Monday, October 16, 2017

GERAKAN SOSIAL BARU

Gerakan sosial sudah lama familiar dalam telinga para penggiat, atau setidaknya mereka yang berada dalam lingkaran study sosial. Bagi para aktivis gerakan sosial, gerakan sosial dimaknai sebagai suatu gerakan perubahan ekonomi politik yang saat ini banyak diwarnai oleh paham neoliberalisme yang begitu pekat. Memang jika ditelisik lagi lebih jauh, sudah saatnya para penggiat, LSM, atau organisasi non pemerintah (NGO) melakukan penguatan bagi gerakan sosial sebagai alternative penguatan wacana gerakan sosial baru.

Gerakan sosial (social movement) adalah aktivitas atau tindakan sosial berupa sejenis gerakan kelompok informal, yang biasanya berupa organisasi, berjumlah besar yang berfokus pada isu - isu sosial, dan politik yang melakukan, mengkampanyekan, atau menolak sebuah perubahan.[1]


Gerakan sosial di Indonesia sebenarnya telah ada pada masa kolonialisme belanda, dengan adanya perlawanan secara bersama dan masiv oleh masyarakat kepada pemerintah kolonial, sampai kepada pemerintahan orde baru, yang merupakan pemerintahan resmi dari bangsa Indonesia sendiri pasca kemerdekaan, dan berlangsungnya pemerintahan soekarno. Dalam orde baru yang sangat membatasi gerakan, gerakan sosial masih terus berlangsung dan seolah tidak bisa dikendalikan hingga sampai pada gerakan melengserkan rezim soeharto. 

Sejalan dengan semakin terbukanya kran demokrasi, gerakan sosial menemui pada proses perkembanganya. Dan sekarang telah berkembang menjadi gerakan sosial agraria, feminism, gerakan lingkungan, gerakan gender, dan banyak lagi gerakan dengan pola gerakan yang mempunyai ciri khas masing - masing.

Gidden menddefinisikan bahwa gerakan sosial adalah serangkaian gerakan yang dilakukan secara kolektif untuk mencapai sebuah tujuan bersama yang dilakukan di luar lingkup organisasi mapan. Definisi senada diungkapkan oleh sydny tarrow bahwa tantangan - tantanga kolektif yang didasarkan pada tujuan bersama, dan solidaritas kelompok, yang dilakukan secara terus-menerus yang melibatkan elit, penentang dan pemegang kekuawasaan.[2] 


Pengertian tersebut memperlihatkan bahwa sekup gerakan sosial bersifat kuantitatif, dimana jumlah dari pelaku gerakan sosial harus memiliki jumlah yang besar, sementara pada kenyataanya gerakan yang dilakukan oleh sedikit orangpun kadang memiliki dampak yang besar, ini artinya dalam gerakan sosial dapat pula dilakukan oleh beberapa orang saja. Namun secara garis besar, pengertian ini menunjukkan bahwa gerakan sosial adalah sebuah gerakan untuk menentang dalam upaya untuk mencapai tujuan kolektif/ bersama.  

Dari uraian di atas maka dapat kita ketahui bahwa gerakan sosial telah mengalami perubahan definisi, gerak dan bentuk gerakan. Gerakan sosial baru berkembang tidak hanya tentang gerakan yang bersifat sosial sebagaimana definisi sebelumnya, fokus gerakan sosial hanya pada bidang sosial dan politik saja, kini gerakan sosial baru telah masuk pada pola, definisi gerakan yang baru. Isu lingkungan menjadi isu yang dominan dalam masyarakat sekarang, ketakutan akan kerusakan lingkungan dihadapkan dengan pihak kapitalis yang ingin mengeksploitasi kekayaan lingkungan menjadi ketegangan yang senantiasa mewarnai dinamika antara pengembang, masyarakat, LSM, elit dan para pemegang kekuasaan.


Tarrow menyebutkan bahwa tidak semua gerakan dapat dikatakan sebagai gerakan sosial, beliau memberikan syarat bagaimana sebuah gerakan dapat dikatakan gerakan sosial, diatanranya adalah:[3]

1.      Tantangan Kolektif

Yang membedakan antara gerakan sosial dengan tindakan sosial lainnya adalah adanya tantangan kolektif yang bersinggungan dengan elit, para penguasa, atau aturan - aturran cultural terentu.

2.      Tujuan Bersama

Tidak semua orang yang terlibat dalam gerakan sosial memiliki tujuan yang sama, biasanya ada juga, yang iseng sekedar ikut, atau karana hasrat untuk sekedar mencemooh, kelompok lain, atau elit pemerintah. Maka kemudian jika ada alasan yang paling tepat untuk sebuah gerakan sosial, adalah tujuan bersama untuk membuat klaim atas kepentingan bersama, menentang otoritas, dan elit.

3.      Solidaritas dan Identitas Kolektif

Sebuah gerakan dapat saja dilakukan oleh orang yang sembarangan, namun gerakan yang revolusioner, yang berjalan terus menerus adalah gerakan yang didasari atas kesamaan identitas, dan yang dapat melahirkan solidaritas yang mantap.

4.      Memelihara Politik Perlawanan

Gerakan sosial akan menguap begitu saja jika stakeholder tidak dapat memelihara adanya tantangan kolektif, tujuan bersama, solidaritas dan identitas kolektif. Untuk menjadi gerakan yang terus menerus maka politik perlawan harus dipelihara dengan baik.




Sumber Gambar: http://www.syaldi.web.id
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_sosial
[2] Suharko, Gerakan sosial baru di Inndonesia: repertoar gerakan petani
[3] Ibid,,

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 8:04 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..