Tuesday, November 13, 2012

Pendekatan-pendekatan Bimbingan Konsseling

Rochman Natawidjaja (1987:32) mendefinisikannya bahwa konseling adalah satu jenis pelayanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu, dimana yang seorang (yaitu konselor) berusaha membantu yang lain       (konseli) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang di hadapinya pada waktu yang akan datang. pendekatan bimbingan konseling pdf/ macam macam pendekatan bimbingan konseling/ pendekatan bimbingan dan konseling di sekolah/ fungsi dan pendekatan bimbingan konseling/ pendekatan konseling pdf/ pendekatan dalam konseling pdf/ pertanyaan tentang pendekatan bimbingan konseling/ pendekatan bimbingan konseling islam


Pakar lain mengungkapkan bahwa konseling itu merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada konseli supaya dia memperoleh konsep diri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang.


untuk memahami prilaku atau sikap dari konseli, diperlukan adanya pengamatan-pengamatan yang mendalam. Dalam hal ini tentu diperlukan adanya pendekatan-pendekatan yang khusus.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Jelaskan pengertian konseling.
2.      Jelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam konseling
1.3  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian konseling.
2.      Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam konseling.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Konseling
Konseling merupakan terjemah dari Counseling, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayan maupun sebagai teknik. Pelayan konseling merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan (counseling is the heart of guidance program) dan Ruth Strang menyatakan guidance is broader counseling is a most important tool of guidance. (Ruth Strang,1958). Jadi konseling merupakan inti dan alat yang paling penting dalam bimbingan.[1]
Selanjutnya, Rochman Natawidjaja (1987:32) mendefinisikannya bahwa konseling adalah satu jenis pelayanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbale balik antara dua orang individu, dimana yang seorang (yaitu konselor) berusaha membantu yang lain ( konseli) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.
Pakar lain mengungkapkan bahwa konseling itu merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada konseli supaya dia memperoleh konsep diri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang. Dalam pembentukan konsep diri ini berarti bahwa dia memperoleh konsep yang sewajarnya mengenai :
a)      Diri sendiri
b)      Orang lain
c)      Pendapat orang lain tentang dirinya
d)     Tujuan-tujuan yang hendak di capainya, dan
e)      Kepercayaannya. (Moh. Surya,1988:38)[2]
Prayitno (1983:38) mengemukakan konseling adalah pertemuan empat mata antara konseli dan konselor yang berisi usaha yang laras, unik, dan manusiawi, yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.
Dengan membandingkan ketiga pengertian tentang konseling seperti yangg telah dikemukakan diatas, dapat ditarik suatu pengertian bahwa konseling adalah suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau suatu upaya bantuan yang  dilakukan dengan empat mata atau tetap muka, antara konselor dan konseli yang berisi usaha yang laras unik dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku. Agar konseli memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan mungkin pada masa yang akan datang.
Untuk memudahkan ingatan kita tentang pengertian umum konseling, dibawah ini dikemukakan huruf-huruf penyuluhan dan konseling yang dijadikan akronim sebagai unsure-unsur pokok yang ada dalam usaha konseling (prayitno 1983:1987:36 & 2004:131), yaitu:
P = pertemuan
E = empat mata
N = klien
Y = penyuluh
U = usaha
L = laras
U = unik
H = human
A = ahli
N = norma
            Dengan memasukkan unsur-unsur diatas dapat dikatakan bahwa penyuluhan merupakan pertemuan empat mata antara klien dan konseling yang berisi uasaha, dengan cara yang laras, unik dan human (manusiawi)yangdilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.
            Sedangkan pengertian umum konseling dibawah ini dikemukakan huruf-huruf konseling yang dijadikan akronim sebagai unsur- unsur pokok yang ada dalam usaha konseling.(prayitno,2004:131), yaitu: 
            K = Kontak
O = Orang
N = Menangani
S = Masalah
E = Expert (ahli)
            L = Laras
            I = Integrasi
            N = Norma
            G = Guna
            Dengan demikian pengertian konseling adalah kontak antara dua orang (yaitu konselor dan konseli)untuk menangani masalah konseli, dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi konseli.
            Oleh karena itu konseling merupakan bentuk khusus dari usaha bimbingan, yaitu suatau pelayanan yang diberikan konselor kepada seseorang secara perseorangan atau kelompok. Dalam proses konseling ini, orang yang diberi konseling itu biasanya disebut klien atau konseli. Dengan demikian,konseling berlangsung dalam suasana pertemuan antara konselor dan klien atau konseli (timbal balik atau kontak antara konselor dengan konseli). Usaha yang dilakukan didalam suasana konseling ini hendaklah merupakan usaha yang laras, yaitu yang seimbang dan sesuai dengan masalah yang dialami oleh konseli, dengan kemampuan di masyarakat dan dengan kemampuan konselor sendiri.[3]
2.2  Pendekatan-Pendekatan Konseling
Pendekatan konseling (Counseling approach) disebut juga teori konseling merupakan dasar bagi suatu praktek konseling. Pendekatan itu dirasakan penting karena jika dipahami berbagai pendekatan atau teori-teori konseling, akan memudahkan dalam menentukan arah proses konseling.Akan tetapi untuk kondisi Indonesia memilih satu pendekatan secara fanatic dan kaku adalah kurang bijaksana. Hal ini disebabkan satu pendekatan konseling biasanya dilatarbelakangi oleh paham filsafat tertentu yang mungkin saja tidak sesuai sepenuhnya dengan paham filsafat di Indonesia. Disamping itu mungkin saja layanan konseling yang dilaksanakan berdasarkan aliran tertentu kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi social, budaya dan agama.
Untuk mengatasih hal tersebut maka pendekatan yang dilakukan dalam konseling bukanlah pendekatan atau teori tunggal (single theory) untuk semua kasus yang diselesaikan. Akan tetapi harus dicoba secara kreatif memilih bagian-bagian dari beberapa pendekatan yang relevan, kemudian secara sintesis-analitik diterapkan kepada kasus yang dihadapi. Pendekatan seperti itu dinamakan Creative-Synthesis-Analytic(CSA). Allen E. Ivey (1980) Menyebut pendekatan CSA ini dengan nama Eclectic Approach yaitu memilih secara selectif bagian-bagian teori yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan konselor.
Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa pendekatan CSA diasumsikan sesuai dengan kondisi Indonesia. Artinya kita tidak memilih satu pendekatan saja untuk semua kasus, Akan tetapi memilih bagian-bagian teori   yang berbeda secara selektif untuk di manfaatkan terhadap kasus tertentu. Beberapa alasan di bawah ini dapat di pertimbangkan :
1)      Setiap teori mempunyai landasan filosifis tertentu yang mungkin bertolak belakang dengan faham Filsafat Pancasila.
2)      Kalau di gunakan satu pendekatan saja untuk semua kasus, di khawatirkan konselornya akan kaku dan pemecahan masalah belum tentu tuntas.
3)      Dengan pendekatan satu teori saja, kemungkinan konselor akan memaksakan diri dan mencocok-cocokan teori tersebut terhadap kasus. Hal ini bisa menyebabkan konseling berantakan dan klien lari.
4)      Cara CSA membuat konselor lebih kreatif dan luas wawasannya.
5)      Dapat memilih secara kreatif-analitik beberapa aliran konseling ataua spek-aspek dari aliran itu yang relevan dengan kasus yang akan dibantu.
Pendekatan CSA mirip dengan Rational Approach yang di kemukakan oleh C.H Patterson (1980) yang menerangkan sebagai berikut.

1.      Pendekatan Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis dipelopori oleh seorang dokter psikiatri yaitu Sigmund freud pada tahun 1896. Ia mengemukakan pandanganya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketaksadaran. Sedangkan alam kesadarannya dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul ditengah laut. Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkan alam ketaksadaran manusia.
Pengertian psikoanalisis mencakup tiga aspek:
(1) Sebagai metode penelitian proses-proses psikis
(2) Sebagai suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis
(3) Sebagai Teori Kepribadian
Psikoanalisa mulai muncul sekitar tahun 1890, sebagai salah satu cabang psikiatri suatu cabang pengobatan mengenai “mental psikiatri”.Usaha yang sungguh-sungguh telah dilakukan oleh Freud selama 40 tahun.Pengobatan ini lebih banyak ditekankan pada kasus yang bersifat individual, dari pada bersifat cara-cara ilmiah.[4]
Di dalam gerakannya, Psikoanalisis mempunyai beberapa prinsip yakni :
(1)   Prinsip konstansi, artinya bahwa kehidupan psikis manusia cenderung untuk mempertahankan kuantitas konflik psikis pada taraf yang serendah mungkin, atau setidak-tidaknya taraf  yang stabil. Dengan perkataan lain bahwa kondisi psikis manusia cenderung dalam keadaan konflik yang permanen (tetap).
(2)   Prinsip kesenangan, artinya kehidupan psikis manusia cenderung menghindarkan ketidak senangan (pleasure principle).
(3)      Prinsip realitas, yaitu prinsip kesenangan yang disesuaikan dengan keadaan nyata.
Masalah kesadaran dan ketaksadaran;
Kehidupan psikis manusia, menurut freudterdiri atas dua bagian, yaitu the conscious (kesadaran) dan the unconscious (ketaksadaran). Kesadaran memiliki arti yang relative sangat kecil dalam dinamikatingkah laku.Apa yang diketahui oleh seseorang tentang tingkah laku dan motifnya hanyalah potongan dan aspek yang dangkal saja dari keseluruhan kepribadianya. Dibawah kesadaran ada semberdaya, yaitu “ketak sadaran”, sebagai tenaga pendorong yang nyata bagi kegiatan-kegiatan manusia.Antara kesadaran dan ketaksadaran teradi pertentangan yang tidak ada henti-hentinya.Sejak kecil orang telah belajar bahwa apa-apa yang berhubungan dengan dorongan sex, memalukan, ditekanya kedalam alam taksadar.Namun demikian dorongan itu tetap hidup dan berusaha dengan segala daya, mencegah hambatan the ego.[5]
Dalam menyusun teorinya, Freud selalu meninjau apa yang dirumuskannya terlebih dahulu. Karenanya, ajaran Freud menurut Heidbreder (1933; 387) takpernah menjadi doktrin yang kaku.
Dalam teorinya yang baru, organisasi psyche ini terdiri dari tiga konsep; the id, the ego, the suer ego.Adapun hubungan antara teori yang baru ini dengan teori kesadaran tidaklah begitu jelas.Akan tetapi kemudian dikatakan bahwa the id  lebih dekat hubunganya dengan konsepsi lama tentang ketaksadaran. Selanjutnya Calvin S. hall mengemukakan bahwa the id  berfungsi memenuhi prinsip hidup yang  pertama yang disebut Freud “the pleasure principle”.
The ego dapat dikatakan tidak dibawah sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar yang berfungsi memelihara organisme secara keseluruhan. Menurut Calvin s. hall dan G. lidzey, the ego eksekutif dari pada organisasi kepribadian, mengintegrasikan ketiga system tadi, agar terjadi keharmonisan kepribadian sehingga terjadi transaksi yang efektif dengan lingkungan. The ego berpegang pada “reality principle”.[6]
The superego, merupakan nilai-nilai atau norma tradisional dari masyarakat yang ada dalam “dunia dalam”, yang telah diinterpretasikan oleh orang tua. Superego ini terdairi atas ego ideal dan conscience, yang menurut Ruth L. Munreo, masuknya dengan jalan: identifies with the parents. Their image, become introjected-incoporated into the child’s own psyche”.
Adapun fungsi dari super ego adalah 1). Menghambat dorongan the id, terutama dorongan sex. 2). Membujuk agar mengganti tujuan yang realistik dengan tujuan yanng moralistik, 3). Mengejar kesempurnaan.
Demikian ketiganya tadi (the id, the ego dan superego) merupakan “total personality”, yang apabila terdapat pertentangan yang satu dengan yang lainya, akan menyebabkan terjadinya “mulajusted”. Karenanya orangnya bisa kecewa yang disebabkan oleh diri ataupun lingkunganya, yang tidak memungkinkan dapat berhubungan dengan lingkungan ataupun dirinya sendiri dengan efesien. Apabila individu tersebut bermental sehat, ketiga sistem tersebut membentuk organisasi yang harmonis, yang dapat bekerjasama secara efesien dengan mengadakan transaksi yang memuaskan dengan lingkungannya. Adapun tujuan transaksi ini adalah pemuasan kebutuhan dan keinginan manusia.[7]
Freud yang dipengaruhi oleh Filsafat Determinisme dan positivism abad XX, menganggap organism manusia sebagai suatu komplek sitem energy yang mendapat energy dari makanan. Energy tersebut digunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti sirkulasi, pernafasan, gerakan otot, mengamati, mengingat, berpikir, dan sebagainya. Dia menyebut energy dalam psykis itu sebagai psychic energy. Energy itu dapat pindah kepada energy fisiologis dan sebaliknya. Sebagai titik temu energy tubuh dengan kepribadian adalah Id.id mengandung insting yang mendinamiskan kepribadian.[8]
a.       Interpretasi mimpi
Mimpi adalah pernyataan kesadaran dan merupakan pemenuhan keinginan dan “primitive modes of thingking”.
      Mimpi tiada lain expresi tenaga yang “represed” yang ingin mendapatkan kembali tempatnya dalam kesadaran. Demkianlah mimpi adalah ilustrasi yang indah sekali dari mekanisme dorongan instinctive yang bertentangan dengan ego, yang dimanifestasikan keluar. Karena hambatan-hambatan dalam masyarakat untuk merealsir dorongan-dorongan instinktif, maka terjadilah penyaluran dorongan tadi kearah lain. Dorongan-dorongan sex adalah sumber tenaganya, sehingga oleh freud digambarkan bahwa mimpi itu adalah gambaran simbolik dari keinginan sex.[9]
      Tiap mimpi tentu mempunyai arti yang berbeda-beda. Kebanyakan mimpi, terutama mimpi pada anak-anak adalah “direct fulfillment of wishes”. Dalam mimpi ini juga terjadi simbolisme. Tentu saja tiap symbol yang mncul memiliki arti yang berbeda pula. Biasanya symbol ini berasal dari pengalaman pribadi dari individu yang telah bermimpi itu, yang kadang memiliki arti yang dengan orang lain.
      Menurut freud mimpi adalah merupakan “pernyataan keinginan”. Mimpi itu mempunyai berbagai ketentuan, dan dapat juga ditafsirkan bermacam-macam. Interpretasi mimpi dimaksudkan sebagai proses pengenalan kembali seluruh kecenderungan diluar kesadaran.
      Interpretasi mimpi hendaknya dilakukan bukan hanya pada satu mimpi, tapi justru pada urutan beberapa mimpi.
b.      Teori Libido
Freud mempunyai prinsip bahwa “the child is father of man”. Freud melihat adanya pengaruh masa kecil kepada kehidupan masa dewasa. Dalam memahami seseorang dia selalu mencari akarnya pada masa anak-anak. Menurut freud semua  yang dilakukan individu adalah manifestasi dari kehidupan seksual pada masa anak-anak.dari berbagai bahan analisa, dan observasi terhadap anak-anak dan bayi, Freud merumuskan tingkat pertumbuhan individu. Pada masa bayi muncul berbagai respon yang menunjukkan adanya kecenderungan ke arah sexualitas. Misalnnya menghisap ibu jari adalah perbuatan yang ada hubunganya dengan sexualitas. Pernyataan dari dorongan sex pada masa kana-kanak ini bersifat polymorph. Istilah ini “istilah sex” tidak selalu harus dihubungkan dengan organ sex, akan tetapi pada  masa kanak-kanak lebih banyak dihubungkan dengan kehidupan cinta (love).[10]
Energy cinta, atau yang bisa disebut juga dengan “libido” pada suatu masa akan diarahkan kepada dirinya sendiri, dimana dirinya sendiri menjadi objek kasihanya sendiri. Namun pada masa selanjutnya masyarakat, lingkungan dan orang tuanya memaksa dia untuk mencari obyek lain. Biasanya dia akan mengarahkan kepada jenis kelamin yang berbeda.apabila individu telah dapat mengatasi semua tingkatan tadi, tercapailah kesetabilan, integrasi dari berbagai komponen. Namun apabila individu gagal dalam penyesuaiannya, akan terjadi regressi, yaitu mundur kembali pada tingkatan sebelumnya yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya.[11]
c.       Insting
Insting adalah pernyataan psikologis dari suatu sumber perangsang somatis (badaniyah) yang dibawa sejak lahir. Suatu insting merupakan sejumlah energy psikis yang disebut oleh Freud sebagai suatu tuntutan yang membuat manusia bekerja. Freud menggolongkan insting atas dua jenis yakni: insting hidup dan insting mati.
Insting hidup adalah kumpulan libido yang mendorong kehidupan manusia, seperti libdo seksual dan libido lapar dan haus. Energy libido-libido tersebut dapat menguasai ego (aku), sehingga dapat bertindak amoral dan asocial dalam pemuasanya. Sedangkan libido mati (insting destruktif) yaitu keinginan manusia untuk menyiksa diri atau orang lain, dan keinginan untuk mati (bunuh diri). Menurut istilah freud, insting mati itu adalah hidup menuju kepada kematian. Bentuk lain penjabaran insting mati dikemukakan sebagai dorongan agresif, merusak diri, dan dapat diubah menjadi objek pengganti seperti berkelahi dan tawuran.
d.      Kecemasan
Dorongan untuk pemuasan kebutuhan sebagaian besar menguasai dinamika kepribadian individu. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak selamanya kesampaian. Sebab individu sering menghadapi rintangan atau hal yang tak menyenangkan yang dating dari lingkungan, sehingga pemenuhan kebutuhan tak terjadi. Hal demikianlah yang menyebabkan timbulnya kecemasan.[12]
Ada tiga macam pembedaan kecemasan yaitu;
1.      Kecemasan ralitas, yaitu ketakutan yang berasal dari luar; ketakutan jenis ini berasal dari ego.
2.      Kecemasa neurotis, yakni kecemasan yang bersumber dari id, jika individu melakukan sesuatu yang mengakibatkan dia bisa dihukum.
3.      Kecemasan moral, yaitu kecemasan yang bersumber pada sumber ego, selanjutnya kecemasan ini disebut kecemasan kata hati. Kecemasan ini disebabkan oleh pertentangan moral yang baik dengan hal yang dapat menentangnya.
Pembentukan kepribadian individu banyak dipengaruhi oleh kehidupan masa kecil. Oleh karena itu freud mengatakan the child id the father of man, ini artinya bahwa masa anak-anak adalah adalah bapak dari manusia. Perkembangan kepribadian individu dipengaruhi oleh sumber ketegangan, yaitu; ketegangan yang bersumber pada proses perkembangan fisiologis, frustasi, konflik, ancaman.
Sebagai akibat dari segala bentuk ketenggangan itu maka individu belajar untuk usaha keluar dari semua ketegangan tersebut, yaitu dengan dua cara; identifikasi, dan pemindahan objek.
Identifikasi berarti seorang meniru cara atau metode orang lain dan cara itu dipakai untuk menjadi bagian kepribadianya agar individu tersebut terhindar dari ketegangan (kekecewaan). Pemindahan objek terjadi karena insting mendapat rintangan maka dialihkan objek konteksisnya. Apabila pemindahan objek itu mempunyai nilai yang tinggi disebut sublimasi. Bentuk lain dari reaksi emosional individu terhadap kegagalan dan ketegangan adalah mekanisme pertahanan diri. Yang termasuk mekanisme pertahanan diri adalah; tekanan, proyeksi, pembentukan reaksi, fikasi, dan regresi.[13]
Setiap kegiatan konseling pasti diwarnai oleh filsafat dan teori yang dianut oleh kegiatan konseling itu sendiri. Demikian pula aliran psikoanalisis ini mempunyai cara tersendiri dalam kegiatan konseling atau terapinya.
Berikut akan saya uraikan garis-garis besar proses konseling aliran psikoanalisa dengan jabaran: a) tujuan konseling, b) fungsi dan peranan konselor, c) teknik dan proses konseling.
a.       Tujuan konseling
Tujuan konseling aliran psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal yang tak disadari menjadi sadar kembali (menghayati pengalaman-pengaaman  masa kecilnya antara umur 2-5 tahun).
b.      Fungsi konselor
Konselor bersifat anonym, artinya konselor berusata tidak dikenal oleh klien, dan sidikit mengeluarkan perasaan dan pengalamanya, agar klien dengan mudah memantulkan perasaanya yang kemudian akan dianalilis oleh konselor. Konselor berfungsi untuk mempercepat penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketaksadaran.
c.       Teknik konseling
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisa yaitu;
1.      Asosiasi bebas.
Klien diupayakan menjernihkan dan mengikis pemikiran sehari-hari, sehingga klien mampu mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
2.      Interpretasi.
Menafsirkan atau mnginterpretasikan asosiasi bebas, mimpi, resistensi, trasferensi, dan tranferensi klien. Sehingga ego klien dapat mencerna materi baru dan mempercepat proses penyadaran.
3.      Analisis mimpi.
Yaitu suatu teknik untuk membuka hal-hal yang takdisadari dan memberikan kesempatanklien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4.      Analisis resistensi.
Analisis resistensi ditunjukan untuk untuk menyadarkan klien terhadap alas an-alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensinya.
5.      Analsis transferensi
Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan tranferensinya agar terungkap neurosisnya terutama pada usia 5 ( lima) tahun pertama.
2.      Terapi Terpusat Pada Klien
Client-Centered Therapy sering juga disebut Psikoterapi Non Directive adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal) dengan actual self (diri klien sesuai kenyataan yang sebenarnya).[14]
C.R. Rogers, sebagai tokoh utama penyuluhan yang berpusat pada klien (1942), memandang manusia pada dasarnya rasional, sozialized, ingin menuju realistis. Manusia dipandang memiliki martabat tinggi, memiliki hak untuk menyatakan keluhan dan isi hatinya.[15]
Secara psikologis individu dianggap memiliki kapasitas untuk menghayati kesadarannya dalam mengadakan penyesuaian diri, dan sebaliknya, mampu menjauhkan diri dari ketidak sesuaian. Secara filosofis, manusia dipandang mampu membimbing, mengontrol dan mengatur dirinya sendiri pada kondisi tertentu.
Didasarkan pada filsafat yang dianutnya, rogers tidak menggunakan kata pasien sebagai pengganti kata klien. Menurutnya, martabat klien berbeda dengan martabat pasien. Penyuluhan dipandang sebagai usaha bersama antara klien dan penyuluh, dank lien merupakan “tenaga ahli” tentang dirinya sendiri. Bukanlah penyuluh yang “tahu” tentang diri klien, dan tidak seperti dalam hubungan pasien dengan dokter.[16]
C.R. rogers memandang manusia sebagai mahluk yang memiliki potensi untuk tumbuh dan mengaktualisasikan diri, memiliki martabat yang tinggi. Hal ini tercermin dalam penyuluhan yang dikembangkan olehnya, yang memberikan kebebasan penuh pada klien untuk mengungkapkan isi hati dan perasaanya.
Rogers telah melakukan pengamatan terhadap berbagai individu dan mengungkapkan ternyata terlihat adanya inti yang bersifat umum, yang dapat dilukiskan sebagai usaha : becoming a person, freedom to be, courage to be, dan dan learning tobe free.
Berkenaan dengan pengalaman “learning to be free”, rogers mengungkapkannya sebagai aspek utama dalam penyuluhan. Terlihat dari individu yang ingin lebih otonom, lebih spontan dan menjadi lebih yakin akan dirinya. Dalam proses penyuluhan yang efektif, klien memperlihatkan peningkatan penyadaran diri dan dapat mengambil keputusan sendiri. Bahkan menjadi arsitek atas perkembangan kepribadianya sendiri, bebas memilih dan berkeinginan.
Apabila ditelusuri prosesnya terlihat beberapa karakteristik pengalaman yang tampak pada klien. Perasaan takut dalam diri klien yang terus dipertahankan, dipandang sebagai salah satu unsure dirinya sendiri. Inner communication diubah menjadi lebih bebas, agar mampu menerima perubahan dari massa kemasa.
Ciri-ciri terapi ini adalah:
1.      Ditunjukan kepada klien yang sanggup memecahkan masalahnya agar tercapai kepribadian yang terpadu.
2.      Sasaran konseling adalahaspek emosi dan perasaan (feeling) bahkan segi intelektualnya.
3.      Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi social psikologis masa kini (here and now), dan bukan pengalaman masa lalu.
4.      Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan antara ideal-self dengan actual-self.
5.      Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh klien, sedangkan konselor adalah pasif-reflektif, artinya tidak semata-mata diam dan pasif akan tetapi berusaha membantu agar klien aktif memecahkan masalahnya.
a.       Tujuan konseling
Tujuan konseling metode ini adalah untuk membina kepribadian klien scara integral, berdiri sendiri dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri.
Kepribadian yang integral adalah struktur kepribadianya tidak terpecah artinya sesuai antara gambaran tentang diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self).
b.      Teknik Konseling
Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor ketimbang teknik. Dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbuatan konselor. Dalam pelaksanaan teknik konseling amat diutamakan sifat-sifat konselor sebagai berikut;
1.      Aceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.
2.      Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata, perbuatan dan kosisten.
3.      Understanding konselor harus dapat secara akurat dan memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalam diri klien itu.
4.      Nonjudgmental artinya tidak member penilaian terhadap klien, akan tkonselor selalu objektif.


3.      Terapi Gestalt.
Terapi ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl (189-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan ekstensialisme serta psikologi gestalt.
Menurut perls individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian-bagian atau organ-organ semata. Individu yang sehat adalah yang seimbang antara ikatan organism dengan lingkungan. Karena itu perentangan antara keberadaan social dengan biologis merupakan konsep dasar terapi geslt.[17]
Menurut perls banyak sekali manusia yang mencoba mengatakan apa yang seharusnya dari pada apa yang sebenarnya. Perbedaan aktualisasi gambaran diri dan aktualisasi diri benar-benar merupakan kritis pada manusia.            
1.      Tujuan konseling
Menurut teori ini, tujuan konseling adalah membantu klien menjadi individu yang merdeka dan berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan; 1) usaha membantu penyadaran klien tentang apa yang dilakukanya. 2) membantu penyadaran tentang siapa dan hambatan dirinya. 3) membantu klien untuk menghilangkan hambatan dalam pengembangan penyadaran diri.
4.      Terapi behavioral.
Para konselor behavioral memandang kelainan prilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mengganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan prilaku berubah menjadi positif.
Pavlov mengungkapkan berbagai kegunaan teori dalam tekniknya dalam memecahkan masalah tingkahlaku abnormal seperti hysteria, obsesional neoreus dan paranois.[18]
1.      Tujuan konseling
Terapi ini adalah untuk membantu klien membuang respon-respon lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru dan lebih sehat. Pendekatan ini ditandai oleh;
a.       Fokusnya pada prilaku yang tampak dan spesifik.
b.      Pencermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment (perlakuan).
c.       Formulasi prosedur treatment khusus sesuai dengan masalah khusus.
d.      Penilaian objektif mengenai hasil konseling.
Tujuan terapi behavioral adalah untuk memperoleh prilaku baru, mengeliminasi prilaku yang maladaptive dan memperkuat serta mempertahankan prilaku yang diinginkan.
2.      Teknik-teknik konseling
Tehnik konseling itu harus berdasarkan kebutuhan klien dan tidak ada satu teknikpun yang harus  digunakan terus menerus pada permasalahan yang berbeda. Berikut adalah teknik-teknik konseling behavioral.
a.       Desensitisasi sistemik
Dalam teknik ini menggunakan stimulus, dimana perasaan yang menimbulkan kecemasan secara berulang-ulang dpasangkan dengan keadaan releksasi. Sehingga individu akan merespon dan secara perlahan akan mengeliminasi kecemasan tersebut.
b.      Assertive training
Assertive training adalah suatu teknik yang dapat membantu dalam hal;
1.      Tidak dapat menyatakan kemarahanya
2.      Membantu orang-orang yang kadar kesopanannya berlebihan,
3.      Mereka yang mempunyai kesulitan untuk berkata “tidak”
4.      Sulit mengatakan cinta dan respon positif lainya
5.      Merasa tidak punya hak untuk berpendapat.
Dalam teknk ini konselor konselor berusaha memberikan keberanian kepada klien, sehingga mampu berkomunikasih dengan baik. Pelaksanaan teknik ini menggunakan bermain peranan. Semisal, konselor menjadi atasan yang galak dank lien menjadi seorang bawahanya, Dan sebagainya.
c.       Aversion therapy
Teknik ini bertujuan untuk menghukum prilaku yang negative dan memperkuat prilaku positif.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
 Dari makalah kami dapat disimpulkan bahwa pengertian konseling adalah: suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau suatu upaya bantuan yang  dilakukan dengan empat mata atau tetap muka, antara konselor dan konseli yang berisi usaha yang laras unik dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku. Agar konseli memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan mungkin pada masa yang akan datang.
Sedangkan untuk memahami prilaku atau sikap dari konseli, diperlukan adanya pengamatan-pengamatan yang mendalam. Dalam hal ini tentu diperlukan adanya pendekatan-pendekatan yang khusus. Antara lain:
a.       Pendekatan Psikoanalisis memiliki arti  Sebagai metode penelitian proses-proses psikis, Sebagai suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis, sebagai teori kepribadian.
b.      Terapi Terpusat Pada Klien adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal) dengan actual self (diri klien sesuai kenyataan yang sebenarnya).
c.       Terapi Gestalt Terapi ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl (189-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan ekstensialisme serta psikologi gestalt.
d.      Terapi Behavioral, banyak dari Para konselor behavioral memandang kelainan prilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari.

selamat membaca, smoga bermanfaat.
Disusun Oleh :hamid baskoro
BAB I
PENDAHULUAN

DAFTAR PUSTAKA

Dewa ketut sukardi and Nila Kusuma wati.2008. Proses Bimbingan dan Konseling disekolah. PT Rineka Cipta.Jakarta.
M.D. Dahlan.1985. Beberapa pendekatan dalam penyuluhan. cv. Diponegoro. Bandung.
Sofyan S.willis.2007 konseling individual teori dan praktek. Alfabeta.bandung.


[1] Dewa ketut sukardi,nila kusuma wati.hal.4
[2] Ibid.hal.5
[3] Ibid.hal.6
[4]M.D. Dahlan. Beberapa pendekatan dalam penyuluhan.Hal. 23-24
[5]Ibid. 26
[6]Ibid. 27
[7]Ibid 28
[8]Sofyan S.w. konseling individual teori dan praktek. Hal. 58
[9] Opcit. 28
[10] M.D. dahlan. Hal. 30
[11] Ibid. 31
[12]Ibid. 59
[13]Ibid. 60
[14]Ibid. 63
[15]M.D. dahlan. Hal.39
[16] Ibid. 39
[17]Sofyan s. w;konseling individual. Hal. 66
[18] M.d. dahlan. Hal. 60

Posted by: verbal[dot]id
verbal, Updated at: 7:04 PM

0 komentar

Post a Comment

Berikan Komentarmu di Sini, Untuk Beropini, Bertukar Ide dan Sekedar Sharing..