KEKERASAN DI SEKOLAH, TANGGUNG JAWAB SIAPA? - Verbal

Monday, February 19, 2018

KEKERASAN DI SEKOLAH, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Pendidikan adalah salah satu hal yang peling alami yang dialami manusia, mulai dari buaian orang tua, anak sudah mulai diajarkan tentang berbagai hal, misalnya mengatakan beberapa kata, melakukan beberapa hal dan lain- lain. Ini artinya tanpa adanya lembaga pendidikan formalpun manusia akan melakukan proses pendidikan. Adanya lembaga pendidikan formal dalam hal ini bisa kita lihat hanya sebagai perpanjangan proses pendidikan yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua sendiri karena sibuk dengan berbagai kegiatan untuk menghidupi keluarganya, oleh karena itu mereka memandatkan tugas mendidiknya kepada sekolah- sekolah dan para guru pendidik.

Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk dilaksanakannya proses pembelajaran dan pendidikan. sekolahpun memberikan berbagai pilihan kurikulum yang dapat dipilih oleh calon peserta didik dan walinya, berbagai model sekolah ditawarkan kepada publik, dan tentu saja biaya pendidikan yang variatif juga ditawarkan, keluarga miskin akan memilih sekolah yang murah, dengan kurikulum seadanya, dan keluarga kaya tentu akan memilih sekolah- sekolah paling bonafit di daerahnya, atau bahkan di ibu kota.


Kesadaraan masyarakat akan pentingnya pendidikan membuat isu- isu seputar pendidikan juga semakin santer diberitakan, baik berita- berita lewat media formal maupun media lisan ke lisan. Sepanjang pantauan kami, kurikulum 2013 (K13), atau kurikulum karakter adalah kurikulum yang paling besar pemberitaan dan pembicaraannya, dan semakin kesini pembicaraan tentang kurikulum juga semakin banyak dibicarakan oleh para stakeholder. hal ini selain juga disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan pendidikan lebih besar dari sebelumnya, juga disebabkan oleh semakin banyaknya media yang dapat menyalurkan masyarakat kepada isu- isu terkini, seperti adanya smartphone, media sosial, dan murahnya quota internet, sehingga masyarakat lebih mudah tersambungkan dengan pusat- pusat informasi terkait dengan hal- hal yang sedang hangat dibicarakan.

Merebaknya kasus-kasus yang berkaitan dengan karakter, sopan santun, dan sikap pelajar terhadap masyarakat, membuat dukungan akan adanya kurikulum karakter juga semakin besar, walaupun demikian tak sedikit juga yang menganggap kurikulum tidak efektif karena sering kali dirubah, bahkan ada idiom dalam masyarakat “ganti menteri, ganti kurikulum”, sehingga kurikulum dipandang hanya sebagai agenda politik dan bukan menjadi kebijakan yang berdasarkan pada asas kebutuhan.

Baru baru ini dunia pendidikan digemparkan dengan adanya berita dari Sampan - Madura, tentang kasus penganiayaan kepada seorang guru honorer yang diduga dilakukan oleh seorang pelajar, murinya sendiri. Berita ini beredar sekitar awal februari 2018 lalu.[1] Berita ini menyita banyak perhatian dari masyarakat, mulai dari aktivis pendidikan, pengamat pendidikan, sampai para orang tua yang prihatin dengan hal ini mulai membincangkannya. Diberbagai kota melakukan aksi peduli guru budi dengan melakukan penggalangan dana, hal ini selain karena peduli teman satu profesi, satu perjuangan, juga dipicu dengan pemberitaan bahwa guru budi masih meninggalkan jabang bayi yang masih dikandung isterinya. [2]

Walaupun sekolah dianggap sebagai lebaga yang tepat untuk proses pembelajaran anak, namun banyaknya kasus kekerasan yang terjadi dalam lingkungan sekolah membuat kita harus berpikir sebenarnya mengapa sampai banyak kasus kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan ini?

Kami mencatatat kekerasan dalam dunia pendidikan, utamanya sekolah dasar dan menengah tidak hanya terjadi kali pertama ini, setidaknya masih ada kasus yang lain yang terjadi yang mirip dengan kasus kekerasan terhadap Ahmad Budi Cahyono (guru budi), misalnya kasus Guru yang memukuli muridnya yang juga sempat viral di dunia maya, yang terjadi di awal bulan oktober 2017,[3] dan ada juga kaus orang tua murid memukuli kepala sekola, bahkan dihantam dengan meja kaca, [4] kejadian ini terjadi sekitar bulan februari 2018, dan masih banyak kasus lagi yang membuat miris dunia pendidikan. kekerasan di sekolah, kekerasan dunia pendidikan, dan kekerasan terhadap anak di sekolah adalah berbagai contoh kekerasan terhadap anak yang tidak bisa diterima begitu saja.


Saat kejadian penganiayaan terhadap guru budi, banyak pihak langsung menilai bahwa sikap anak (pelajar) Zaman sekarang tidak lagi seperti sikap pelajar jaman dulu yang memiliki perilaku yang baik, ditambah lagi adanya kalimat yang beredar dalam masyarakat seperti “Kids Jaman Now” membuat stigma jelek terhadap anak- anak zaman sekarang langsung merebak, bahkan ada juga yang mengatakan anak sekarang adalah “generasi micin” membuat semakin lengkap citra negative terhadap anak generasi 2000-an.

Namun demikian kita harus berfikir ulang dengan adanya fakta bahwa kekerasan dalam dunia pendidikan ternyata tidak hanya dilakukan oleh pelajar saja, ada juga kasus kekerasan yang dilakukan guru kepada muridnya, pun juga ada kasus kekerasan dalam lingkungan sekolah yang dilakukan orang tua murid kepada kepala sekolah. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar deretan kasus- kasus kekerasan dalam lingkungan pendidikan adalah murni kesalahan pelajar?.

Menurut hemat kami permasalahan ini begitu kompleks, tidak mungkin hanya disebabkan oleh pelajar zaman sekarang yang dianggap tidak lagi seperti pelajar zaman dahulu. Fakta tersebut memang benar, namun perubahan dalam masyarakat tentu saja menjadi hal yang lazim terjadi, masyarakat dahulu tidak sama dengan masyarakat zaman sekarang, dan masyarakat zaman sekarang hampir dapat disimpulkan akan berbeda dengan masyarakat 50 (lima puluh) tahun yang akan datang. Hal ini dikarenakan problem, dan tantangan masyarakat yang juga berubah.

Dalam kasus ini kami melihat bahwa pelajar, anak zaman sekarang hanyalah obyek dari dinamika masyarakat, terbentuknya kids zaman now juga merupakan dampak dari masyarakat zaman now juga. Bila kita lihat lagi, masyarakat zaman sekarang juga berubah dari masyarakat zaman dahulu yang respect terhadap keadaan lingkungan alam dan masyarakat. Masyarakat sekarang yang sering kita sebut sebagai masyarakat modern ternyata tidak lebih baik dari masyarakat zaman dahulu, tentu tidak dalam semua aspek. Masyarakat hari ini terbentuk sedemikian rupa sehingga terkesan acuh terhadap anggota masyarakat disekelilingnya. Dalam masyarakat desa misalnya, jika dulu berkencan, atau pacaran di depan umum adalah sesuatu yang memalukan bagi individu maupun orang tua, sekarang agak berbeda, masyarakat yangpermisif terhadap hal-hal tersebut membuat pacaran menjadi suatu yang biasa saja bagi orang tua, jika tidak ingin disebut membanggakan.


Rasa malu terkikis nyaris habis, hal ini bisa kita lihat dengan pemberitaan kasus korupsi di media masa, dan televisi. Entah bagaimana mereka yang tersandung kasus pencurian uang rakyat tersebut bahkan tidak memperlihatkan rasa malunya kepada masyarakat, berbanding lurus, masyarakat juga acuh saja terhadap sikap ini, terlalu permisifnya masyarakat terhadap kasus kasus seperti tersebut di atas membuat para pelaku tindak penyimpangan sosial tidak mendapatkan hukuman moral, sehingga tidak membuat jerah para pelakunya.

Kembali pada kasus kekerasan dalam dunia pendidikan, hukuman yang bahkan dilakukan guru dengan masksud mendidik ditanggapi serius oleh orang tua murid, sampai pada kasus pemukulan orang tua kepada guru. Hal ini bukan berarti membenarnkan kekerasan yang dilakukan guru kepada murid, oleh karena itu jika kita semua ingin merubah, atau memperbaiki keadaan, maka semua pihak harus introspeksi diri dan menyadari bahwa kesalahan tidak hanya pada anak, kesalahan menyebar disemua lini kehidupan bermasyarakat kita, oleh karena itu semua pihak harus memperbaiki diri, baik anak, masyarakat, orang tua, sampai pada para politisi dan “negarawan”. dan Perubahan itu semua tidak akan terjadi sampai kita semua memulai dengan memperbaiki diri kita masing- masing.
__________________
[1]https://news.detik.com/jawatimur/3847597/murid-aniaya-guru-hingga-tewas-kapolda-jatim-masih-pendalaman
[2]http://health.liputan6.com/read/3253353/korban-dari-murid-aniaya-guru-tinggalkan-istri-sedang-hamil
[3]http://nasional.kompas.com/read/2017/11/06/16500581/kasus-guru-pukul-siswa-di-pangkal-pinang-berujung-damai
[4]https://news.detik.com/berita/d-3866735/kepsek-di-bolmong-dipukul-pakai-meja-kaca-oleh-orang-tua-siswa

Sumber Gambar:

https://saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/08/Foto-Mbak-Piah-768x432.png
Artikel kekerasan di sekolah, kasus kekerasan anak di sekolah 2017, pengertian kekerasan di sekolah, kekerasan di sekolah oleh guru

Posted by: verbaidotid
verbal, Updated at: 12:44 AM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP