Monday, December 17, 2012

APLIKASI TEORI SKINNER’S OPERANT CONDITIONING pada pembelajaran Geografi di skolah


A.     Merasakan Adanya Masalah
Geografi merupakan mata pelajaran wajib di sekolah menenga pertama dan skolah menenga atas pada kelas pertama, ini brarti mata pelajaran ini adalah sebagai kebutuhan dalam menyelesaikan pendidikan di sekolah tingkat dasar dan menenga. Oleh karena itu diperlukan adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa supaya proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan lancar. Namun, tidak jarang banyak guru mata pelajaran Geografi kurang faham manfaat penggunaan metode pembelajaran yang tepat, sehingga banyak guru mengabaikan akan hal ini.
Teori belajar behaviorisme berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme  mulai ditinggalkan dan banyak lembaga pendidikan lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok  untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
B.     Eksplorasi dan Analisis Masalah
Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin telah mewajibkan seluruh umatnya agar selalu belajar. Bahkan, Allah mengawali Firmanya yang diturunkan kepada Muhammad dengan perintah untuk membaca. Membaca merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini, proses belajar tidak hanya dibatasi dengan mempelajari ilmu-ilmu yang berbasis agama saja, namun lebih luas ayat ini juga mengandung perintah untuk belajar ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu Geografi, fisika, biologi dan lain sebagainya. Betapa pentingnya belajar, oleh karena itu dalam Firmanya, Tuhan telah berjanji akan mengangkat derajat orang yang belajar dari pada yang tidak.
Geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang Bumi dan strukturnya beserta hubunganya dengan manusia. Dengan mempelajari ilmu ini diharapkan seorang siswa memiliki kesadaran geografis, sehingga mereka mengerti tindakan apa yang harus diambil pada saat dalam suatu wilayah tertentu.
Dalam pembelajaran mata pelajaran Geografi disekolah, berlangsung proses senergis antara guru, siswa dan lingkugan pembelajaran dalam upaya mencapai perubahan tingkah laku yang positif. Oleh karena itu pembelajaran Geografi harus dibentuk seefektif mungkin, dengan mengaplikasikan berbagai pendekatan dan metode yang relevan dengan konteks pengembangan pemahaman siswa. Namun, yang terjadi sekarang adalah banyaknya figure seorang guru kurang bisa merencanakan metode dan pendekatan yang efektif dalam proses pembelajaran. Seringkali pembelajaran proses pembelajaran Geografi diarahkan kepada pembelajaran yang tradisional, yaitu seorang guru bertindak sebagai pemateri dan menggunakan metode penyampaian materi dengan khotbah sehingga siswa relative lebih pasif. Selain itu pembelajaran Geografi akan terkesan tidak menarik, monoton dan membosankan.
 Dalam hal ini apabila seorang guru memiliki kretifitas untuk mendesign perencanaan pembelajaran, maka sebenarnya pembelajaran Geografi akan lebih asik, efektif dan menyenangkan.
C.     Penyajian Masalah
Dalam proses belajar mengajar sering kali pembelajaran diarahkan kepada pembelajaran yang bersifat tradisional, yaitu guru menerangkan dengan metode ceramah dan siswa hanya mendengarkan tanpa adanya umpan balik (feed back). Dengan metode ini suasana kelas akan sangat membosankan, selain itu metode ini juga sangat tidak efesien.
Contohnya dalam pertemuan yang membahas sub bab siklus hidrologi, seorang guru hanya menceramahi muridnya tanpa memberikan kompetensi dasar dan standart kompetensi (silabus) terlebih dahulu kepada siswanya. Maka, siswa tersebut tidak akan mampu memberikan respon pada saat guru tersebut memberikan materi. Yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian stimulus agar murid bisa ikut berbicara dan mengungkapkan pendapatnya di dalam proses pembelajaran tersebut.
Permasalahan juga banyak muncul dari seberapa besar respect seorang guru tehadap perilaku yang dimunculkan oleh siswa, jika prilaku yang positif tidak diimbangi dengan pemberian penguat atau reword maka prilaku itu tidak akan diulang oleh siswa tersebut karena hasil dari prilaku yang dia lakukan dianggap tidak memuaskan.
Tidak jarang guru juga tidak memperhatikan kondisi para siswanya, dan memaksakan kehendaknya kepada mereka tanpa memperhatikan adanya stimulus dan penguatan prilaku. Padahal tindakan guru yang seperti ini akan menyebabkan kondisi kelas yang tidak kondusif dan tidak menyenangkan.
Seorang guru tidak perlu menjadi satu-satunya pemateri dalam sebuah kelas, karena semua orang dalam kelas itu dapat digunakan sebagai seorang pemateri. Artinya seorang guru juga harus memodifikasi prilaku siswanya agar mau menjadi seorang pemateri, dan tidak kalah pentingnya seorang guru harus meberikan hak dan waktu kepada siswanya untuk memberikan pendapat serta ikut berbicara. Dalam hal ini B. F. skinner mengemukakan bahwa “prilaku seorang individu dapat di modifikasi”.
Dalam teori ini seorang guru dituntut agar dapat memodivikasi prilaku siswanya agar prilakunya sesuai dengan yang diinginkan.
D.     Pemecahan Masalah
Fenomena pembelajaran geografi yang dianggap membosankan dan tidak menyenangkan oleh siswa sekolah menenga, mengakibatkan mata pelajaran Geografi kurang diminati. Dalam hal ini guru memegang peranan yang sangat urgen sebagai modifikator yang dapat memodifikasi semua prilaku yang akan dimunculkan kepada kepada siswa-siswanya.


bebaskoro.blogspot.com
                               
Seperti dalam bagan tersebut, teori ini mengungkapkan bahwa setiap prilaku itu di pengaruhi oleh konsekuensinya. Setiap prilaku yang diperkuat akan diulang kembali oleh individu tersebut. Bila dalam pembelajaran seorang siswa memberikan respon maka seorang guru harus memberikan stimulus agar prilaku tersebut diulangnya kembali.
Contohnya jika dalam pembelajaran sub bab siklus air, seorang siswa sanggup menjawab proses terjadinya hujan, maka seorang guru harus memperikan reward supaya prilaku (menjawab) diulanginya lagi.
Agar pembelajaran Geografi lebih menarik, maka ada beberapa tindakan yang perlu diambil oleh seorang guru, diantaranya adalah:
a.       Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b.      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c.       Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d.      Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e.       Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
f.        Dalam pembelajaran, digunakan shaping (pembentukan).
Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu: Meningkatkan perilaku yang diinginkan, pembentukkan (shaping), Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Pembentukan terdiri dari dua komponen : penguatan deferensial (differential reinforcement) yaitu sebagian respon diperkuat dan sebagian yang lainya tidak, dan kedekatan suksesif (successive approximation) yakni fakta bahwa hanya respon-respon yang semakin sama dengan yang diinginkan oleh eksperimenterlah yang akan diperkuat.
Empat strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu:
1.      Memilih Penguatan yang efektif: tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak.
2.      Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu:  agar penguatan dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu.
3.      Memilih jadwal penguatan terbaik: menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat.
4.      Menggunakan penguatan negatif secara efektif: seorang guru mengatakan ”tulus, kamu harus menyelesaikan PR hidrologimu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran”, ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.
E.      Refleksi
Dari pemecahan masalah diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran Geografi dapat didesain dengan semenarik mungkin tergantung kratifitas seorang guru mata pelajaran tersebut. Penggunaan metode pembelajaran berdasarkan teori pengondisian operan dapat menjadi alternatifnya.
Pembelajaran Geografi dapat dilakuan dengan menggunakan pazel, dan disetiap pemasangan pazel yang sesuai siswa harus diberikan reward agar prilaku tersebut dapat diulang kembali pada pertemuan berikutnya.
Dengan mengaplikasikan beberapa metode dalam pendekatan behavoristik, pengondisian operan. Diharapkan pembelajaran Geografi disekolah menenga menjadi lebih efektif, efesien kreatif dan menyenangkan bagi siswa, sehingga para siswa dapat memahami dan mengingat materi dengan mudah dan selanjutnya sampai pada taraf pengaplikasian teori.

Daftar Pustaka
Burhanudin dan Esa Nur, Teori Belajar dan Pembelajaran; Ar-Ruz media:Malang. 2012
John W. Satrock,. Psikologi Pendidikan. PT Kencana Media Group: Jakarta. 2007
Margaret E. Bell Gredler,. Belajar dan pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 1994


Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 6:18 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..