Tinjauan Tentang Media Belajar Digital - Verbal

Monday, January 1, 2018

Tinjauan Tentang Media Belajar Digital

Secara harfiah media memiliki makna “perantara” atau “pengantar”. Education Association (NEA) mendefinisikan bahwa media merupakan benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan peserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program intruksional.[1][18] Sebagaimana diungkapkan Sharon E. Smaldino dkk. bahwa ”media merupakan kategori yang sangat luas: teks, audio, visual, video, perekayasa, dan orang-orang”.[2][19]

Dari sini dapat diketahui bahwa media merupakan alat yang dipergunakan untuk “menyalurkan” pesan atau informasi dari pengajar kepada peserta didik (mahasiswa), dari sumber kepada penerima, dan pemberian pesan tersebut dimungkinkan dapat merangsang pikiran, perasaan, serta kemauan dalam diri mahasiswa, sehingga selanjutnya akan terjadi proses belajar. Penggunaan media dengan cara yang baik akan membantu mahasiswa mempercepat mencapai tujuan pembelajaran.

Seringkali belajar dianggap sebagai proses interaksi/transformasi informasi antara pengajar dan peserta didik, ini berakibat bahwa belajar harus menghadirkan tiga syarat utama, yaitu peserta didik, materi pembelajaran, dan tenaga pengajar. Namun pandangan ini dipandang Arif s. Sadiman dkk, tidak benar. Mereka mengatakan bahwa proses belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak.[3][20]

1.      Landasan Teoritis Penggunaan Media
Media memegang peranan vital dalam meningkatkan belajar, pasalnya dengan media kegiatan belajar akan lebih muda, hal ini diakibatkan oleh keberadaan media yang bersifat “portable” yang dapat dibawa kemana-mana. Yang pada akhirnya kegiatan belajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Pada era sekarang ini, mengawinkan media dengan teknologi menjadi trend tersendiri dalam dunia pendidikan, karena semakin membludaknya vendor yang ikut menyumbangkan hasil pemikiranya untuk dunia pendidikan. Hal ini juga dibantu dengan adanya system operasi terbuka pada smartphone. Penggunaan smartphone dalam pembelajaran dapat meningkatkan intensitas belajar, sebagaimana diungkapkan Sharon E. Smaldino dkk. “para siswa bisa memanfaatkan teknologi dan media dalam serangkaian cara untuk meningkatkan belajar”.[4][21] Burner dalam Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto mengungkapkan bahwa ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu: (1) pengalaman langsung/enactive, (2) pengalaman pictorial/gambar/iconic, dan (3) pengalaman abstrack.[5][22]

Pengalaman langsung merupakan pengalaman yang didapat langsung dari pengalaman nyata, pemaknaan sesuatu tidak berasal dari kata-kata saja namun berasal dari pengerjaan langsung. Misalnya “anyaman” didapat bukan dari kata “anyaman”, namun didapat dari langsung membuat “anyaman”. Pada tingkatan selanjutnya yaitu pengalaman pictorial, hal ini didapat dari gambar-gambar manipulasi, misalnya gambar, lukisan, foto, film dan lain-lain yang dapat menyerupakan objek aslinya. Dan yang terahir adalah pengalaman abstrak (symbolic), pengalaman didapatkan dari symbol-simbol dan kata-kata, pengalaman ini biasanya didapat dari membaca atau mendengarkan. Lebih lanjut Dale mengungkapkan semakin abstrak pengalaman akan semakin sedikit pengetahuan yang akan didapat.[6][23]

Pengalaman yang paling banyak menyumbang pemahaman, atau makna bagi seorang individu adalah pengalaman yang real yang dilakukannya sendiri, artinya dalam suatu pemberian materi seorang mahasiswa akan lebih banyak mengambil pengertian jika pengalaman itu diberikan dengan melibatkannya langsung, karena semkin abstrak suatu pengalaman maka pengetahuan yang akan didapatkan juga akan mengalami penurunan, walaupun diketahui semua bahwa mahasiswa telah memiliki kemampuan astraksi, atau memahami hal-hal yang bersifat abstrak.

2.      Urgensi penggunaan media
Pada hakikatnya proses pembelajaran adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar didalam kelas adalah merupakan proses komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, disini akan terjadi proses tukar pikiran dan pengembangan ide dan pengertian. Dalam komunikasi antara dosen dan mahasiswa seringkali terjadi ketidak efektifan/efesienan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah ketidak siapan mahasiswa untuk menerima materi yang diberikan dosen, dan kurang menariknya proses pembelajaran.

Salah satu usaha untuk menjembatani hal ini adalah dengan dengan menggunakan media. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar mempunyai nilai-nilai praktis sebagai berikut:

                    I.            Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa atau mahasiswa. Pengalaman masing-masing individu yang beragam karena kehidupan keluarga dan masyarakat sangat mempengaruhi pengalaman yang mereka miliki.

                  II.            Media dapat mengatasi ruang kelas. Banyak hal yang sukar dialami secara langsung oleh siswa/mahasiswa di dalam ruang kelas. Seperti objek terlalu besar atau terlalu kecil, atau objeknya terlalu cepat, dan terlalu lambat. Oleh karena itu, penggunaan media dapat mengatasi kesuaran-kesukaran tersebut.

                III.            Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Dengan penggunaan media, maka horizon pengalaman peserta didik akan semakin luas, persepsi semakin tajam, dan konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap, sehingga keinginan dan minat serta pengetahuan baru akan selalu timbul.

                IV.            Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta didik untuk belajar.

                  V.            Media memungkinkan untuk menyajikan pengalaman yang integral dari suatu yang konkret sampai kepada yang abstrak.[7][24]

Gelach dan Elly mengungkapan ada tiga petunjuk mengapa media harus digunakan: (1) ciri fiksatif, (2) ciri manipulative, dan (3) ciri distributive.[8][25] Ciri yang pertama menggambarkan bagaimana media dapat merekam, mengonstruksi, menyimpan peristiwa atau objek. Dengan cari ini memungkinkan media dapat menyimpan dan ditransportasikan tanpa mengenal waktu. Pada ciri yang kedua, mengungkapkan bahwa suatu media dapat memanipulasi, atau menyajikan peristiwa/objek asli dengan berbagai kebutuhan. Misalnya suatu objek bisa ditampilkan dengan memperlambat atau mempercepatnya, sehingga kebutuhan belajar/atau pembelajaran dapat dicapai sesuai tujuannya. Dan yang terahir, ciri distributive, adalah bagaimana media dapat ditranportasikan, dan diproduksi, sehingga distribusinya tidak hanya terbatas pada satu kelas, dan satu wilayah saja. Kemajuan teknologi dewasa ini memungkinkan media dapat didistribusikan sampai disegala penjuru dunia.

3.      Klasifikasi dan Karakteristik Media
                    I.            Klasifikasi Media
Rudi Bretz mengklasifikasi pada tiga unsur pokok yaitu suara, visual, dan gerak.[9][26] Menurut Duncan dalam menyusun taksonomi media menurut hirarki pemanfaatanya untuk pendidikan, Duncan ingin menjajarkan biaya investasi, kelangkaan dan keluasan lingkup sasaranya di satu fihak dan kemudahan pengadaan serta penggunaan, keterbatasan lingkup sasaran dan rendahnya biaya dilain fihak dengan tingkat kerumitan perangkat medianya dalam satu hirarki. Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa semakin semakin rumit jenis perangkat media yang dipakai, semakin mahal biaya investasinya, semakin sulit pengadaannya, tetapi juga semakin umum penggunaannya dan semakin luas lingkup sasarannya. Sebaliknya semakin sederhana perangkat media yang digunakan biayanya akan lebih murah, pengadaannya lebih mudah, sifat penggunaannya lebih khusus, dan lingkup sasaranya lebih terbatas.[10][27]

Dalam hal ini keberadaan smartphone yang dimanfaatkan sebagai media belajar tentu memiliki nilai keuntungan yang lebih besar, pasalnya dari segi kepemilikan dapat kita ketahui bahwa rata-rata mahasiswa telah memiliki piranti canggih smartphone, sehingga media ini menjadi media yang murah, pengadaannya lebih mudah, dan lingkup sasarannya lebih luas dan relative tidak terbatas.

                  II.            Karakteristik Media
Karakteristik media dapat dilihat menurut karakteristik ekonomi, kemampuan membangkitkan rangsangan indera pengelihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, maupun penciuman. Karakteristik media sebagaimana dikemukakan Kemp (1975) merupakan dasar pemilihan media sesui dengan situasi belajar tertentu. Dia mengatakan “the question of what media attributes are necessary for a given learning situation becomes the basis for media selection”. Jadi klasifikasi media, karakteristik media dan pemilihan media merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran.[11][28]

Strategi pembelajaran tidak dapat ditentukan dengan tanpa meperhatikan asas di atas, mengingat pentingnya memberikan media yang sesuai dengan pembahasan yang akan diberikan. Relevanitas suatu media akan berdampak pada signifikansi pemahaman peserta didik, atau mahasiswa pada umumnya, karena jika media yang digunakan tidak relevan dengan materi maka hal ini akan mengurangi kemungkinan pemahaman yang didapatkan oleh individu terkait. Hal di atas tersebut berdampak pada pentinnya pemilihan media, klasifikasi dan karakteristik media yang akan digunakan.

                III.            Kriteria Pemilihan Media
Media merupakan satu sarana untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Karena banyaknya media yang tersedia saat ini, maka setiap media memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk itu, pemilihan media harus disesuikan dengan azaz kesesuaian dan ketepatanguna-an.

Ada bebrapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih media, antara lain:

a)      Media yang dipilih hendaknya selaras dan menunjang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Masalah tujuan pembelajaran ini merupakan komponen yang utama yang harus diperhatikan dalam memilih media.

b)      Aspek materi menjadi pertimbangan yang dianggap penting dalam memilih media.

c)      Ketersediaan media di lembaga, atau kemampuan pengajar untuk mendesain sendiri media yang akan digunakan merupakan hal yang perlu menjadi pertimbangan.
d)      Media yang dipilih harus dapat menjelaskan materi secara tepat dan berhasil guna, dengan kata lain tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.

e)      Biaya yang akan dikeluarkan dalam pemanfaatan media harus seimbang dangan hasil yang akan dicapai. Pemanfaatan media yang “sederhana” mungkin lebih menguntungkan daripada penggunaan teknologi yang mahal bila mana hasil yang dicapai tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.[12][29]

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih suatu media, antara lain: yang pertama, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kedua, ketepat gunaan. Ketiga, kondisi siswa/mahasiswa. Keempat, ketersediaan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), dan yang terahir, adalah mutu teknis dan biaya.



Sumber Gambar: Google.com
[1] Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat-Press, 2002) hlm. 11
[2] Arif Rahman, Intructional Technology & Media For Learning: teknologi pembelajaran dan media untuk belajar (Jakarta: Kencana Penanda Media Group, 2011) hlm. 7
[3] Arif S. Sadiman dkk., Media Pendidikan: pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996) hlm. 1
[4] Arif Rahman, Instructional Technology & Media For Learning: teknologi pembelajaran dan media untuk belajar (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011) hlm. 16
[5] Cecep kustandi dan Bambang Sutjipto, Media Pembelajaran; manual dan digital (Bogor: Ghalia
[6] Ibid. 12
[7] Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat-Press, 2002) hlm. 14
[8] Cecep kustandi dan Bambang Sutjipto, Op.Cit hlm 13-14
[9] Ibid,, 27
[10] Arif S. Sadiman dkk., Media Pendidikan: pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996) hlm. 20
[11] Ibid,, 28
[12] Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat-Press, 2002) hlm. 15-16

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 8:00 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP