Sunday, December 17, 2017

Pengaruh Penggunaan Smartphone Sebagai Media Belajar terhadap Hasil Belajar melalui Motivasi

Telepon genggam menduduki peringkat wahid piranti yang paling banyak digunakan oleh orang Indonesia, dari semua kalangan strata sosial.[1][35] Mulai dari kalangan petani, mahasiswa, pejabat dan lainnya menggunakan telepon genggam. Hal ini juga didukung oleh maraknya vendor-vendor yang menyediakan telepon genggam dengan vitur menarik dengan harga yang murah. jurnal pengaruh smartphone terhadap hasil belajar siswa/ jurnal penelitian tentang smartphone/ pengaruh smartphone terhadap interaksi sosial mahasiswa/ pengaruh smartphone terhadap interaksi sosial pdf/ pengaruh smartphone terhadap kehidupan social/ skripsi pengaruh handphone terhadap prestasi belajar siswa pdf/ pengaruh smartphone terhadap interaksi sosial remaja/ skripsi pengaruh smartphone terhadap prestasi belajar siswa/

Keberadaan smartphone yang semakin popular dikalangan mahasiswa seolah menafikan adanya dampak negative dari piranti tersebut, pasalnya kebutuhan dan kegunaanya dipandang memiliki nilai lebih jika hanya dibandingkan dengan dampak negative yang akan ditimbulkannya. Menurut Perry, dkk. Dalam Herman & Tom Brown mengungkapkan bahwa “…Mobile technologies can make a significant inpact in supporting teaching and learning”.[2][36] Dari kutipan tersebut, maka dapat kita ketahui penggunaan smartphone sebagai media belajar memiliki dampak atau pengaruh pada hasil belajar, karena pengaruh pada proses belajar atau pembelajaran juga akan berdampak pada hasil belajar.


Piranti smartphone memiliki fungsi yang mirip dengan sistem komputer, yang di dalamnya memiliki banyak sekali fasilatas-fasilitas yang dapat dijumpai, hal ini membuat animo masyarakat untuk memiliki piranti tersebut semakin besar. Ditambah dengan semakin terjangkaunya harga ponsel genggam, membuat alat ini terdistribusi merata diseluruh kalangan masyarakat, dari kalangan menengah ke bawah, sampai masyarakat kalangan menengah ke atas.

Smartphone dilengkapi dengan beberapa fitur yang dapat mendukung penggunanya untuk melakukan proses belajar, dimanapun dan kapanpun. Hal ini akan memberikan kemudahan bagi mahasiswa, karena mahasiswa memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga smartphone menjadi pilihan untuk dijadikan sebagai media belajar, yang memungkinkan penggunanya untuk berselancar untuk mencari informasi seputar materi pelajaran.

Dari hasil pengumpulan data yang peniliti dapatkan, saat responden ditanyakan “apakah smartphone yang dimiliki responden digunakan untuk mengakses informasi seputar materi” didapatkan bahwa mayoritas responden menggunakan smartphone sebagai alat untuk mengakses materi. Dari uraian diatas maka dapat diketahui bahwa sudah bukan menjadi hal baru lagi jika smartphone memang dapat digunakan untuk menjadi media belajar. Pada akhirnya sudah menjadi kebutuhan baginya untuk memiliki piranti canggih ini, karena selain dapat digunakan sebagai alat komunikasi, smartphone juga dapat digunakan untuk saling berkolaborasi dengan teman sejawat untuk saling membagi informasi atau seputar materi kuliah, yang selanjutnya juga akan menimbulkan motivasi, sebagaimana diungkapkan Barker “The impact of wireless technologies on portability, collaboration and motivation”.[3][37]


Motivasi sendiri diartikan Atkinson sebagai “sebuah istilah yang mengarah kepada adanya kecenderungan bertindak untuk menghasilkan satu atau lebih pengaruh-pengaruh”. Beberapa ahli lain, seperti Halpin, Payne, Ellert, Freehill & Mc Donald, dan zilli mengungkapkan bahwa “motivasi merupakan karakteristik personal yang menjadi energi, antusiasme, semangat, kekuatan, keteguhan, dan kebutuhan untuk berperilaku dan mencapai prestasi”.[4][38] Di lain sisi Esa N. Wahyuni menambahkan bahwa:

Dorongan, kebutuhan, insentif, ketakutan-ketakutan, tujuan-tujuan, tekanan social, self confidance, minat, keingintahuan, atribusi untuk sukses atau gagal, espektasi-espektasi, kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai dan lain sebagainya, merupakan variabel-variabel yang menentukan intensitas motivasi siswa dalam belajar dan memberikan energy serta mengarahkan perilaku individu.[5][39]

Dari kutipan diatas maka dapat kita pahami bahwa motivasi adalah karakteristik personal yang dapat menjadi energi, semangat, dan kebutuhan yang mengarah kepada adanya kecenderungan bertindak untuk mengasilkan dan mencapai prestasi Sementara itu David MC Clelland dalam Mc Clalland’s Achievment Motivation Theory atau teori motivasi prestasi MC Clelland dia mengungkapkan bahwa “individu memiliki cadangan energi potensial, bagaimana energy ini dilepaskan dan dikembangkan tergantung pada kekuatan atau dorongan motivasi individu dan situasi serta peluang yang tersedia”.[6][40] Dari kutipan di atas diketahui bahwa energi yang dimiliki tiap individu dapat dikeluarkan dan dikembangkan dengan dorongan motivasi, situasi dan peluang. Dalam hal ini dorongan motivasi dapat diperoleh dari keinginan/motif mahasiswa untuk berprestasi, maka dengan motif ini tentu mahasiswa akan memiliki energi potensial yang dapat dikeluarkan saat memiliki tujuan sebagai motor penggeraknya. Individu sebagai mahluk yang aktif juga akan melihat adanya kesempatan yang dapat di raih, sehingga hal ini juga akan berkontribusi terhadap tumbuhnya keinginan untuk terus berprestasi.

Prestasi belajar adalah seluruh hasil atau perubahan yang dialami individu setelah melakukan proses belajar, baik berupa perubahan kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prestasi belajar dapat dilihat dari hasil ulangan, UAS, atau IP (Indeks Prestasi). Sebagaimana Mulyana mengungkapkan bahwa “Hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang”.[7] [41]


Dengan demikian hasil belajar adalah sebuah perubahan yang dialami oleh subjek pendidikan yaitu mahasiswa, perubahan yang dimaksud dapat berupa perubahan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun kemudian, dalam penulisan penelitian ini yang akan dimaksud dengan hasil belajar adalah nilai IP (indeks prestasi) yang diperoleh dari dokumentasi nilai. Hal ini dikarenakan pendidik/dosen dipastikan telah memproses nilai-nilai dari ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik sehingga dirasa cukup apapila hasil belajar didefinisikan sebagai suatu hasil dari proses pembelajaran.










Sumber Gambar: Google.com
[1] [35] Techinasia, Indonesia Diproyeksi Lampaui 100 Juta Pengguna Smartphone 2018, Keempat Di Dunia (http://id.techinasia.com/jumlah-pengguna-smartphone-di-indonesia-2018 diakses tgl 18/03/2015 jam 15.31)
[2] [36] Herman Van Der Merwe & Tom Brown, Mobile technology: the future of learning in your hand (Sout Africa: Qualimark Printers, 2005), hlm. 27
[3] [37] Jurnal, Barker, Dkk., A proposed Theoretical Model For M-Learning Adoption In Developing Countries (South Africa: Rhodes University, 2005) hlm. 2
[4] [38] Esa N. Wahyuni, Motivasi Dalam Pembelajaran (Malang: UIN-press, 2009) hlm. 12
[5] [39] Ibid,.22
[6] [40] Solehudin88, Teori Motivasi Mc Clelland & Teori Dua Factor Hezberg (http://blog.umy.ac.id/sholehuddin88/motivasi/teori-motivasi-mccllelland-teori-dua-faktor-hezberg/, diakses 03 Juli 2015 jam 05.00 WIB)
[7] [41] Ainamulyana, Pengertian Hasil Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (http://ainamulyana.blogspot.com/2012/01/pengertian-hasil-belajar-dan-faktor.html, diakses 12 April 2015 jam 14.15 wib)

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:59 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..