Tradisi Unik di Lamongan; Wanitahlah Yang Melamar Laki-laki - Verbal

Sunday, July 8, 2018

Tradisi Unik di Lamongan; Wanitahlah Yang Melamar Laki-laki

Pernikahan adalah hal yang jamak dilakukan diberbagai tempat di Indonesia. Pada umumnya tujuan diselenggarakannya pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, menjalankan perintah agama, dan/atau sekedar ingin memiliki pasangan hidup di hari tua. Setiap daerah memiliki cara dan tradisinya masing-masing dalam menjalankan prosesi adat pernikahan. Dan kebanyakan dalam proses lamaran laki-lakilah yang akan melamar terlebih dahulu, terlepas siapa yang ngebet untuk menikah, apakah laki-laki, atau apakah perempuan yang ngebet nikah terlabih dahulu. Namun tidak demikian di Kota Lamongan.

Sebagaian kota lamongan memiliki tradisi yang masih dijalankan sampai saat ini, yakni tradisi lamaran[1]. Di Indonesia biasanya laki-lakilah yang melamar perempuan, namun di sebagian kota lamongan justru perempuanlah yang akan melamar laki-laki. Mungkin akan terdengar aneh bagi kita yang berasal dari daerah lain. Mungkin kita juga akan bertanya-tanya, kenapa begitu? Kok bisa? Dan lain-laian. Memang tradisi ini terbilang sangat unik jika dibandingkan dengan berbagai tempat lainnya di wilayah jawa timur, dan bahkan memang tidak banyak daerah yang memiliki tradisi yang sama seperti yang terjadi di Lamongan.


Tradisi tersebut sudah berlangsung dari dulu, dan turun temurun dijalankan oleh warga sekitar. Dan karena sudah berjalan turun temurun, tradisi ini terasa biasa saja, dan baru akan terlihat aneh jika pihak laki-laki yang melamar terlebih dahulu. Walaupun demikian, masih terlihat juga beberapa kasus pihak laki-laki melamar pihak perempuan, walaupun demikian jumlahnya sangat sedikit.

Tradisi Lamaran

Tradisi melamar ini dimulai dengan “njaluk”, “mbaleni”, “nyetor” dan “nggawe dino”. Njaluk, atau meminta dalam bahasa Indonesia adalah suatu tradisi dimana pihak keluarga perempuan mendatangi keluarga lagi-laki untuk meminta anaknya untuk dinikahkan dengan anak perempuan mereka. Dan biasanya proses ini dilakukan dengan cara menunjuk perwakilan, dari orang kepercayaan keluarga perempuan tersebut. Biasanya dalam proses ini akan banyak bahasa “sindiran-sindiran”, serta basa-basi, dan diakhir pembicaraan akan ditegaskan apakah diterima atau tidak. Biasanya jawaban akan diberikan beberapa hari setelahnya.

Dan jika keluarga laki-laki bersediah memberikan anak laki-lakinya untuk dijadikan mantu keluarga perempuan maka dihari selanjutnya keluarga laki-laki akan mendatangi keluarga perempuan untuk memberikan jawaban tersebut, atau yang lebih sering disebut “mbaleni”.

Setelah keluarga perempuan mendapat jawaban persetujuan, maka pihak perempuan akan mulai menyiapkan seserahan (baca: Nyetor), baik berupa barang maupun makanan, walaupun demikian yang lebih sering dilakukan adalah seserahan berupa makanan. Makanan inipun tidak sembarang makanan, makanan tersebut biasanya lebih khas untuk acara lamaran/pernikahan, yang jarang sekali ditemui jika tidak ada acara tersebut. Makanan/seserahan yang akan diberikan kepada keluarga laki-laki umunya adalah “lemet”, “gemblong” (penyebutan huruf o sama dengan huruf o pada kata “gembong”), dan berbagai makanan pendamping seperti pisang, buah-buahan lain, nasi, rawon, semur, lodeh ayam, dan lain-lain. Banyak atau sedikitnya seserahan dalam proses nyetor ini tergantung pada kemampuan keluarga perempuan.


Setelah proses nyetor tersebut, maka akan dilanjutkan dengan memilih hari. Seperti keluarga didaerah jawa lainnya, dilamongan juga masih jamak ditemui proses memilih hari dengan berbagai metode perhitungan, baik metode “islam”, maupun metode yang terbilang kejawen, dan ini yang lebih sering dilakukan di lamongan.

Proses Resepsi Pernikahan

Setelah rangkaian proses lamaran dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan proses akad nikah[2]. Saat prosesi resepsi pernikahan yang dilamongan juga memiliki tradisi yang terbilang unik. Namun tidak semua wilayah lamongan menjalankan tradisi ini. Tradisi tersebut adalah menyembelih seekor sapi, lalu satu bagian kaki belakang (bokong sampai kaki) sapi akan diberikan kepada keluarga mempelai laki-laki. Bagian tubuh sapi ini lebih sering disebut dengan kata “sampil” (dengan penyebutan huruf I seperti huruf e pada kata “entok”). Biasanya pemberian sampil ini juga diikuti dengan makanan pendamping lainnya, yang sering kali diangkut dengan menggunakan “jodang” (berbentuk peti yang dipikul empat orang).


Setelah resepsi berahir, mempelai laki-laki dan perempuan (kemanten) akan disuruh mengantarkan makanan kepada sanak keluarga, sekaligus untuk mempernalkan diri sebagai anggota keluarga baru.

Sejarah Perempuan Melamar Laki-Laki

Dikisahkan dahulu, penguasa lamongan yang juga keturunan dari penguasa majapahit, beliau memiliki dua orang anak yang tampan rupawan. Kedua anaknya tersebut bernama panji laras, dan panji liris. Keduanya sedang bertandang ke wilayah nganjuk (sumber yang berbeda mengatakan wilayah Kediri), dan saat mereka berkunjung kesana, kebetulan putri dari penguasa wilayah tersebut langsung jatuh hati pada saat pandangan yang pertama. Kemudian sang putri mendesak keluarganya untuk melamar panji laras dan panji liris. Dari cerita tersebutlah tradisi perempuan melamar laki-laki berlangsung, bahkan sampai hari ini.


Gambar Hanya Ilustrasi. Sumber Gambar 
1. http://images.bridestory.com/image/upload/q_80,f_auto/tjfx9zulz4c1znlfgxo4.jpg
2. https://www.kaskus.co.id/
[1] Tradisi perempuan yang melamar ini sebenarnya di kota tetangga sepeti tuban yang daerahnya mepet dengan lamongan biasanya memiliki tradisi yang sama. Walaupun demikian, tidak semua wilaya lamongan juga memiliki tradisi yang sama. Tradisi ini lebih banyak ditemukan di wilayah pantura, dan wilayah lain yang berdekatan.
[2] Pemberian mas kawin sama seperti mas kawin pada umumnya, dan diberikan laki-laki kepada perempuan.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:39 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP