart orang Indonesia. Hal ini bisa kita lihat dengan melihat bintang film/sinetron yang dijadikan sebagai tokoh utama adalah mereka yang memiliki standart kecantikan yang mendekati orang asing yang memiliki hidung mancung, dan berkulit putih. Setidaknya ini dapat menjelaskan bagaimana persepsi kita terhadap kecantikan atau ketampanan.


Tidak habis sampai disana, bagaimana berbagai iklan produk pemutih wajah, pemutih kulit dan lain-lain adalah menunjukkan bagaimana keinginan publik Indonesia untuk memiliki kulit yang dianggap “ideal”. Fenomena bagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya sangat suka dengan kulit putih, adalah fenomena yang jamak terjadi di Negara-negara bekas jajahan di wilayah asia. Dan rasanya sulit sekali jika fenomena tersebut tidak dikaitkan dengan kolonialisme tempo itu, karena yang kebetulan menjajah kita adalah orang-orang berkulit putih.

Kolonialisme Gaya Baru

Nurhadi[1] menyebutkan bahwa “Mentalitas “budak” masih melekat dalam diri kita, kemudian mencoba “menjadi tuan” dengan sejumlah perilaku identitas”. Hal ini membuat krim pemutih kulit dan operasi plastik laris manis di Indonesia, hanya untuk memiliki kulit putih dan hidung mancung, standart kecantikan dan ketampanan yang melekat pada tubuh orang-orang barat.

Kita berusaha untuk menjadi tuan, menjadi orang barat, mulai dari mengecat rambut menjadi pirang, menggunakan bahasa ingris yang jika meminjam terminologi orang jawa sering disebut sebagai “kemingris”, dan bahkan masalah cita rasa pun kita mengejar makanan barat. Kita memilih ayam goreng KFC dibanding dengan ayam goreng “yuk sri” di pinggir jalan. Kita lebih memilih makanan yang dihidangkan di outlet-oetlet makanan cepat saji barat dibanding dengan makanan sejenis yang dihidangkan di warung khas Indonesia.

Setelah perang dunia kedua, model kolonialisme mengalami pergeseran dari bentuk penjajahan fisik menjadi non-fisik. Penjajahan beralih diranah sosial, ekonomi, budaya dan politik. Model kolonialisme ini memang sering tidak terasa oleh kita, namun berdampak nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Jepang misalnya sebagai Negara di kawasan Asia yang mengikuti perang dunia ke dua, juga telah mengalihkan model kolonialismenya dalam industri content seperti komik manga, kartun, film animasi, pop J-rock, makanan, fashion, dan bahasa Jepang, begitu juga Negara-negara Eropa, Amerika, Korea, dan lain-lain. Upaya untuk mengekspor Industri budaya semakin terlihat nyata, dan Indonesia adalah salah satu Negara tujuan produk-produk tersebut.


Dan dalam sejarah penjajahan, kolonialisme model baru ini memperlihatkan bagaimana parilaku orang-orang yang terjajah tersebut justru bangga, dan menjadikan “tuan”nya sebagai role model. Bagaimana perilaku kita saat bertemu wisatawan dari barat adalah cukup menggambarkan kita masih dalam keadaan “terjajah” setidaknya dalam alam pikiran kita.

Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi.
Sumber Gambar: https://cdn.brilio.net & http://3.bp.blogspot.com/
[1] Artikel no 47 dipresentasikan dalam Seminar Rumpun Sastra di FBS UNY, Yogyakarta pada 7 Desember 2007; kode: poskolonial sebuah pembahasan

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:16 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP