Pendidikan Multikultural Sebagai Resolusi Kompleksitas Masyarakat Indonesia - Verbal

Thursday, April 6, 2017

Pendidikan Multikultural Sebagai Resolusi Kompleksitas Masyarakat Indonesia

Indonesia adalah suatu negara yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, suku, dan agama sehingga Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Nurcholis Madjid mengungkapkan bahwa pluralitas dan multikultural adalah sebuah aturan Tuhan (Sunnatullah) yang tidak dapat diingkari dan barang siapa yang mencoba mengingkari hukum kemajemukan budaya, maka akan timbul fenomena pergolakan yang tidak berkesudahan.[1] Pendidikan sebagai jembatan atas perbedaan-perbedaan antara satu budaya dengan budaya yang lainnya, sehingga pendidikan harus mampu menciptakan suatu masyarakat yang menjunjung kesetaraan, dimana perbedaan bukan menjadi sesuatu yang aneh dalam masyarakat, atau lebih sering disebut sebagai masyarakat madani.

Masyarakat madani atau lebih familiar dengan istilah civil society merupakan masyarakat yang mengacuh pada masyarakat yang diciptakan pada masa Muhammad di madinah, dimana perbedaan, atau plaritas mendapatkan tempat yang setara. Tidak ada diskriminasi masyarakat minoritas tertentu. Maka selanjutnya pendidikan sebagai sarana pencerahan seyogyanya mampu memelihara hal-hal tersebut di atas. Sejalan dengan itu, Musa Asy’arie mengemukakan bahwa pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural.[2]


Realitas kehidupan Indonesia yang plural bagai pisau bermata dua, dimana keadaan ini dapat berdampak positif, yang membuat Indonesia memiliki khasanah budaya yang kaya, hal ini juga dapat meningkatkan persendiaan ekonomi masyarakat, karena ada banyak budaya yang dapat dikembangkan menjadi wisata budaya, atau sebagainya. Dilain pihak pisau ini juga dapat membuat sayatan dalam masyarakat yang plural, perbedaan akan menciptakan konfik, disintegrasi takkan terelakkan jika fakta ini tidak disikapi dengan bijak dengan tidak adanya sikap yang toleran. Disini pendidikan harus mampu menciptakan pola pandang siswa (masyarakat) yang toleran, multicultural, dan egaliter. 

Kenyataan adanya pergolakan, konflik yang melibatkan suku, agama, dan ras (SARA) yang semakin gencar di Indonesia, hal ini menunjukkan pendidikan harus bekerja lebih keras lagi untuk menciptakan masyarakat yang ideal dalam kesetaraan perbedaan - perbedaan. Pendidikan sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan masyarakat egaliter, hal ini menharuskan guru untuk senantiasa menanamkan sikap yang toleran, terhadap siswa pada setiap kesempatan. 


Terdapat fakta yang menarik dalam prilaku para civitas akademika. Banyak hal-hal kecil yang tidak disadari merupakan awal dari sikap intoleransi, dibiarkan begitu saja berkembang dalam pendidikan, baik strata dasar, menengah bahkan diperguruan tinggi. Seringkali kita lihat, saat ada teman, guru atau dosen menerangkan atau berargumentasi, tidak sedikit dari mereka tidak mendengarkan, justru asik dengan kegiatanya sendiri-sendiri. Mereka tidak berusaha memahami apa yang sedang orang lain pikirkan, tidak mendengar untuk berbicara. Hal ini membuat sikap intoleransi akan semakin berkembang, karena seringkali pendapat ditolak sebelum didengarkan, dengan makna yang sesungguhnya.

Tidak hanya itu, apresiasi yang minim juga banyak terlihat dalam dunia pendidikan. Arogansi intelektual semacam ini membuat kesadaraan akan ide lain yang mungkin akan lebih baik tidak didapatkan. Banyak kita lihat saat orang lain belum selesai berbicara kita memutusnya ditengah dengan argumentasi kita, dan lebih menyakitkan dengan kalimat yang cukup pendek “saya tidak setuju!”, dan kadang diulang berkali-kali.

Dari uraian di atas dapatkita ketahui, betapa intoleransi dapat berkembang dengan muda dalam kehidupan sehari-hari. kadang hal kecil yang biasa kita lakukan, tidak sadar juga dapat menumbuhkan sikap intoleran di kemudian hari. oleh karena itu, setiap anggota mayarakat harus disadarkan lewat mimbar-mimbar khotbah dan pendidikan, sehingga kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera dapat terwujud dalam masyarakat Indonesia, hal ini sejalan dengan dasar negara kita pancasila. sebagaimana yang tertuang dalam sila kemanusiaan, dan sila keadilan.

___________________
Sumber Gambar: Google.com
[1] Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 56.
[2] H.A.R. Tilaar. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar Pedagogik Tarnsformatif untuk Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 5.

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 8:05 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..

 
UP