Sunday, April 29, 2018

APA YANG SEBENARNYA MENYATUKAN KEMBALI GERAKAN RAKYAT?

APA YANG BISA MENYATUKAN KITA?[1] Indonesia merupakan Negara besar yang terdiri dari wilayah daratan (pulau), dan lautan. Dengan landscape yang demikian, Negara ini melahirkan kekayaan ras, agama, suku, etnis, dan berbagai perbedaan lain, termasuk juga perbedaan perkerjaan. Indonesia memiliki kerawanan karena berbagai perbedaan yang timbul, tentu pada suatu saat akan terjadi masalah-masalah jika tidak ditanggapi secara dewasa. Dahulu Indonesia dijajah sekian lama oleh penjajah belanda maupun jepang, terbukti Indonesia bisa lepas dari cengkeraman kolonialisme, hal ini dikarenakan setiap elemen masyarakat Indonesia saling bahu membahu untuk menuntut kemerdekaan, ada semangat yang menyatukan kita, sebagai bangsa. Pada masa orde baru, Indonesia juga sanggup menumbangkan rezim yang otoriter, yakni pada zaman presiden soeharto. apa yang menyatukan kita? ya, persamaan nasib, lelah, bosan terhadap rezim yang "terkesan totaliter".

Jika kita lihat lagi, suksesnya bangsa Indonesia dalam melawan penindasan adalah dikarenakan masyarakat Indonesia saling membantu, bekerja sama, bahu membahu, dan turut serta ambil bagian dalam proses perlawanan. Dan sebagaimna kita tahu bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil belas kasihan dari para penjajah, namun berasal dari perjuangan rakyat, dan segenap bangsa Indonesia. Bagaimana Indonesia saat ini?
Memang benar yang pernah diwanti-wanti oleh presiden pertama, soekarno. Bahwa perjuangan dimasa lalu adalah perjuangan yang lebih mudah karena mengusir penjajah, sementara perjuangan sekarang kita melawan bangsa sendiri. Perjuangan ini justru lebih sulit, karna kita tidak lagi bisa melihat dengan jelas siapa lawan, dan siapa kawan, karena mereka semua adalah saudara sebangsa. Kadang yang terlihat seharusnya menjadi penyelamat, justru bertindak lebih dari seorang penjajah. Lalu siapa sebenarnya lawan kita saat ini?

DISKUSI

Dalam diskusi yang diselenggarakan pada hari jum’at malam (27/04/18) bertajuk “Apa yang Sebenarnya Menyatukan Kembali Gerakan Rakyat?” yang dihadiri oleh berbagai aliansi gerakan massa, dan para aktifis kampus di kedai warung kopi kalimetro. Mas eko dari “AJI Malang” mengungkapkan bahwa ada perubahan konfigurasi para konglomerat “sekarang konglomerat masuk dalam industri media”, hal ini dapat juga kita lihat berbagai perusahaan media adalah merupakan milik dari para konglomerat, yang bahkan mereka juga ikut dalam konstelasi politik nasional. Beberapa dari media tersebut juga memiliki peran besar dalam mengarahkan opini publik yang tidak jarang justru merugikan rakyat kecil (red).

Diskusi dilanjutkan oleh panelis yang kedua, Mas Putut (AGRA Malang), beliau membuka  diskusi dengan menyinggung bagaimana keberpihakan pemerintah terhadap para petani kecil, “Pemerintah banyak mengambil kebijakan yang memperburuk kondisi masa tani”, hal ini tentu saja bukan isapan jempol belaka, bagaimana impor beras,[2] impor garam,[3] merupakan salah satu bukti nyata adanya indikasi ketidak berpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil. Bahkan yang lebih menggelitik hati kecil adalah 1 % orang Indonesia menguasai 45% kekayaan nasional,[4] ini merupakan bentuk ketidak adilan masyarakat, dimana kesenjangan antara si miskin dan si kaya akan semakin jauh.

Selain persoalan rakyat dengan pemerintah, mas putut juga menambahkan bahwa “Persoalan buruh kurang mendapat perhatian dari serikat buruh”, ini juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut, bagaimana ketika ada buruh yang dirugikan oleh perusahaan tidak mendapatkan bantuan dari serikat buruh dimana orang tersebut menjadi anggota serikat. Dua persoalan di atas merupakan contoh dari bagaimana rakyat kecil tertindas dengan berbagai hal, hal ini kemudian di tutup dengan statemen bahwa penyelesaian persoalan rakyat kecil ini harus dilakukan dengan bersama-sama “Persoalan masa tani tidak bisa diselesaikan sendiri, penyelesaianya bisa dilakukan bersama”.


Pemantik terahir disampaikan oleh Mas danil (Kristen Hijau), prolog dibuka dengan menyebutkan siapa saja yang merupakan kelompok masyarakat rentan terhadap penindasan, “petani, buruh, nelayan, masyarakat adat, mahasiswa, warga terdampak perubahan lingkungan, kelas menengah, rentan dalam masyarakat kapitalistik”, dalam diskusi ini beliau menegaskan bahwa sebenarnya masyarakat kelas menengah juga masih merupakan kelas yang rentan, atau disamakan dengan kelas buruh, walaupun mereka lebih baik tingkat ekonominya dibandingkan dengan buruh biasa. Hal ini dikarenakan orang-orang kelas menengahtersebut menurut mas danil “masih menerima upah”.
Dalam diskusi terahir ini menjelaskan, bahwa kapitalisme bekerja dengan skema mengerucut ke atas, seperti piramida. Dimana kelas paling atas adalah kelas dengan jumlah paling sedikit, sementara kelas paling banyak adalah kelas yang paling bawah, yang menyangga, atau dipaksa dijadikan tumpuhan tegakknya piramida tersebut. Sementara batas yang memisahkan kelas atas dan kelas bawah adalah para militer yang memastikan kelas bawah tidak bisa naik ke atas.

Dalam masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, kedudukan para agamawan dalam struktur masyarakat feodal digantikan oleh para ilmuan dan cendikiawan “Cendikiawan, ilmuan, profesor bekerja seperti agamaawan dalam masyarakat feudal”, dimana bebrapa oknum tersebut dengan sengaja mereproduksi wacana untuk memastikan posisi kelas elit tetap aman.

APA YANG SEBENARNYA MENYATUKAN KEMBALI GERAKAN RAKYAT?

Perang antar kelas tidak hanya sebagai mitos, hal ini betul-betul terjadi. (Waren Buffet, 2011, “perang kelas itu ada, dan terjadi, dan kelas saya yang menang”). Dengan mengutip ini, mas danil berusaha menggambarkan bagaimana peperangan antar kelas itu benar-benar ada, dan kelas elit telah menyadarinya, dengan berkualisi, elit telah dengan serius mengamankan posisi mereka sebagai elit. Dan mirisnya kelas yang tertindas, rakyat kecil belum sadar betul dengan realitas ini.
Jangan mengharapkan “lawan” berbuat baik, fenomena dimana ada partai-partai yang mengatas namakan partainya orang-orang tertindas, partainya buruh, partainya rakyat kecil, nyatanya yang menjadi penggeraknya adalah orang-orang dengan capital besar. Kita patut berfikir kembali, apa benar partai-partai tersebut akan berpihak kepada rakyat kecil? Apakah bisa mereka berbuat banyak untuk masyarakat tertindas?,

Apa yang bisa kita lakukan dengan keadaan seperti ini?

Masyarakat kecil harus sadar, bagaimana kapitalisme benar-benar hadir dan mengancam kehidupan masyarakat. Setelah itu, kita harus menghimpun kekuatan, dan satu-satunya kekuatan yang kita miliki adalah jumlah. Kelas kita adalah merupakan kelas terbesar, kelas yang paling banyak anggotanya, maka dengan kesadaran yang baik, gerakan masyarakat kecil pasti akan mampu merobohkan bangunan piramida masyarakat kapitalistik. Oleh karena itu, rakyat kecil harus mengkonsolidasikan diri kedalam organisasi yang solid dan besar, karena tanpa itu semua orang miskin, petani, buruh, nelayan, masyarakat adat, mahasiswa, warga terdampak perubahan lingkungan, akan tettap menjadi masyarakat yang rentan penindasan,  “Tanpa organisasi yang solid dan besar kita akan selamanya rentan (mas danil).




[1] Tulisan ini bukan merupakan press rilis atau sejenisnya, ini hanya tulisan saya pribadi yang saya olah dengan beberapa opini, dengan mengutip beberapa kata yang disampaikan dalam sebuah diskusi
[2] https://www.voaindonesia.com/a/pengamat-impor-beras-jelang-panen-raya-rugikan-petani-/4209067.html
[3] https://tirto.id/impor-garam-berpotensi-makin-merugikan-petani-ctDt
[4] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3787540/arif-budimanta-1-orang-terkaya-ri-kuasai-45-kekayaan-nasional

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:31 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..