Sunday, March 4, 2018

PSHT; TEGO LARANE, ORA TEGO PATINE

Tego larane ora tego patine adalah satu dari sekian ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate, salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia, atau bahkan di dunia. Falsafah tersebut merupakan salah satu ajaran “Persaudaraan” yang diberikan kepada setiap calon anggota persaudaraan setia hati terate selama menjadi siswa, sehingga kelak ketika menjadi warga dapat menjadi saudara yang disebut dalam bahasa organisasi pencak silat ini sebagai; ikatan batin antara mausia satu dengan manusia yang lainnya yang tidak dapat dipisahkan oleh suatu hal apapun. Dari sedikit uraian di atas dapat kita ketahui betapa kuat ikatan yang terbentuk antar anggota PSHT, sehingga tidak heran rasa persaudaraan ini kemudian dapat dilihat semua orang sebagai sebuah solidaritas, walaupun sebenarnya konsep persaudaraan dalam organisasi PSHT tidak sedangkal konsep solidaritas yang dipahami oleh halayak ramai.

Fenomena Pengawalan Kasus PSHT Vs Bonek

Sekitar hari kamis tanggal 1 maret 2018 lalu, organisasi yang berpusat di madiun ini membuktikan jalinan persaudaraannya dengan ikut mengawal kasus penganiayaan sekelompok oknum supporter bonek kepada salah satu anggota PSHT (persaudaraan setia hati terate) yang mengakibatkan hilangnya nyawa korban penganiayaan. pengawalan kasus ini secara konsisten dilakukan mulai dari awal mula diperkarakan sampai pada pembacaan putusan. Pengawalan pembacaan putusan yang dilakukan di pengadilan negeri (PN) Surabaya, tidak tangung-tanggung sampai dihadiri tidak kurang dari lima ribu (5000) anggota persaudaraan setia hati terate, hal ini menyusul juga banyaknya isu tentang hadirnya sporter bonek di acara tersebut.

Setelah sekitar jl. Arjuno Surabaya dipenuhi oleh masa persaudaraan setia hati terate, belakangan massa bonek baru terlihat. Aksi dua massa tersebut (psht vs Bonek) diamankan oleh tim gabungan dengan jumlah anggota yang cukup banyak. [1]

Dari uraian di atas setidaknya hati kecil kita ingin bertanya, dari manakah persaudaran setia hati terate bisa mendatangkan massa sebanyak itu? Dan siapa yang mendatangkannya?. Seperti aksi massa yang pernah terjadi direpublik ini, yang biasanya dihadiri oleh banyak orang, pasti akan ada setidaknya “makan siang” untuk dapat menyedot banyak massa. Tidak demikian dengan warga persaudaraaan sitia hati terate, gerakan yang lahir berdasarkan hati nurani setiap warga PSHT tidak membutuhkan imbalan, dari setiap gerakan yang telah diyakini. Persaudaraan yang telah tertanam begitu dalam dalam sanubari setiap anggota yang bahkan bisa melebihi kasih sayang antara saudara kandung ini begitu rumit untuk dapat diungkapkan namun jelas terlihat nyata.

Warga PSHT berdatangan secara mandiri dengan menggunakan kendaraan seadanya, dan dengan biaya sendiri. Jika diperhatikan warga datang dari berbagai daerah di wilayah jawa timur, bahkan juga terlihat saudara-saudara yang berasal dari ujung timur Indonesia. Walaupun tanpa intruksi langsung dari pusat madiun, saudara-saudara persaudaraan setia hati terate dapat menghimpun sampai jumlah yang sangat fantastis, apa lagi jika ada instruksi dari pusat madiun, tentu tidak berlibihan jika kota Surabaya akan dapat disulap menjadi lautan hitam.

Makna Persaudaraan

Sebagai organisasi pencak silat, persaudaraan setia hati terate memang menjadikan persaudaraan sebagai pilar penyangga utama tegaknya organisasi, dengan bahasa sederhana dapat kita katakan persaudaraan adalah segalahnya, atau dalam bahasa PSHT adalah “ora ono kamulyan tanpo seduluran” (tidak ada kemulyaan tanpa persaudaraan), kira-kira begitulah falsafah yang dianut. Dari falsafah ini kemudian muncul pengertian diantara anggota, yang biasanya dikenal dengan kata “loro siji, loro kabeh” (sakit satu, sakit semua), atau dengan makna yang sama seperti “siji kena, kena kabeh”, dan lain-lain.

Memang terlalu pelik, rumit, makna persaudaraan dalam organisasi ini, tidak mungkin dapat diuraikan dalam artikel singkat macam ini, karena rasa persaudaraan yang ditanamkan selama masa latihan yang cukup panjang, sekurangnya selama dua tahun, membuat setiap warga dapat memaknai persaudaraan dengan begitu dalam. Ini jugalah yang kemudian membedakan oraganisasi persaudaraan setia hati terate dengan organisasi, atau perguruan lain.

Tego Larane Ora Tego Patine

Proses latihan PSHT yang terbilang sangat keras, ditambah dengan ajaran yang kuat, membuat setiap warga menjadi manusia yang kuat secara fisik dan kuat secara mental pula. Namun demikian tak menjadikan anggota PSHT menjadi sombong dan menindas sesukanya, karena selain falsafah yang tersebut di atas, “cinta-kasih” juga diajaran kepada semua warga persaudaraan setia hati terate, sebagaimana ajaran ini tercermin dalam lambang “hati bersinar” yang dipakai sebagai logo organisasi.

Latihan fisik yang tebilang relatif panjang, yakni selama kurang lebih 2 (dua) tahun, dalam seminggu biasanya terdapat tiga kali latihan rutin, dan dalam satu kali pertemuan latihan ini biasanya memakan waktu sampai 8 (delapan) jam latihan, jika dikalikan 2 tahun maka sama dengan 2.304 (dua ribu tiga ratus empat) jam. jika dibandingkan dengan jumlah sks yang harus dihabiskan mahasiswa selama kuliah adalah 160 SKS, itu artinya dalam satu masa latihan menjadi seorang warga persaudaraan setia hati terate, sama dengan 14x lulus menjadi sarjana (red.). Walaupun demikian, keras dan lamanya durasi latihan PSHT, tidak membuat latihan menjadi bar-bar, sebagaimana dalam falsafah “tego larane, ora tego patine”, sekeras apapun latihan tidak akan sampai hati seorang warga/pelatih untuk menganiaya siswa-siswanya. Sampai menjadi seorang warga ajaran ini akan tetap dipegang, dan dapat kita lihat manifestasinya (perwujudannya) dalam fenomena pengawalan kasus penganiayaan oknum bonek terhadap anggota PSHT.
________
[1] https://jatim.antaranews.com/foto/250143/bonek-dan-psht-di-pn-surabaya
gambar hanya ilustrasi, Sumber Gambar: google.com

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 10:26 AM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..